Sinopsis Novel Jangir Bali – Nur Sutan Iskandar

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Karya: Nur Sutan Iskandar

Ringkasan Umum:

Kisah cinta yang dimulai ketika ada pertunjukan Tari  Jangir Bali. Dua insan saling jatuh cinta, tapi  situasi memisahkan mereka.

Cinta sejati mereka tidak pernah mati walau pun terpisah dan mengembara ke berbagai tempat.

Akhirnya mereka bertemu lagi pada acara yang sama; yaitu ketika ada pertunjukan Tari jangir Bali

Ada seorang pemuda bernama Raden Panji Susila. Dia adalah keturunan bangsawan dan berasal dari Bangkalan Madura.

Karena pintar, dia dipercaya untuk menjadi guru di Taman Siswa di Singaraja Bali. Disamping pintar dia juga baik. Oleh karenanya dia mempunyai banyak teman.

Pada sebuah acara keagamaan, Raden Panji melihat seorang perempuan yang sedang menari.

Dia merasa tertarik pada perempuan itu. Setelah mencari tahu, ternyata penari tersebut bernama Putuasih.

Suatu hari ada upacara membakar mayat, tiba-tiba ada seorang gadis yang hendak dilarikan oleh para penjahat yaitu I Ketut dan Wirada.

Raden Panji dengan sigap menolong.

Diluar dugaan, ternyata gadis yang ditolong itu adalah Putusasih. Putusasih pun sangat berterimakasih kepada Raden Panji Susila dan Ngurah temannya.

Putuasih merasa senang dan terharu karena sudah ditolong. Sebagai ungkapan rasa terimakasihnya Putusasih mengundang Raden Panji untuk datang ke rumahnya.

Kemudian beberapa hari setelah itu, Raden Panji beserta kedua temannya yaitu I Ngurah dan Nyoman Gede mengunjungi rumah Putusasih untuk memenuhi undangannya.

Mereka mendapat sambutan yang sangat baik dari Ibu Putusasih dan Putusasih sendiri.

Ibu Putusasih sangat berterimakasih karena Raden Panji telah menyelamatkan putrinya.

Disamping itu, maksud dari kedatangan mereka sekaligus untuk meminta/melamar Putusasih untuk Raden Panji,

hal itu disampaikan oleh teman Raden Panji kepada Ibu Putusasih.

Ibu Putuasih terkejut dan bahagia karena seorang bangsawan seperti Raden Panji Susila mau malamar putrinya yang berasal dari bangsa sudra, namun akhirnya lamaran itu pun diterimanya.

Kemudian sejak berkenalan secara terang-terangan itu pun, Raden Panji sering kali datang ke rumah Putusasih dan diterima oleh Putusasih dan Ibunya dengan senang hati.

Seiring berjalannya waktu,  semangat Raden Panji Susila juga tinggi, bahkan dia memiliki cita-cita yang mulia untuk memajukan bangsa.

Di Singaraja dia memiliki banyak teman, tapi ada satu teman yang memiliki wawasan yang hampir sama dengannya, temannya itu bernama I Ngurah.

Raden Panji juga berupaya mendirikan sekolah kepandaian putri di Desa Sanjen. Ini dilakukan dengan bantuan I Ngurah.

Sekolah ini ditujukan untuk mencerdaskan kaum wanita Bali. Supaya mereka ada keahlian dan bisa menjadi bekal bagi mereka nanti.

Banyak lagi  yang dia kerjakan  salah satunya adalah  membentuk koperasi yang dimaksudkan untuk membantu petani agar tidak tergantung kepada tengkulak.

Berkat kerja kerasnya, Raden Panji segera dikenal dan dicintai masyarakat Tapi di sisi lain,  pihak pemerintah malah menuduh Raden Panji telah melakukan manuver politik.

Sementara itu Raden Panji dan Putuasih makin dekat saja. Mereka makin kenal satu sama lain.

Disaat cinta mereka bersemi, tiba-tiba ada surat dari telegram yang mengharuskan Raden Panji pulang ke Madura karena ibunya sakit keras.

Tapi sesampai di kampung halamannya, ternyata ibunya segar bugar dan tidak kurang suatu apa pun.

Ternyata telegram itu hanyalah taktik agar Raden Panji pulang karena ia akan dinikahkan dengan Wahyuni, gadis yang masih saudara sepupunya sendiri.

Namun dua orang yang sudah mengalami pendidikan modern itu menolak perjodohan.

Baik Raden Panji maupun Wahyuni menolaknya. Dan Raden Pandji segera kembali ke Bali. Ia bertekad akan segera menikah dengan Putuasih.

Sementara di Bali, kekasih Raden yaitu Putusasih mengalami cobaan yang sangat berat.

Dia harus rela kehilangan rumah dan harta bendanya akibat kebakaran, dan yang lebih menyedihkan lagi ibunya pun turut menjadi korban dalam musibah itu.

Kejadiannya berawal ketika seorang mata-mata polisi yang bernama Wantilan mendatangi rumah Putusasih.

Dia berkeinginan agar Putusasih melupakan Raden Panji dan berpaling padanya, bahkan dia menjelek-jelekkan dan memfitnah Raden Panji.

Lalu penjahat yang dulu berniat melarikan Putusasih yaitu I Ketut dan Wirada pun mendatangi rumah Putusasih.

Akhirnya kedua penjahat itu dan Wantilan memperebutkan Putusasih, sehingga terjadilah perkelahian yang menyebabkan kebakaran dan ibunya meninggal.

Sedangkan Putusasih sendiri terus berlari sampai ke dalam hutan karena kedua penjahat tadi terus mengejarnya.

Keesokan harinya, Putusasih sampai di desa Gerendot. Dia pun pergi ke rumah salah seorang kenalannya di desa tersebut yang bernama Trimurti.

Setelah dirawat dan diberi makan. Keluarga Trimurti memutuskan untuk mengirim Putusasih ke pulau Jawa, dengan alasan demi keamanan Putusasih sendiri.

Sesampainya di pulau Jawa, dia diantar ke suatu tempat perkumpulan orang Bali.

Perkumpulan tersebut merupakan perkumpulan kesenian dari Bali, yang biasa mempertunjukkan tari jangir di daerah Jawa.

Di lain pihak, setelah dia tidak mau dinikahkan oleh orang tuanya. Raden Panji kembali ke Bali untuk menemui kekasihnya.

Sesampai di Bali, Raden Panji mencari-cari Putuasih, tapi tidak ketemu. Kemudian dia mendapat informasi bahwa Putuasih sudah pergi ke Pulau Jawa.

Di samping itu, pemerintah sedang gencar-gencarnya menangkapi orang-orang yang membahayakan kedudukan pemerintah.

Raden Panji termasuk target operasi. Ia diusir dari Pulau Bali. Lalu Raden Panji kembali ke Bangkalan.

Karena rasa cintanya, Raden Panji berupaya mencari Putuasih. Ia segera mencari pekerjaan di Surabaya.

Dari Surabaya ia pindah ke Malang dan memimpin Koperasi Parinda.

Di kantornya ada seorang gadis cantik teman sekantor bernama R. Ayu Ratnakusuma.

Gadis ini sangat tergila-gila dengan Raden Panji. Namun hati Raden Panji telah tertutup.

Cintanya hanya untuk Putuasih. Karena selalu dikejar-kejar akhirnya Raden Panji memutuskan untuk berhenti bekerja.

Ia berpindah ke Pasuruan. Di Pasuruan ia menumpang di rumah Sanjen milik Raden Joyosasmito, ayah Putuasih.

Dari orangtua itulah Raden Panji akhirnya mengetahui jejak Putuasih.

Dia pun mencari Putusasih kesana-kemari. Akirnya pada suatu acara pasar malam di Surabaya, Putusasih dan perkumpulannya menampilkan kesenian Bali dalam acara tersebut.

Gadis idaman hati sedang berlenggak lenggok di atas panggung men-jangir diiringi bunyi gamelan yang bertalu-talu.

Raden Panji Susila sangat bahagia karena dapat menemukan kekasihnya yang sangat dia rindukan, Putusasih juga merasakan hal yang sama.

Cinta dan kesetiaan dua orang ini akhirnya dipertemukan dalam keharuan.

Akhirnya Susila dan Putusasih pun melangsungkan perkawinan.

Ada yang lebih membahagiakan lagi bagi Putusasih, karena ayahnya yang sejak lahir ke dunia belum pernah bertemu dengannya, ternyata di Pulau Jawa tersebut dapat dia temukan.

Mereka pun hidup bahagia, dengan terus mewujudkan cita-citanya demi kemajuan nusa dan bangsa.