Sinopsis Hikayat Bayan Budiman

Sastra Angkatan Pujangga Lama.

Ringkasan Umum:

Hikayat Bayan Budiman adalah kumpulan dari cerita dan kisah yang mengajarkan kebaikan serta teladan.

Semua cerita dan kisah disampaikan secara menarik dan bisa membuat orang terpana.

Diceritakan oleh seekor Burung Bayan dengan maksud untuk membuat seorang perempuan terlena pada cerita, dan terlupa untuk bertemu dan berselingkuh dengan laki-laki lain yang bukan suaminya.

Bismillahirrohmaanirrohiim. Dikisahkan pada Kerajaan Ajam. Ada seorang saudagar yang bernama Khojan Mubarok.

Dia adalah seorang saudagar yang cukup sukses.

Karena tidak memiliki anak, Saudagar tersebut sering berdoa kepada Tuhan. Dia juga mempunyai nazar untuk memberi makan kepada kaum fakir miskin dan darwis.

Atas karunia Allah swt maka nazar sang saudagar itu terkabul. Istri saudagar Khojah Mubarok hamil dan melahirkan anak laki-laki yang tampan.

Betapa senang hati Khojah Mubarok, lalu dia memberi nama anaknya tersebut yaitu Khojah Maimun.

Sebagai bentuk rasa syukur, Khojan Mubarok memberi anaknya pelajaran mengaji dengan seorang guru bernama Mu’allim Sabian.

Khojan Maimun lalu menjadi anak yang yang baik dan memiliki akhlak yang mulia.

Setelah Khojan Maimun menginjak usia  lima belas tahun, Khojan Mubarok menikahkan anaknya dengan anak perempuan saudagar kaya yang sangat cantik bernama Bibi Zaenab.

Karena Khojan Maimun adalah seorang saudagar, ia ingin mengembangkan usahanya tersebut dengan pergi berdagang dengan cara berlayar.

Sebelum berangkat berlayar, Khojah Maimun membeli dua ekor burung sebagai penghibur dan teman untuk isterinya ketika dia pergi berlayar.

Burung pertama adalah Burung Bayan yang jantan, dan yang kedua adalah Burung Tiung yang betina.

Khoijah Maimum meninggalkan pesan pada istrinya supaya selalu berdiskusi dengan dua ekor burung tersebut sebelum melakukan segala sesuatu.

Karena kalau melakukan sesuatu yang salah, maka akan terjadi akibat yang sangat buruk pada rumah tangga mereka.

Khoijah Maimum lalu pergi berlayar. Bibi Zainab tinggal di rumah dan ditemani oleh kedua burung tadi.

Hati Bibi Zainab merasa sedih karena jauh dari suaminya, ia melewati hari dengan termenung.

Ketika duduk termenung, tiba-tiba lewatlah seorang pemuda di depan rumah Bibi Zainab.

Pemuda tersebut mengendarai kuda dan secara tidak sengaja terpesona oleh kecantikan wajah Bibi Zainab.

Pemuda itu lalu tersenyum, dan Bibi Zainab membalas dengan senyuman pula.

Ternyata dia adalah putra raja. Karena punya pengaruh, pemuda tersebut meminta bantuan pada seorang wanita tua supaya anak raja tersebut dapat berjumpa dengan Bibi Zainab.

Waktu pun berlalu, dengan perantara wanita tua tadi, akhirnya disusunlah suatu rencana pertemuan antara putra raja dengan Bibi Zainab.

Sebelum berangkat, pada suatu malam Bibi Zainab berbicara pada burung tiung bahwa dia akan bertemu dengan Putra Raja.

Dengan bijaksana Burung Tiung berkata pada Bibi Zaenab bahwa rencana pertemuan Bibi Zainab dengan Putra Raja adalah melanggar aturan Allah SWT.

Burung Tiung melarang Bibi Zainab untuk pergi.

Bibi Zaenab menjadi murka atas kata-kata burung tiung tadi. Kemudian dia melempar burung tersebut dengan keras, akhirnya sang burung pun mati.

Setelah itu Bibi Zaenab melanjutkan rencananya untuk pergi. Tidak jauh dari tempat burung tiung tadi, dia melihat Burung Bayan.

Selama peristiwa yang terjadi pada burung tiung, burung bayan berpura-pura tertidur.

Sebenarnya burung bayan terkejut mendengar rencana Bibi Zaenab yang akan pergi menemui anak Raja, dan sang burung tahu rencana tersebut dilarang oleh agama.

Tapi burung tersebut tidak hilang akal, dan tidak mau juga mati seperti burung tiung tadi.

Kemudian Burung Bayan menyapa dengan suara cukup lantang dan berkata,

“Wahai Bibi Zaenab yang cantik, silahkan  pergi menemui anak Raja itu secepatnya”

Kemudian Burung Bayan mengatakan bahwa Bibi Zainab boleh pergi menemui putra raja yang sedang menunggu Bibi Zainab yang cantik.

Burung Bayan bercerita bahwa manusia boleh hidup berbahagia dan bersenang-senang di dunia ini.

Dengan cara yang menarik, Burung bayan juga berkata bahwa setiap manusia menginginkan kesenangan, kedudukan tinggi, dan juga kekayaan.

Ini berbeda dengan dirinya yang hanya seekor burung yang tidak bisa kemana-mana dan hanya hidup dalam sangkar.

Bibi Zainab merasa senang mendengar kata-kata indah tadi. Sang burung bayan pun melanjutkan tentang indahnya hidup bagi seorang manusia dengan menikmati keindahan yang ada di dunia ini.

Hingga akhirnya Bibi Zainab menjadi terlena akan cerita Buyung Bayan tadi dan menjadi lupa bahwa dia akan pergi bertemu dengan Putra Raja.

Besok harinya Bibi Zainab juga punya rencana untuk bertemu Putra Raja.

Sebelum berangkat, Burung Bayan juga menceritakan kisah lain yang sangat menarik pada Bibi Zainab.

Karena indahnya dan serunya cerita Burung Bayan, lagi-lagi Bibi Zainab menjadi terlena dan juga lupa akan bertemu dengan Putra Raja.

Hal yang sama juga terjadi pada hari-hari berikutnya. Setiap Bibi Zainab mau berangkat untuk bertemu Putra Raja,

dan berpapasan dengan Burung Bayan, sang burung selalu menyajikan cerita yang menggugah hati,

bukan hanya alur cerita yang menarik tapi banyak juga tauladan dan kisah bermanfaat.

Hari-hari terus berlalu, sampai akhirnya ada 24 kisah yang diceritakan dengan baik oleh Burung Bayan.

Artinya sudah 24 hari Bibi Zainab menjadi terhanyut dan terhindar dari pertemuan dari pertemuan dengan Putra Raja.

Hingga akhirnya Khojan Maimun pulang dari berlayar dan berniaga. Bibi Zainab bisa menyambut suaminya tanpa ada sesuatu yang buruk terjadi selama dia di rumah.

Artinya Bibi Zainab sudah bisa terhindar dari penyelewangan yang dapat menodai rumah tangga mereka, dan terhindar dari melanggar aturan agama.

Demikianlah Hikayat Bayan Budiman, dengan cerita yang bernilai keindahan sastra tingkat tinggi, dapat menyadarkan Bibi Zainab, dan dapat menegakkan nilai kebaikan dalam agama.