Sinopsis Cerpen Kolak Pisang Buat Lupus (serial Lupus) – Hilman Hariwijaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Bulan puasa adalah bulan suci. Bulan yang penuh berkah Tuhan. Tapi tak bisa dipungkiri, bahwa pada bulan-bulan seperti ini, kelesuan hampir menjalari wajah-wajah siswa SMA Merah Putih.

Tapi semua harus berjalan, karena kegiatan sekolah tetap dilaksanakan seperti biasa.

Bisa dibayangkan, betapa sulitnya mereka mencoba berkonsentrasi pada pelajaran yang diterangkan, sementara perut masing-masing mereka asyik ber-‘keroncong-ria’.

Tapi bulan puasa tidak selalu diisi dengan kemuraman. Bisa tambah lapar.

Kadang anak-anak juga ngumpul di depan kelas masing-masing. Bikin cerita lucu atau tekateki yang aneh-aneh.

Sampai beberapa hari, teka-teki itu mulai nggak sehat. Mulai dicari-cari. Tapi malah semakin lucu.

Seperti teka-teki yang diberikan oleh Lupus: “Benda apa yang kalau siang ada di dapur, tapi kalau malam ada di pohon?”

Semua pada mikir. Dan mulai berspekulasi untuk menjawab dengan sembarangan. Sampai besoknya, Lupus baru memberikan jawaban. “jawabnya adalah panci!”

Tentu saja semua anak pada protes. Bagaimana mungkin panci bisa berada di pohon di waktu malam?

“Lho, itu kan panci saya ini. Terserah dong saya mau taruh di mana aja…,” elak Lupus yang langsung dimaki-maki penonton.

Dan canda-canda itu berlangsung sampai mereka tak sadar kalau hari mulai senja.

Meski sebenamya tak ada masalah, anak-anak sempat protes juga, karena sekolah belum libur meski sudah mendekati ulangan umum.

Waktu istirahat untuk minggu tenangnya cuma dikasih dua hari. Sabtu dan Minggu.

“Itu sih cuma cukup untuk ngeraut pensil!” maki Rosfita. teman Lupus yang punya prinsip: jangan pernah mengecewakan orang yang nawarin makan.

Tapi Lupus lebih suka sekolah. Kalau diam di rumah, waktu bisa terasa berjalan lebih lama. Enakan cari kesibukan di luaran.

Lalu Lupus naik metro mini menuju Blok M untuk jalan-jalan, dan melihat pemandangan yang indah-indah.

Di sana Lupus setengah mati menahan diri untuk tidak memandangi cewek-cewek kece di pinggir jalan. Dia jadi sok cuwek.

Tapi, apa iya lihat cewek cakep bisa ngebatalin puasa? Padahal cewek cakep itu kan karunia Tuhan yang menyenangkan untuk dilihat. Apalagi menyianyiakan karunia Tuhan kan dosa, lho!

Lupus jelas tak bisa menahan diri lagi ketika seorang cewek naik dan duduk tepat berhadap-hadapan dengannya.

Wajahnya benar-benar jet-set, kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam panjang terurai, bibirnya dipolesi lipstik merah muda yang tipis.

Benar-benar mubazir untuk tidak dilihat. Dan… sempurnalah godaan itu.

Saat-saat pertama Lupus masih bisa menahan diri untuk tidak terus-terusan memandang.

Cewek itu terlalu keren untuk ditaksir. Nggak bakalan ditanggapi. Dia mencoba mengalihkan perhatiannya ke luar jendela.

Tapi ternyata gadis itu mencuri-curi pandang ke arah Lupus. Lupus masih mencoba untuk tetap cuwek. Dia harus tabah, jangan tergoda.

Secara nggak sadar, dia tersenyum-senyum sendirian di metro mini. Di depan cewek cakep tadi.

Dan, oh God, cewek itu membalas senyum nyasar dari Lupus. Gimana nggak ge-er?

“Halo.” sapa Lupus berani. “Mau ke mana?”

Gadis itu tersenyum lagi. Senyum yang penuh godaan. “Ke Blok M, nih. Mau shopping. Anterin, yuk?”

Lupus agak kaget. Agresif banget cewek ini. Dan tanpa menunggu ajakan kedua, beberapa saat kemudian, Lupus telah berjalan keliling-keliling blok M berdua cewek tadi.

Dari situ dia tau, namanya Evan. Banyak sekali yang dibelinya. Seluruh pasar Blok M dikelilingi.

Dan Lupus jadi agak risi ketika Evan dengan seenaknya menggandeng tangan Lupus. Gimana kalau ceweknya tau?

Jam tiga siang, mereka berhenti di depan American Hamburger. Evan mengajak masuk.

Lupus jelas menolak, meski dia merasa sangat lapar dan haus.

“Ayo deh, saya yang traktir, kok…,” rayu Evan.

”Bukan masalah itu. Saya kan puasa!”

“Batal sehari kan nggak apa-apa. Ayo deh, kan capek lho udah keliling-keliling. Dikiiit aja. Yuk?”

“Kamu ajah deh, saya nggak.”

“Ya…, kok gitu. Nggak seru, ah. Tadi kita kan udah bareng. Ayo dong, Anak manis!”

Dan jebollah pertahanan Lupus. Akhirnya dengan langkah sedikit ragu, dibarengi celingak-celinguk kanan-kiri, takut kepergok orang rumah, Lupus masuk ke restoran.

Langsung dipesankan steak, strawberry milk-shake dan minuman dingin.

Waktu pun berlalu, saat itu mulai senja ketika Lupus melangkah masuk ke rumahnya.

Ketika itu ibunya masih sibuk kerja di dapur. Memasuk-masukkan makanan ke rantang.

Sepeninggal ayah Lupus, ibunya memang buka usaha katering. Lumayan, buat menyambung hidup, komentarnya.

Dan hasilnya memang luar biasa. lbu Lupus termasuk wanita yang ulet, yang tak menyerah kepada takdir.

Seperti sekarang ini, dia masih tetap bekerja meski puasa.

Berbeda dengan Lulu, adik Lupus. Kerjanya kalo puasa tidur melulu. “Itu lebih baik daripada nggosip!” belanya suatu ketika.

Lupus masuk ke ruang tengah dengan perlahan. Tapi ibunya melihat. ”Eh, Lupus. Baru pulang?

Itu lbu bikinkan kolak pisang kesukaan kamu buat buka puasa. Cepat mandi, sebentar lagi beduk, lho!”

Lupus tercekat. lbunya yang sibuk itu masih sempat membikinkan makanan kesukaannya.

Betapa ingin dia membahagiakan anak-anaknya. Sedang Lupus?

“Lho, kok malah bengong? Lapar, ya? Tahan aja sedikit. sebentar lagi buka. kok. Cepat mandi biar segar …. “

Tanpa berkata apa-apa. Lupus langsung ngeloyor ke kamar mandi. Dan sempat ketemu Lulu di depan kamar.

“Eh, Lupus, udah pulang. Itu ada oleh-oleh buat kamu.

Sekotak permen karen. Tadi ogut iseng beli waktu nganterin lbu ke pasar. Hayo, kamu masih puasa nggak?”

Lupus makin terpojok. Di kamar mandi, dia ingin teriak keras-keras. Meneriakkan ganjelan hatinya.

Dia memang ngaku masih puasa sampai kini. Dia tak ingin mengecewakan semuanya.

Tapi, siapa sangka kalau membohongi diri sendiri itu lebih menderita daripada ngebohongin orang lain

Beduk magrib berdentum di kejauhan. Diiringi oleh teriakan azan. Saat itu Lupus malah berlari ke telepon umum di depan rumahnya.

“Halo? Bisa bicara dengan Evan?”

“Ya, ini Evan …. “

“SEJUTA TOPAN BADAI BUAT KAMU!!!”