Sastra dalam Berita
Apa (What): Deklarasi Puisi Maritim “Jejak Laksamana” yang menyoroti isu-isu perbatasan dan laut. Tiga event utama:
-
Pembacaan Puisi Bilingual: Puisi dibacakan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Kepri di tepi pantai.
-
Diskusi Sastra Lintas Batas: Menghadirkan penulis regional dan akademisi dari negara serumpun.
-
Lomba Menulis Pantun Kilat Digital: Ajang adu cepat membuat pantun online bertema kelautan.
Kapan (When): Acara puncak deklarasi dilaksanakan hari ini, 15 November 2025.
Di Mana (Where): Berlokasi di Tepi Pantai Lagoi, Bintan, Kepulauan Riau.
Siapa (Who): Diinisiasi oleh Aliansi Sastrawan Melayu Nusantara dan didukung oleh Lembaga Adat Melayu (LAM) setempat.
Mengapa (Why): Memperkuat identitas Sastra Melayu Riau sebagai sastra maritim dan menjaga kedaulatan budaya di wilayah perbatasan.
Bagaimana (How): Konten pembacaan puisi dengan latar belakang sunset di Selat Malaka dan pantun-pantun kilat yang jenaka menyebar cepat di media sosial.
Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra
Tujuan Utama: Menegaskan peran sastra Melayu sebagai perekat budaya serumpun dan media utama untuk membahas isu-isu kelautan.
Manfaat:
-
Diplomasi Budaya: Memperkuat hubungan budaya dengan negara tetangga melalui dialog sastra.
-
Peningkatan Identitas: Menanamkan kecintaan terhadap Bahasa dan Sastra Melayu/Indonesia serta genre lokal seperti Pantun.
-
Awareness Maritim: Menggunakan sastra untuk meningkatkan kesadaran akan potensi dan ancaman wilayah laut.
Karya Sastra yang Ditampilkan
Karya yang paling banyak dibacakan dan didengarkan adalah sebuah Pantun Lisan yang langsung dibuat pada acara tersebut:
Judul: Pantun di Selat Malaka
Ambil nenas di Pulau Penyengat, Jangan lupa ambil kemuning, Laut di sini sungguh memikat, Adat Melayu wajib dijunjung. (Karya Sastrawan Lokal)
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

