Sinopsis Novel Saraswati: Si Gadis Dalam Sunyi – A.A Navis

Dia juga khawatir kalau-kalau Bisri juga sudah meninggal karena perang ini.

Hingga akhirnya Saraswati sampai pada sebuah rumah dan menginap di sana dalam kurun waktu yang cukup lama. Saraswati juga masih merindukan Bisri.

Di rumah tersebut banyak terdapat perempuan yang lain. Kemudian pada suatu hari datanglah rombongan pengungsi lain yang juga sudah menempuh perjalanan yang jauh.

Dalam rombongan tersebut ada seorang perempuan yang sangat cantik. Mereka lalu berkenalan, ternyata nama wanita cantik tersebut adalah Tati.

Kemudian Saraswati melewati hari-hari bersama Tati, apalagi Ayah Tati juga baik pada Saraswati.

Pada suatu hari Saraswati melihat Tati berlari ke halaman dengan wajah gembira.

Dia menjadi penasaran melihat kebahagiaan Tati dan mengikutinya sampai ke sungai.

Saraswati melihat Tati sedang berpegangan tangan dengan seorang pemuda yang menyandang bedil di bahunya. Mereka terlihat sangat mesra.

Saraswati ikut merasa gembira melihat Tati yang sudah bertemu pujaan hatinya di hutan pedalaman ini. Saat itu dia juga berharap akan bertemu Bisri yang sudah lama didambakannya.

Menjelang senja semuanya kembali ke rumah tempat mereka tinggal. Tapi tiba-tiba dunia menjadi gelap bagi Saraswati, semuanya menjadi longsor dari gunung harapannya.

Hatinya sangat hancur, karena ternyata pemuda yang bermesraan dengan Tati tadi adalah Bisri.

Jiwa dan hatinya meronta-ronta karena cintanya sudah dikhianati oleh Bisri yang selama ini ditunggu-tunggu.

Kemudian Saraswati berlari ke dalam hutan tanpa tentu arah sambil menangis tersedu. Walau malam sudah turun, dia terus berlari dengan seluruh duka hati.

Besok harinya dia kembali melanjutkan perjalanan yang jauh tanpa arah. Badannya sudah banyak yang terluka dan sudah lama tidak makan dan minum.

Hingga akhirnya Saraswati  terkapar lemas tak berdaya, dan lambat laun segalanya menjadi lenyap.

Ternyata ajalnya belum tiba. Dia sudah siuman dan dikelilingi oleh beberapa orang yang merawatnya.

Dia mendapati pakaiannya sudah diganti, karena sekujur tubuhnya yang terluka sudah diolesi obat.

Hari berikutnya Saraswati terus dirawat di rumah tersebut, hingga pada suatu pagi ada terdengar suara letupan senjata karena didatangi oleh tentara.

Ada yang  tewas dan Saraswati juga mengalami pendarahan di kepalanya.

Saraswati sekarang tinggal sendiri, lalu menyusuri jalan yang banyak mayat bergelimpangan.

Dalam perjalanan yang panjang, tanpa diduga Saraswati bertemu dengan Busra, mereka berpelukan.

Hingga akhirnya Busra menyodorkan secarik kertas yang berisi: “Aku cari engkau”. Kemudian Saraswati kembali memeluk Busra seakan tidak ingin melepaskannya lagi.

Waktu pun berlalu, suasana perang mulai reda. Kemudian Saraswati dirawat di Pusat Rehabilitasi yang dirintis Dr. Suharso di Solo.

Di tempat tersebut banyak dirawat korban-korban perang.

Saraswati dirawat disana selama 4 tahun lebih, pada masa itu dia tetap berkirim surat dengan Busra yang berada di kampung halaman.

Lalu Busra hadir dalam kenangan Saraswati. Terkenang akan segala yang ada pada diri Busra, segala perlakuannya terhadap Saraswati.

Ketika di pemakaman, ketika di rumah, ketika merawat Saraswati setelah terdampar dalam kemelut perang.

Dalam mengenang-ngenangnya Saraswati baca lagi surat-suratnya. Lalu matanya terpaut pada kalimat yang bergaris di bawahnya:

“Sekarang usahaku dapat menghidupi lima sampai delapan orang,”

Saraswati tersentak. Tiba-tiba dia memahami maksud yang tersirat. Bahwa dia telah siap hidup bersamanya.

Lalu Saraswati langsung bertindak hingga Saraswati mengirimkan sebuah telegram, bukan surat, supaya cepat sampai. Dia menyatakan: “Busra, Aku mau Pulang”.

Jawaban Busra juga bertindak cepat dan mengirim balasan melalui telegram, dia menyatakan: “Tunggu, aku akan jemput kau”.

Originally posted 2012-11-23 14:24:56. Republished by Blog Post Promoter

→ "Bersambung:" Awal | ← Sebelum | ... | 2 | 3 | Akhir