Sinopsis Novel Saraswati: Si Gadis Dalam Sunyi – A.A Navis

Kemudian dia membuat motif yang berbeda dan lebih istimewa buat Busra yang selama ini bersimpati dan peduli pada penderitaannya.

Lain halnya dengan Bisri yang hanya acuh tak acuh terhadapnya.

Setelah sapu tangan selesai dibuat, sang gadis menyerahkan kepada Busra dan Bisri yang kebetulan sedang belajar bersama.

Tapi hatinya menjadi berdegup kencang dan kaget luar biasa, karena ternyata dia salah memberikan saputangan.

Yang disulam istimewa diambil oleh Bisri, dan saputangan lainnya diterima oleh Busra.

Karena ia ingin bisa menyampaikan apa yang ada dalam hati dan pikirannya, sang gadis ingin belajar membaca.

Syukurlah Busra menawarkan diri untuk mengajarkan membaca pada sang gadis.

Setiap hari dan setiap malam Busra mengajarinya. Setelah bisa membaca dan mengenal huruf, akhirnya sang gadis tahu bahwa ternyata namanya adalah: Saraswati.

Busra juga mengajarkan Saraswati mengucapkan kata-kata, walaupun dia tidak bisa mendengar perkataannya sendiri karena bisu.

Waktu terus berjalanan, sampai pada suatu hari Saraswati menerima kiriman uang dari famili di Jakarta,

uang tersebut adalah hasil dari penjualan barang-barang peninggalan orang tuanya.

Dari uang tersebut kemudian dia belikan sebuah mesin jahit bekas yang cukup bagus, sisanya dia pakai untuk usaha ternak ayam yang terpisah dari keluarga Angah.

Saraswati akhirnya punya penghasilan sendiri dari menerima jahitan dan dari ternak ayam.

Pada suatu hari Bisri meninggalkan rumah, kali ini sudah hampir satu bulan. Angah dan Busra merasa kehilangan sejak kepergian Bisri.

Lalu pada suatu Hari Sabtu Bisri datang ke rumah dengan memakai seragam warna hijau dan rambut cepak.

Waktu itu Angah dan Busra tidak ada di rumah. Setelah membuatkan minuman tiba-tiba Bisri mendekat kepada Saraswati dan memeluk badannya erat-erat, setelah itu mencium pipi, mata, leher, dan bibirnya.

Seluruh tubuh Saraswati bergetar dan akhirnya terduduk lunglai di lantai. Sejak saat itu tingkah laku Bisri makin aneh dan suka curi pandang pada Saraswati. Akhirnya Bisri pun pergi lagi.

Pada Hari Sabtu bulam berikutnya Bisri datang lagi. Sekarang pandangan mata Bisri tidak jahil lagi, tapi lebih sebagai seorang kakak.

Lalu Bisri memberikan sesuatu pada Saraswati yaitu kain cita berwarna biru laut dengan bunga-bunga kecil putih bertebaran.

Esok harinya teman-teman Bisri datang ke rumah. Teman-teman perempuan cantik-cantik dan bersolek indah.

Busra menyuruh Saraswati untuk memakai baju bagus dan berdandan.

Ketika melihat ke cermin, Saraswati sempat kaget dan akhirnya menyadari bahwa dirinya cantik.

Semua tamu yang datang termasuk Busra dan Bisri mengakui bahwa Saraswati adalah cantik.

Setelah Bisri pergi lagi dan bertugas sebagai tentara, ternyata dalam diri Saraswati ada rasa rindu dan ingin bertemu dengan Bisri.

Dia juga sering berhias dan berdandan untuk menunggunya.

Sementara itu suasana perang mulai terasa. Banyak tentara yang lewat. Ada pula penduduk yang digebuki tentara sampai berdarah.

Hingga pada suatu hari datang sekelompok tentara ke tempat tinggal Saraswati.

Mereka menggeledah dan mengobrak-abrik seluruh isi rumah. Busra, Angah, dan Saraswati dipukuli.

Semenjak saat itu Saraswati menjadi ketakutan dan tidak mau tinggal sendirian di rumah.

Kemudian pada suatu dini hari Angah dan Saraswati pergi meninggalkan rumah dengan membawa beberapa pakaian dan beberapa bungkus nasi.

Mereka berjalan cukup jauh menyusuri sungai kecil.

Suasana perang makin terasa jelas. Banyak orang yang pergi mengungsi dan sering juga ditemui tentara yang cedera.

Akhirnya Saraswati tahu bahwa saat itu terjadi perang antara tentara PRRI dengan tentara pemerintah.

Perjalanan panjang mereka kembali diteruskan. Rombongan mereka yang dulu banyak, sekarang jumlahnya tersisa tidak sampai setengah.

Setelah menempuh perjalanan yang jauh dan melewati berbagai letupan senjata api, akhirnya Saraswati mendapati Angah sudah meninggal dunia.

Mungkin karena terlalu letih dan sudah tua.

Hati Saraswati bertambah hancur, dia sudah banyak kehilangan keluarga. Mulai dari orangtua dan saudaranya, sekarang dia harus kehilangan Angah.

Apalagi sekarang masih dalam suasana perang, dan dia hanyalah seorang gadis tuli dan bisu.

Saraswati melanjutkan perjalanan dan sangat berharap supaya dapat bertemu Bisri yang sudah lama didambakannya.

→ "Bersambung:" Awal | ← Sebelum | ... | 2 | 3 | Lanjutannya → | Akhir