Syekh Syamsuddin Pasai (Sastrawan dan Pujangga)

Diposting pada

Syekh Syamsuddin Pasai dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan Pujangga Lama.

Nama asli beliau adalah Syamsuddin bin Abdullah, tapi lebih terkenal dengan nama Syekh Syamsuddin As Sumatrani.

Karena ada pengaruh kerajaan Samudra Pasai dan menyebut Sumatra sebagai Pasai, maka nama Syekh Syamsuddin Assumatrani sering disebut juga Syekh Syamsuddin Pasai.

Dari penelusuran sejarah para ahli, beliau adalah seorang murid dari Syekh Hamzah Al Fansuri.

Syekh Samsuddin Pasai adalah seorang Perdana Menteri, pemikir, ulama, cendikiawan, sastrawan, dan ahli tasawuf atau sufi.

Data mengenai tanggal lahir dan tempat lahir sastrawan ini memang tidak banyak tersedia, informasi dan bukti sangat sulit untuk didapatkan.

Beliau adalah salah satu ulama yang berpengaruh di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sejak tahun 1607 M atau setelah Hamzah Fansuri wafat.

Pendidikan awal diperoleh di Pasai, khususnya dari ulama-ulama periode Kesultanan Pasai.

Dan pada akhir abad 16 ia hijrah menimba ilmu ke Koetaradja, Aceh Darussalam.

Syamsuddin Pasai merupakan satu dari empat ulama yang paling terkemuka yang berperan besar dalam sejarah pembentukan dan pengembangan intelektualitas keislaman di Aceh pada abad ke-17 dan beberapa dasawarsa sebelumnya.

Keempat ulama tersebut adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin Assumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdur Rauf  As-Singkili (1615/20-1693).

Dalam Pemerintahan Kerajaan Aceh, Syamsuddin As Sumatrani mendapat jabatan penting dan kepercayaan penuh dari Sultan Iskandar Muda.

Syamsuddin As Sumatrani diberi jabatan sebagai Mufti dengan gelar Syekh Islam. Karena peran dan jabatanya sangat tinggi,

sehingga Syamsuddin Assumatrani adalah pejabat tertinggi di bawah Sultan Iskandar Muda, dengan istilah sekarang setingkat Perdana Menteri.

Karena Syamsuddin adalah orang penting, dan alirannya adalah tasawuf wujudiyah, maka faham ini dijadikan sebagai faham resmi tasawuf kerajaan.

Syamsuddin Assumatrani Ia meninggal pada malam Senin, 12 Rajab 1039 H (25 Februari 1630 M).

Kedalaman ilmu dan wara’ yang dimiliki oleh Syamsuddin al-Sumatrani membuat namanya diukir dengan indah dalam Naskah Bustan al-Salatin karangan Nuruddin al-Raniri yang menyebut Syamsuddin Pasai sebagai ulama yang termasyhur dan sangat mendalam tasawufnya.

Karya-karya Syamsuddin Assumatrani:

  1. Jauharul Haqaiq (Filsafat, Tauhid atau Ketuhanan)
  2. Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri (Kitab Filsafat, menguraikan karya sastra Ruba’i Hamzah Fansuri)
  3. Mir’atul Mukmin (Akhlak dan llmu Tasawuf)
  4. Risalatul Baiyin Mulaladhatil Muwahhidin ‘Ala Mulhid Fi Zikrillah (Filsafat, menolak paham ateisme)
  5. Kitabul Harakah (kumpulan risalah tentang ketauhidan)
  6. Nurul Daqaiq (Kepercayaan dan Ketuhanan)
  7. Mi’ratul Iman (Filsafat dan Keimanan)
  8. Syarah Mir’atul Qulub (Akhlak dan Tasawuf)
  9. Syar’ul Arifin (Ketuhanan)
  10. Ushulat tahqiq (Ketuhanan)
  11. Mir’atul Haqiqah (Hakikat dan Ma’rifat)
  12. Kitabul Martabah (Filsafat dan Nilai-nilai Manusia)
  13. Risalatul Wahhab (Ilmu Tauhid)
  14. Mir’atul Muhaqiqin (Tarikat dan Tauhid)
  15. Thanbihullah (Akhlak)