Legenda: “Putra Mahkota Amat Mude” (Cerita Rakyat Aceh)

Dinda tentu masih ingat doa Kanda dulu sebelum kita mempunyai anak”

Sang Permaisuri diam sejenak. Setelah mendengar ungkapan sang Raja, hati permaisuri menjadi sedih.

Walau menyadari hal itu, permaisuri tetap berharap agar sang Raja dapat sembuh dan dipanjangkan umurnya.

Untuk mengobati penyakit sang raja, kemudian semua tabib diundang ke istana.

Tapi apa hendak dikata, tak seorang pun yang berhasil menyembuhkannya.

Keadaan main memburuk, penyakit sang Raja semakin hari bertambah parah. Hingga pada suatu hari, sang raja yang arif dan bijaksana itu pun wafat.

Awan duka menyelimuti seluruh penjuru kerajaan. Anggota keluarga sangat berduka, demikian juga seluruh rakayat Negeri Alas juga bersedih.

Lalu tinggallah Amat Mude sebagai pewaris tunggal Kerajaan Negeri Alas.

Namun mengingat usianya yang masih kecil dan belum sanggup melakukan tugas-tugas kerajaan, maka diangkatlah Pakcik Amat Mude yang bernama Raja Muda menjadi raja sementara Negeri Alas.

Karena dia sudah menjadi seorang raja, apapun perintah Pakcik Amat Mude yang bernama Raja Muda pasti dipatuhi oleh seluruh rakyat..

Fakta inilah yang membuatnya enggan digantikan kedudukannya sebagai raja oleh Amat Mude.

Oleh sebab itu kemudian berbagai tipu muslihat pun ia lakukan. Awalnya, sang Raja memindahkan Amat Mude dan ibunya ke ruang belakang yang semula tinggal di ruang tengah.

Dengan alasan, Amat Mude yang masih kecil sering menangis, sehingga mengganggu setiap acara penting di istana.

Lalu niat jahat Raja Muda semakin hari semakin jelas. Pada suatu hari, ia mengumpulkan beberapa orang pengawalnya di ruang sidang istana.

Dia berkata: “Wahai, Pengawal! Besok pagi-pagi sekali, buang permaisuri dan anak ingusan itu ke tengah hutan!”

Mendengar hal itu, pengawal kerajaan menjadi heran. Tapi memang niat jahatnya sudah membara dia tetap ingin membuang Amat Mude dan ibunya.

Karena dia tidak ingin suatu hari kelak Amat Mude akan merebut kekuasaannya.

Pengawal pun berkata: “Tapi, Baginda. Bukankah Putra Mahkota Amat Mude pewaris tahta kerajaan ini”

Tapi Raja Muda tambah murka, dia pun tetap berkeras dan mengancam semua pengawal kalau tidak melaksanakan perintahnya.

Karena diancam raja, tak seorang pun pengawal yang berani lagi angkat bicara,

karena jika berani membantah dan menolak perintah tersebut, mereka akan mendapat hukuman berat.

Lalu besoknya, pergilah para pengawal tersebut mengantar permaisuri dan Amat Mude ke tengah hutan.

Keduanya pun ditinggalkan di tengah hutan dengan bekal seadanya.

Disana ibu dan anak membuat sebuah gubung kecil di bawah sebuah pohon rindang, untuk melindungi diri dari panasnya matahari dan dinginnya udara malam.

Hidup mereka berjalan sangat memprihatinkan. Demi bertahan hidup, mereka memanfaatkan hasil-hasil hutan yang banyak tersedia di sekitar mereka.

Walau begitu mereka terus berusaha dan bertahan.

Hingga usia Amat Mude telah berumur 8 tahun.

Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan.

Hingga pada suatu hari, ketika sedang bermain-main, Amat Mude menemukan cucuk sanggul ibunya.

Diambilnya cucuk sanggul itu dan dibuatnya mata pancing.

Setelah membuat pancing, kemudian Amat Mude pergi memancing di sebuah sungai yang di dalamnya terdapat banyak ikan.

Dengan cepatnya, ia telah memperoleh lima ekor ikan yang hampir sama besarnya dan segera membawanya pulang.

Karena melihat anaknya membawa banyak ikan, sang ibu menjadi sangat senang.

Ibunya pun memuji dan mengapresiasi keahlian anaknya yang sungguh di luar dugaan sang ibu.

Mereka pun tersenyum dan tertawa bersama.

Karena banyaknya lima ekor ikan besar tersebut tentu tidak bisa mereka habiskan.

Kemudian timbul pikiran permaisuri untuk menjualnya sebagian ke sebuah desa yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Bersama dengan Amat Mude, permaisuri pun pergi ke desa itu.

Waktu akan menawarkan ikan itu kepada penduduk, tanpa diduga mereka bertemu dengan saudagar kaya dan pemurah.

→ "Bersambung:" Awal | ← Sebelum | ... | 2 | 3 | ... | Lanjutannya → | Akhir