Sinopsis Novel Ca Bau Kan (Hanya Sebuah Dosa) – Remy Sylado

Tan Peng Liang lalu berikrar untuk membantu perjuangan pasukan Rahardjo Soetardjo, asalkan dibantu untuk mendapatkan Tinung kembali.

Usaha tersebut berhasil, Tinung akhirnya dibebaskan keluar dari Rumah Panjang oleh Rahardjo Soetardjo.

Di sebuah Rumah Sakit, Tinung menanti dan sangat menyesal, serta merasa bersalah dari peristiwa-peristiwa pahit yang terjadi sepanjang hidupnya

Tanpa diduga akhirnya Tinung bertemu lagi dengan Tan Peng Liang. Kesedihan  Tinung perlahan memudar, dan kemudian mengubah hidupnya kembali ke normal.

Walau sudah bersama Tan Peng Liang, tapi Tinung merasa bahwa Ia tidak berguna untuk Tan Peng Liang karena tidak bisa mengandung anak lagi. 

Keadaan tersebut kembali membuat Tan Peng Liang marah.

Maka dia berniat melampiaskan dendam lamanya kepada Thio Boen Hiap yang menyerahkan Tinung kepada pasukan Jepang sebelum kemerdekaan.

Kemudian Tan Peng Liang menyerang ke rumah Thio Boen Hiap dan dalam kemarahannya akhirnya mengeksekusi Thio Boen Hiap dengan tembakan ke kepala.

Waktu pun berjalan. Pada tahun 1960, nama Batavia berganti menjadi Jakarta.

Saat itu Tan Peng Liang menjadi seorang pengusaha yang sangat kaya dan sukses, dibantu oleh teman seperjuangannya,

Rahardjo Soetardjo dan Max Awuy yang kini mendapat posisi di pemerintahan Indonesia.

Pada masa jaya ini, Tan Peng Liang kembali menyatakan cintanya yang tulus kepada Tinung.

Tapi di luar sana, anggota Dewan Kong Koan yang telah bubar masih menyimpan dendam pada Tan Peng Liang, karena mereka tahu siapa yang membunuh Thio Boen Hiap.

Kemudian keadaan menjadi warna duka. Tan Peng Liang dibunuh setelah memakan durian beracun yang dibawakan oleh Jeng Tut dalam sebuah pertemuan bisnis di rumahnya.

Ternyata diketahui bahwa Oey Eng Goan tua yang sebenarnya merencanakan pembunuhan tersebut.

Juga  tak lama setelah meninggalnya Tan Peng Liang, Tinung pun akhirnya juga meninggal.

Analisis Novel ini

Novel ini bersifat narasi. Semua cerita tadi mengungkap tentang siapa jati diri seorang wanita tua Indonesia yang tinggal di Belanda yang dipungut. Namanya adalah Giok Lan,

Lalu dapat disimpulkan bahwa Giok Lan mempunyai Ibu kandung seorang wanita betawi pribumi yang bernama Siti Noerhajati, yang kerap dipanggil Tinung, seorang Ca-bau-kan yang sering menghibur orang Tionghoa pada zaman kolonial Belanda di Indonesia.

Sementara Ayah kandungnya adalah Tan Peng Liang, seorang pedagang tembakau peranakan Tionghoa dari Semarang.

Originally posted 2013-02-23 18:05:23. Republished by Blog Post Promoter

→ "Bersambung:" Awal | ← Sebelum | 1 | 2 | Akhir