Surat Rindu Samsul Bahri kepada Sitti Nurbaya – Puisi Karya Marah Rusli

Berjalan kakanda kian kemari
Tak tahu apa akan dicari
Bertemu tidak kehendak diri

Diambil kertas ditulis surat
Ganti tubuh badan yang larat
Kesan nasib untung melarat
Kepada adikku di Sumatra Barat

Dawat dan kalam dipilih jari
Dikarang surat di dinihari
Ganti kakanda datang sendiri
Ke pangkuan adik wajah berseri

Wahai adikku indra bangsawan
Salam kakanda dagang yang rawan
Sepucuk surat jadi haluan
Ke atas ribaan emas tempawan

Mendapatkan adik paduka suri
Cantik manis intai baiduri
Di padang konon namanya negeri
Duduk berdiam di rumah sendiri

Jika kakanda peri dan mambang
Tentulah segera melayang terbang
Menyeberang lautan menyongsong gelombang
Mendapatkan adik kekasih abang

Menyerahkan diri kepada adinda
Tulus dan ikhlas di dalam dada
Harapan kakanda jangan tiada
Mati di pangkuan bangsawan muda

Adikku Nurbaya permata delima
Dengan berahi sudahlah lama
Hasrat di hati hendak bersama
Dengan adikku mahkota lima

Hendak bersama rasanya cita
Dengan adikku emas juita
Jika ditolong sang dewata
Di dadalah jadi tajuk mahkota

Tajuk mahkota jadilah tuan
Putih kuning sangat cumbuan
Menjadikan abang rindu dan rawan
Laksana orang mabuk cendawan

Karena menurut cinta di hati
Asyik berahi punya pekerti
Sungguhpun hidup rasakan mati
Baru sekarang kanda mengerti

Dendam berahi sudahlah pasti
Tuhan yang tahu rahasia hati
Kakanda bercinta rasakan mati
Tidak mengindahkan raksasa sakti

Siang dan malam duduk bercinta
Kepada adikku emas juita
Tiada hilang di hati beta
Adik selalu di dalam cipta

Jiwaku manis Nurbaya Sitti
Putih kuning emas sekati
Tempat melipur gundah di hati
Ingin berdua sampaikan mati

Tidaklah belas dewa kencana
Memandang kanda dagang yang hina
Makan tak kenyang tidur tak lena
Bercintakan adik muda teruna

Rindukan adik paras yang gombang
Siang dan malam berhati bimbang
Cinta di hati selalu mengembang
Laksana perahu diayun gelombang

Setiap hari berdukacita
Terkenang adinda emas juita
Sakit tak dapat lagi dikata
Sebagai bisul tidak bermata

Tiada dapat kakanda katakan
Asyik berahi tak terperikan
Adik seorang kakanda idamkan
Tiada putus kakanda rindukan

Rusaklah hati kanda seorang
Rindukan paras intan di karang
Dari dahulu sampai sekarang
Sebarang kerja rasa terlarang

Pekerjaan lain tidak dipikiri
Karena rindu sehari-hari
Tiada lain keinginan diri
Hendak bersama intan baiduri

Ayuhai adik Sitti Nurani
Teruslah baca suratku ini
Ilmu mengarang sudahlah fani
Disambung syair surat begini

Originally posted 2012-10-21 07:42:53. Republished by Blog Post Promoter

→ "Bersambung:" Awal | ← Sebelum | 1 | 2 | Akhir