Legenda: “Mentiko Betuah” (Cerita Rakyat Aceh)

Tapi dengan syarat, Kakanda bersedia memberinya uang sebagai modal untuk berdagang”.

Sang raja berfikir sejenak lalu menjawab: “Baiklah, Dinda! Usulan Dinda aku terima.

Tapi dengan syarat, uang yang aku berikan kepada Rohib tidak boleh ia habiskan kecuali untuk berdagang”.

“Bagaimana pendapatmu, Anakku?” Permaisuri balik bertanya kepada Rohib.

“Baiklah, Bunda! Rohib bersediah memenuhi syarat itu. Terima kasih, Bunda!” jawab Rohib.

Kemudian sang raja berkata: “Jika kamu melanggar lagi, maka tidak ada ampun bagimu, Rohib!”

Akhirnya Rohib pun berangkat untuk pergi berdagang. Dia menyusuri satu kampung ke kampung lainnya.

Banyak juga rintangan, hingga harus menyusuri hutan belantara.

Pada suatu ketika, ketika sedang berjalan, Rohib bertemu dengan anak-anak kampung yang sedang menembak burung dengan ketapel.

Dia pun berkata: “Wahai, Saudara-saudaraku! Janganlah kalian menganiaya burung itu, karena burung itu tidak berdosa”

“Hei, kamu siapa? Berani-beraninya kamu melarang kami,” bantah salah seorang dari anak-anak kampung itu.

“Jika kalian berhenti menembaki burung itu, aku akan memberi kalian uang,” tawar Rohib.

Anak-anak kampung itu menerima tawaran Rohib. Kemudian mereka pergi dan tidak menembak burung lagi.

Rohib melanjutkan lagi perjalanan. Tak diduga ia menemukan lagi orang-orang kampung yang sedang memukuli seekor ular.

Masih sama, Rohib juga tidak tega melihat perbuatan mereka tersebut.

Ia kemudian memberikan uang kepada orang-orang tersebut agar berhenti menganiaya ular itu.

Kemudian dia melanjutkan lagi perjalanannya menyusuri hutan lebat menuju ke sebuah perkampungan.

Hal yang sama terus terjadi, selama dalam perjalanannya, ia selalu memberi uang kepada orang-orang yang menganiaya binatang,

sehingga tanpa disadarinya uang yang seharusnya dijadikan modal berdagang sudah habis.

Pada akhirnya dia mulai sadar, dan mulai berfikir keras bagaimana jika ia pulang ke istana.

Tentu ayahnya akan sangat marah dan akan menghukumnya. Apalagi ia telah dua kali melakukan kesalahan besar, pasti ayahnya tidak akan mengampuninya lagi.

Karena takut dimarahi ayahnya, dan merasa capek setelah berjalan seharian, akhirnya Rohib memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang.

Dia pun lalu duduk di atas sebuah batu besar yang ada di bawah pohon itu sambil menangis tersedu-sedu.

Tanpa diduga, tiba-tiba seekor ular besar mendekatinya. Rohib sangat ketakutan, mengira dirinya akan dimangsa ular itu.

Tapi ada hal aneh yang terjadi, ternyata sang ular tadi berkata: “Jangan takut, Anak muda! Saya tidak akan memakanmu”

Ketika mengetahui bahwa sang ular itu dapat berbicara, rasa takut Rohib pun mulai hilang.

Masih merasa heran, Rohib pun bertanya: “Hai, Ular besar! Kamu siapa? Kenapa kamu bisa berbicara?

Ular pun menjawab: “Aku adalah Raja Ular di hutan ini”.

“Kamu sendiri siapa? Kenapa kamu bersedih?” ular itu balik bertanya kepada si Rohib.

Rohib pun berkata: “Aku adalah si Rohib”. Sesaat kemudian dia mulai menceritakan semua masalahnya dan semua kejadian yang telah dialami selama dalam perjalanannya.

“Kamu adalah anak yang baik, Hib,” kata Ular itu dengan akrabnya.

“Karena kamu telah melindungi hewan-hewan di hutan ini dari orang-orang kampung yang menganiayanya,

aku akan memberimu hadiah sebagai tanda terima kasihku,” tambah ular itu lalu kemudian mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.

Rohib menjadi terkejut dan menanyakan benda apakah itu.

“Benda itu adalah benda yang sangat ajaib. Apapun yang kamu minta, pasti akan dikabulkan.

Namanya Mentiko Betuah,” jelas Ular itu, lalu pergi meninggalkan si Rohib.

Rohib masih duduk di batu besar tadi. Dia masih asyik mengamati Mentiko Betuah itu.

“Waw, hebat sekali benda ini.

Berarti benda ini bisa menolongku dari kemurkaan ayah,” gumam Rohib dengan perasaan gembira.

→ "Bersambung:" Awal | ← Sebelum | ... | 2 | 3 | Lanjutannya → | Akhir