Legenda: “Putra Mahkota Amat Mude” (Cerita Rakyat Aceh)

Tapi hati Amat Mude memang mulia, dia ingin menolong istri Raja Muda, Amat Mude pun segera melaksanakan perintah itu.

Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Amat Mude di sebuah pantai.

Awalnya Amat Mude kebingungan mencari cara untuk mencapai pulau itu.

Pada saat ia sedang duduk termenung berpikir, tiba-tiba muncul di hadapannya seekor ikan besar bernama Silenggang Raye yang didampingi oleh Raja Buaya dan seekor Naga Besar. Amat Mude pun menjadi ketakutan.

“Hei, Anak Muda! Kamu siapa dan hendak ke mana?” tanya Ikan Silenggang Raye.

“Sa… saya Amat Mude,” jawab Amat Mude dengan gugup, lalu menceritakan asal-asul dan maksud perjalanannya.

Setelah menyimak cerita Amat Mude tadi, Ikan Silenggang Raye,

Raja Buaya dan Naga itu langsung memberi hormat kepadanya.

Amat Mude pun terheran-heran melihat sikap ketiga binatang raksasa itu.

Amat Mude heran ketika melihat mereka sangat hormat kepadanya.

Raja Buaya pun menjawab: “Ampun, Tuan! Almarhum Ayahandamu adalah raja yang baik.

Dulu, kami semua diundang pada pesta pemberian nama Tuan!”

Naga besar juga menambahkan: “Benar, Tuan! Tuan tidak perlu takut. Kami akan mengantar Tuan ke pulau itu”.

Kemudian setelah itu, Amat Mude pun diantar oleh ketiga binatang raksasa tersebut menuju ke pulau yang dimaksud.

Ternyata tidaklah lama, lalu mereka pun sampai di pulau itu. Sebelum Amat Mude naik ke darat, si Naga besar memberikan sebuah cincin ajaib kepada Amat Mude.

Dengan memakai cincin ajaib itu, maka semua permintaan akan dikabulkan.

Sesaat kemudian, Amat Mude pun segera mencari pohon kelapa gading. Tidak berapa lama mencari, ia pun menemukannya.

Ternyata pohon kelapa gading itu sangat tinggi dan hanya memiliki sebutir buah kelapa.

Kemudian Amat Mude menyampaikan niatnya kepada cincin ajaib yang melingkar di jari tangannya.

Setelah itu Amat Mude pun dapat memanjat dengan mudah dan cepat sampai ke atas pohon.

Ketika ia sedang memetik buah kelapa gading itu, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang sangat lembut menegurnya

Terdengarlah suara yang merdu: “Siapapun yang berhasil memetik buah kelapa gading itu, maka dia akan menjadi suamiku”

Amat Mude terkejut dan kemudian menanyakan siapah gerangan perempuan yang berkata tadi.

Lalu terdengar jawaban: “Aku adalah Putri Niwer Gading”.

Setelah berhasil mengambil sebutir kelapa gading, Amat Mude pun turun, sesaat kemudian tiba-tiba seorang putri cantik jelita berdiri di belakangnya.

Amat Mude sangat takjub ketika memandang kecantikan Putri Niwer Gading.

Setelah mengingat perkataan gadis cantik tadi sebelum memanjat pohon, maka tanpa pikir panjang Amat Mude segera mengajak sang Putri pulang ke rumah untuk menikah.

Beberapa waktu kemudian, diselenggarakanlah pesta perkawinan di rumah Amat Mude.

Acara ini dirayakan dengan sangat meriah dan dihadiri oleh banyak orang.

Kemudian setelah selesai pesta pernikahan, bersama sang istri tercinta dan ibunya,

Amat Mude pun pergi menyerahkan buah kelapa gading yang diperolehnya kepada Pakciknya.

Ini berarti Amat Mude sudah selamat dari ancaman hukuman mati. Melihat keteguha, kesabaran, dan akhlak mulia Amat Mude,

tiba-tiba Raja Muda menjadi sadar akan kecurangan dan perbuatan jahatnya.

Hingga akhirnya Raja Muda sadar bahwa Amat Mude-lah yang berhak menduduki tahta kerajaan Negeri Alas.

Tidak lama kemudian, Raja Muda pun menyampaikan kepada seluruh rakyat dan menobatkan Amat Mude untuk menjadi Raja Negeri Alas.

Rakyat pun menyambut dengan sukacita.

Kerajaan pun berjalan normal seperti keinginan Almarhum Ayah Amat Mude yang arif dan bijaksana.

Originally posted 2013-11-15 09:09:24. Republished by Blog Post Promoter

→ "Bersambung:" Awal | ← Sebelum | ... | 3 | 4 | Akhir