Sinopsis Cerpen Kencan Pertama (Serial Lupus)- Hilman Hariwijaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Pada suatu hari di sekolah, Lupus dan Poppy (pacar Lupus) membuat janji untuk kencan dengan nonton bioskop dan makan bakso.

Kencan ini sebagai perayaan karena artikel Lupus berhasil memenangkan sayembara.

Lalu mereka sepakat bahwa Lupus yang akan menjemput Poppi ke rumahnya.

Mereka akan pergi nonton di bioskop pada jam 5 sore, dan pulangnya akan makan bakso bersama.

Poppy mempersiapkan diri secara khusus dan istimewa untuk kencan pertama ini.

Dia sudah bela-belain mandi, gosok gigi, dan cuci rambut. Lengkap dengan dandanan dan make up yang luar biasa.

Dia menunggu Lupus lebih awal di teras rumah. Sudah lebih setengah jam menunggu, tapi Lupus belum muncul juga.

Dia menduga Lupus mungkin sangat ngaret, maklum dia kan suka makan permen karet.

Tapi Poppi mulai kesal, karena ini adalah saat istimewa dan bersejarah bagi hubungan mereka yang merupakan kencan pertama,

Dia tidak ingin Lupus terlambat dan mempertahankan kebiasaan ngaretnya.

Namun Poppy berusaha menepis dugaan negatif pada Lupus, dia mengingat masa-masa pertama tertarik pada Lupus.

Dulu waktu pertama masuk SMA, Poppy diangkat jadi ketua kelas, dan mengatur siswa lainnya untuk membawa keperluan kelas seperti sapu, kalender, keset, ember, lap, dan lain-lain.

Lupus yang datang terlambat iuga kebagian dapat tugas membawa bulu ayam. Esok harinya Poppy memeriksa kelengkapan yang dibawa oleh teman-temanya.

Ketika sampai di bangku Lupus, Poppy merasa heran, karena dia hanya membawa satu buku, tanpa membawa tidak membawa tas atau bawaan lainnya.

Lalu Poppy mulai menagih bulu ayam yang dibawa Lupus. Tapi Lupus santai saja membolak-balik lembaran bukunya.

Lalu dia mengambil sehelai bulu ayam yang terselip.

Poppi hanya melotot padanva, diiringi tawa teman teman vang lain. Tapi Lupus memang tak salah.

Dia benar-benar nggak tau kalau yang Poppi maksudkan itu bukan sekadar sehelai bulu ayam, melainkan kemoceng.

Poppi sering geli sendiri jika ingat kejadian itu. Dan entah kenapa, dia jadi suka membayangkan Lupus.

Anak itu polos, jarang lho bisa ketemu cowok polos begitu di Jakarta ini.

Tapi sekarang Poppi jadi kesal, Lupus tidak muncul juga, walau waktu Maghrib sudah lewat. Dia lari ke kamar sangat kesal, dan sampai menangis.

Poppi tidak akan mendengar apapun alasan dari Lupus, bahkan dia tak mau lagi bicara lagi dengannya.

Betapa tega Lupus mengingkari janjinya. Kencan pertama saja sudah kayak gini, apalagi untuk selanjutnya.

Di sekolah Poppi ketemu Lupus, tapi gayanya biasa saja. Sampai keluar main kedua Lupus tidak juga datang minta maaf padanya.

Poppi tambah kesal, padahal sejak jam setengah delapan dia pasang muka mau marah.

Pulang sekolah tanpa diduga, Lupus menunggu di dekat mobil. Diam memandangi daun-daun yang terbang tertiup angin.

Poppi memandang heran ke arahnya.

Dengan dongkol Poppi mendorong tubuh Lupus yang menghalangi pintu mobilnya, lalu segera membuka pintu tanpa menoleh.

Setelah itu meledaklah amarah Poppi. Lupus semakin terpojok. Matanya menatap kosong ke depan.

Dan sampai sepuluh menit berikutnya, Poppi terus berkicau dengan kecepatan suara yang sukar diukur dengan stop-watch sekalipun.

Sampai akhirnya, dia kecapekan sendiri. Menatap Lupus yang sama sekali tidak bereaksi.

Hingga akhirnya Lupus dapat kesempatan bicara. Dengan suara yang sangat pelan dia berkata:

 “Saya nggak tau rumah kamu …. “

“Apa?” Poppi terbelalak.

“Maafkan saya. Saya memang paling norak. Saya malu sekali dengan kebodohan saya ini.

Sungguh mati, ini yang pertama buat saya untuk pergi dengan seorang gadis. Saya terlalu gembira dan tak tau apa yang harus saya lakukan.

Saya sama sekali nggak sadar kalau saya tak pernah punya alamatmu. Jadi, mana mungkin saya bisa menjemputmu?

Kau mau memaafkan saya? Lain kali, saya Janji…” suara Lupus makin pelan.

Beberapa saat, Poppi tak tau apa yang harus dilakukannya. Hanya matanya yang menatap lebih bersahabat.

Besok harinya di sekolah, Poppi menyapa Lupus dengan mesra. Lupus pun membalas dengan segera.

Mereka menyusun rencana baru untuk kencan pada jam 5 sore. Poppi lalu memberikan secarik kertas yang tertulis alamat lengkapnya.

Tak berapa lama, Lupus menyahut dengan nada menggoda:

“Ini, saya juga mau ngasih alamat. jemputlah saya kalau kamu kelamaan menunggu …. “

Poppi pun terkesima melihat kepolosan dan kejenakaan Lupus.

Sinopsis Cerpen Kolak Pisang Buat Lupus (serial Lupus) – Hilman Hariwijaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Bulan puasa adalah bulan suci. Bulan yang penuh berkah Tuhan. Tapi tak bisa dipungkiri, bahwa pada bulan-bulan seperti ini, kelesuan hampir menjalari wajah-wajah siswa SMA Merah Putih.

Tapi semua harus berjalan, karena kegiatan sekolah tetap dilaksanakan seperti biasa.

Bisa dibayangkan, betapa sulitnya mereka mencoba berkonsentrasi pada pelajaran yang diterangkan, sementara perut masing-masing mereka asyik ber-‘keroncong-ria’.

Tapi bulan puasa tidak selalu diisi dengan kemuraman. Bisa tambah lapar.

Kadang anak-anak juga ngumpul di depan kelas masing-masing. Bikin cerita lucu atau tekateki yang aneh-aneh.

Sampai beberapa hari, teka-teki itu mulai nggak sehat. Mulai dicari-cari. Tapi malah semakin lucu.

Seperti teka-teki yang diberikan oleh Lupus: “Benda apa yang kalau siang ada di dapur, tapi kalau malam ada di pohon?”

Semua pada mikir. Dan mulai berspekulasi untuk menjawab dengan sembarangan. Sampai besoknya, Lupus baru memberikan jawaban. “jawabnya adalah panci!”

Tentu saja semua anak pada protes. Bagaimana mungkin panci bisa berada di pohon di waktu malam?

“Lho, itu kan panci saya ini. Terserah dong saya mau taruh di mana aja…,” elak Lupus yang langsung dimaki-maki penonton.

Dan canda-canda itu berlangsung sampai mereka tak sadar kalau hari mulai senja.

Meski sebenamya tak ada masalah, anak-anak sempat protes juga, karena sekolah belum libur meski sudah mendekati ulangan umum.

Waktu istirahat untuk minggu tenangnya cuma dikasih dua hari. Sabtu dan Minggu.

“Itu sih cuma cukup untuk ngeraut pensil!” maki Rosfita. teman Lupus yang punya prinsip: jangan pernah mengecewakan orang yang nawarin makan.

Tapi Lupus lebih suka sekolah. Kalau diam di rumah, waktu bisa terasa berjalan lebih lama. Enakan cari kesibukan di luaran.

Lalu Lupus naik metro mini menuju Blok M untuk jalan-jalan, dan melihat pemandangan yang indah-indah.

Di sana Lupus setengah mati menahan diri untuk tidak memandangi cewek-cewek kece di pinggir jalan. Dia jadi sok cuwek.

Tapi, apa iya lihat cewek cakep bisa ngebatalin puasa? Padahal cewek cakep itu kan karunia Tuhan yang menyenangkan untuk dilihat. Apalagi menyianyiakan karunia Tuhan kan dosa, lho!

Lupus jelas tak bisa menahan diri lagi ketika seorang cewek naik dan duduk tepat berhadap-hadapan dengannya.

Wajahnya benar-benar jet-set, kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam panjang terurai, bibirnya dipolesi lipstik merah muda yang tipis.

Benar-benar mubazir untuk tidak dilihat. Dan… sempurnalah godaan itu.

Saat-saat pertama Lupus masih bisa menahan diri untuk tidak terus-terusan memandang.

Cewek itu terlalu keren untuk ditaksir. Nggak bakalan ditanggapi. Dia mencoba mengalihkan perhatiannya ke luar jendela.

Tapi ternyata gadis itu mencuri-curi pandang ke arah Lupus. Lupus masih mencoba untuk tetap cuwek. Dia harus tabah, jangan tergoda.

Secara nggak sadar, dia tersenyum-senyum sendirian di metro mini. Di depan cewek cakep tadi.

Dan, oh God, cewek itu membalas senyum nyasar dari Lupus. Gimana nggak ge-er?

“Halo.” sapa Lupus berani. “Mau ke mana?”

Gadis itu tersenyum lagi. Senyum yang penuh godaan. “Ke Blok M, nih. Mau shopping. Anterin, yuk?”

Lupus agak kaget. Agresif banget cewek ini. Dan tanpa menunggu ajakan kedua, beberapa saat kemudian, Lupus telah berjalan keliling-keliling blok M berdua cewek tadi.

Dari situ dia tau, namanya Evan. Banyak sekali yang dibelinya. Seluruh pasar Blok M dikelilingi.

Dan Lupus jadi agak risi ketika Evan dengan seenaknya menggandeng tangan Lupus. Gimana kalau ceweknya tau?

Jam tiga siang, mereka berhenti di depan American Hamburger. Evan mengajak masuk.

Lupus jelas menolak, meski dia merasa sangat lapar dan haus.

“Ayo deh, saya yang traktir, kok…,” rayu Evan.

”Bukan masalah itu. Saya kan puasa!”

“Batal sehari kan nggak apa-apa. Ayo deh, kan capek lho udah keliling-keliling. Dikiiit aja. Yuk?”

“Kamu ajah deh, saya nggak.”

“Ya…, kok gitu. Nggak seru, ah. Tadi kita kan udah bareng. Ayo dong, Anak manis!”

Dan jebollah pertahanan Lupus. Akhirnya dengan langkah sedikit ragu, dibarengi celingak-celinguk kanan-kiri, takut kepergok orang rumah, Lupus masuk ke restoran.

Langsung dipesankan steak, strawberry milk-shake dan minuman dingin.

Waktu pun berlalu, saat itu mulai senja ketika Lupus melangkah masuk ke rumahnya.

Ketika itu ibunya masih sibuk kerja di dapur. Memasuk-masukkan makanan ke rantang.

Sepeninggal ayah Lupus, ibunya memang buka usaha katering. Lumayan, buat menyambung hidup, komentarnya.

Dan hasilnya memang luar biasa. lbu Lupus termasuk wanita yang ulet, yang tak menyerah kepada takdir.

Seperti sekarang ini, dia masih tetap bekerja meski puasa.

Berbeda dengan Lulu, adik Lupus. Kerjanya kalo puasa tidur melulu. “Itu lebih baik daripada nggosip!” belanya suatu ketika.

Lupus masuk ke ruang tengah dengan perlahan. Tapi ibunya melihat. ”Eh, Lupus. Baru pulang?

Itu lbu bikinkan kolak pisang kesukaan kamu buat buka puasa. Cepat mandi, sebentar lagi beduk, lho!”

Lupus tercekat. lbunya yang sibuk itu masih sempat membikinkan makanan kesukaannya.

Betapa ingin dia membahagiakan anak-anaknya. Sedang Lupus?

“Lho, kok malah bengong? Lapar, ya? Tahan aja sedikit. sebentar lagi buka. kok. Cepat mandi biar segar …. “

Tanpa berkata apa-apa. Lupus langsung ngeloyor ke kamar mandi. Dan sempat ketemu Lulu di depan kamar.

“Eh, Lupus, udah pulang. Itu ada oleh-oleh buat kamu.

Sekotak permen karen. Tadi ogut iseng beli waktu nganterin lbu ke pasar. Hayo, kamu masih puasa nggak?”

Lupus makin terpojok. Di kamar mandi, dia ingin teriak keras-keras. Meneriakkan ganjelan hatinya.

Dia memang ngaku masih puasa sampai kini. Dia tak ingin mengecewakan semuanya.

Tapi, siapa sangka kalau membohongi diri sendiri itu lebih menderita daripada ngebohongin orang lain

Beduk magrib berdentum di kejauhan. Diiringi oleh teriakan azan. Saat itu Lupus malah berlari ke telepon umum di depan rumahnya.

“Halo? Bisa bicara dengan Evan?”

“Ya, ini Evan …. “

“SEJUTA TOPAN BADAI BUAT KAMU!!!”

Sinopsis Novel Pertemuan Dua Hati – Nh. Dini

Sastra Angkatan 1980 an

Karya: Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin)

Ada sebuah keluarga di Kota Semarang yang terdiri dari seorang ibu bernama Bu Suci, suaminya, tiga orang anaknya, dan bibinya.

Dulu mereka tinggal di Purwodadi, karena pekerjaan suaminya, bu Suci dan keluarga terpaksa pindah ke kota Semarang, dan meninggalkan profesinya sebagai guru.

Suami Bu Suci sangat pengertian terhadap keluarganya. Dia selalu mendukung apa saja yang bu Suci lakukan selama itu benar.

Bahkan dia ingin mencari pekerjaan buat bu Suci sebagai guru lagi karena sudah sangat ingin mengajar seperti di Purwodadi dulu.

Pada suatu hari ketika mengantarkan anaknya ke sekolah, dia disetujui untuk menjadi seorang guru di sekolah dasar dimana anaknya bersekolah.

Bu Suci melalui hari pertama mengajar secara normal. Tapi, ia mulai merasa ada suatu yang aneh yang terjadi pada kelas tersebut.

Bu Suci berusaha untuk tidak pernah mencampurkan persoalan pribadi dengan persoalan di dalam pekerjaannya.

Bu Suci berupaya profesional dengan bisa membagi waktu, agar anak-anaknya tidak pernah merasa kehilangan sosok ibu di rumah tangga.

Pada minggu pertama mengajar, bu Suci makin terbiasa dengan keadaan di sekolah tersebut.

Tapi sekarang ia mulai mengerti apa yang mengganjal didalam pikirannya.

Seorang murid bernama Waskito ternyata telah menarik perhatiannya. Setiap kali ditanya tentang murid tersebut, semua anak seolah terdiam dan tidak ingin memberi jawaban pada bu Suci.

Tapi perlahan-lahan bu Suci pun mendapatkan jawaban atas semua yang terjadi.

Ternyata muridnya yang bernama Waskito tersebut salah satu murid yang bandel, dan selalu membuat keonaran di sekolah.

Siswa di sekolah selalu menjauhi dia dan takut jika bermasalah dengannya.

Menurut informasi yang didapat, Waskito seringkali memukul dan menjahili temannya yang ada di kelas, tanpa sebab apa pun, atau mereka merasa tidak pernah berbuat sesuatu yang membuat Waskito marah.

Sebagai seorang guru, bu Suci merasa ada hal yang perlu ia selesaikan dan ia ingin terlibat jauh pada masalah itu.

Dorongan hati yang kuat membuat bu Suci semakin ingin membantu Waskito menyelesaikan masalahnya.

Di lain pihak, ada suatu hal yang membuat bu Suci terpukul. Ternyata anak keduanya telah di vonis oleh dokter mengidap penyakit ayan, sehingga kesehatannya perlu dijaga serta ia tidak boleh banyak beraktivitas.

Banyak masalah besar yang dihadapi bu Suci. Di satu pihak ia ingin sekali berada di kelas serta mengetahui perkembangan muridnya yang nakal tersebut.

Tapi di pihak lain ia harus bersusah payah mengantar anaknya ke rumah sakit untuk berobat.

Hingga pada suatu hari bu Suci mengunjungi kediaman kakek dan Nenek Waskito untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin.

Ia pun tahu bahwa Waskito sebenarnya adalah anak yang baik, tapi karena perilaku orang tuanya yang memperlakukannya dengan tidak baik maka ia pun menjadi murid yang nakal.

Neneknya mengatakan bahwa ayahnya sering memukul Waskito tanpa alasan yang jelas jika Waskito melakukan suatu kesalahan tanpa memberikan pengarahan yang baik.

Tapi ibunya selalu memanjakannya sehingga Waskito tidak pernah tahu mana yang baik dan buruk.

Ketika tinggal bersama neneknya, Waskito menjadi anak yang tahu aturan dan menjadi disiplin.

Tapi semenjak orangtuanya memintanya kembali, maka ia kembali menjadi anak yang nakal dan selalu menjahili teman-temannya.

Bu suci berusaha membantu permasalahan yang dihadapi oleh Waskito. Seringkali ia memperhatikan semua perilaku Waskito, dan ia perlahan mencoba mendekati Waskito.

Langkah pertama bu Suci meminta Waskito untuk mengantar makanan pada anak keduanya yang sedang sakit.

Bu suci mencoba menggambarkan pada Waskito bahwa ia masih beruntung diberi kesehatan sehingga ia tidak perlu melakukan sesuatu yang tidak berguna untuk hidupnya.

Lalu Bu Suci memberi kepercayaan pada Waskito untuk membuat sesuatu, hingga pekerjaan yang dilakukan Waskito dan kelompoknya mendapat penghargaan dari teman-temannya.

Waskito diperlakukan baik dan menghargai keberadaannya oleh bu Suci.

Selama ini semua murid yang ada di kelas menganggap Waskito hanya sebagai biang onar dan keributan sehingga keberadaanya tidak diinginkan dan dibutuhkan.

Tapi, perlahan-lahan sekarang bu Suci mencoba membuat semua hal tersebut musnah.

Waskito tidak tinggal bersama orang tuanya lagi, tapi tinggal bersama bibinya, sehingga sedikit demi sedikit ia mulai mendapatkan pelajaran tentang sebuah kasih sayang.

Terutama dari keluarga bibinya, yang selalu rukun meskipun keadaan ekonomi mereka sulit.

Di rumah itu mereka kadangkali harus berbagi makanan, karena keterbatasan yang ada.

Tapi Waskito merasa senang tinggal di sana. Karena di rumah itu ia mendapat pengajaran tentang sopan santun dan kasih sayang.

Ibu Suci merasa lega dengan semua perubahan yang mulai Waskito tunjukkan.

Tapi secara tiba-tiba, pada suatu hari Waskito kembali mengamuk lantaran ada seorang yang menghina tanaman yang ia tanam, padahal maksud temannya tersebut hanya sekedar gurauan belaka.

Waskito sampai membawa Cutter yang di acuhkan ke udara, namun dengan berani bu Suci merampas Cutter tersebut dari tangan tersebut saat Waskito lengah.

Walaupun tindakan tersebut tidak terlalu berbahaya, tapi  semua guru sepakat untuk mengeluarkan Waskito dari sekolah karena sikap Waskito sudah keterlaluan.

Tapi bu Suci tetap berusaha dan dengan segenap hati meminta agar diberi waktu untuk membimbing Waskito, jika ia gagal jabatannya sebagai guru rela jika harus di cabut.

Bu Suci berusaha memberi pengertian kepada Waskito bahwa Waskito akan merubah sikapnya karena selain ia yang harus di keluarkan dari sekolah, tapi juga jabatan bu Suci sebagai guru juga dipertaruhkan oleh sikap Waskito.

Mulai dari peristiwa tersebut bu Suci dan Waskito semakin dekat dan akhirnya sedikit demi sedikit Waskito mau berbagi cerita dan mau untuk menerima nasihat bu Suci.

Hingga pada akhir semester Waskito naik kelas dan keluarganya sangat berterimakasih karena mereka tidak menyangka bahwa Waskito dapat merubah sikapnya dan dapat pula naik kelas.

Pada masa liburan, Waskito dan keluarga bu Suci pun berlibur ke desa mereka di Purwodadi.

Sejak bertemu dengan Waskito bu Suci merasa hatinya telah dipertemukan dengan hati Waskito.

Bu Suci bisa menjadi seorang guru yang profesional dalam mengatasi masalah sekolah dan masalah pribadi.

Sinopsis Novel Bekisar Merah – Ahmad Tohari

Sastra angkatan 1980 – 1990 an

Karya: Ahmad Tohari

Ringkasan Umum:

Novel ini bercerita tentang pahit dan susahnya hidup seorang wanita bernama Lasi.

Dia adalah seorang wanita yang sangat cantik dan mirip orang jepang. Sehingga dia disebut Bekisar Merah yang berarti hiasan yang sangat indah. Juga bercerita tentang cinta yang terpendam.

Di sebuah desa terpencil bernama kampung Karangsoga terdapat sepasang suami istri bernama Darsa dan Lasi.

Mereka hidup sangat sederhana dengan pekerjaan sebagai penyadap nira. Sering disebut penderes nira atau penderes kelapa.

Mereka belum juga punya anak walaupun sudah tiga tahun menikah. Tapi Darsa tetap bahagia karena istrinya Lasi adalah wanita cantik berkulit putih dan mirip orang jepang.

Mengangkat pongkor adalah pekerjaan sehari-hari Darsa. Pada suatu hari, dia agak telat sampai ke rumah, sampai sore belum pulang juga.

Mengingat pekerjaan suaminya yang sering memanjat pohon nira yang mempertaruhkan nyawa,

Lasi pun menjadi khawatir dan cemas pada keadaan suaminya. Tiba-tiba datang seorang lelaki membopong Darsa.

Ternyata orang yang dibopong adalah suaminya Darsa yang jatuh dari pohon kelapa dan sekarat.

Seketika Lasi terperanjat dan histeris, sebab dia tidak punya uang untuk membiayai pengobatan suaminya.

Kemudian Lasi yang panik meminta bantuan warga sekitar. Untunglah ada Eyang Mus yang menyarankan agar Darsa dibawa ke rumah sakit.

Setelah dirawat sekian hari, ternyata penyakit Darsa tidak sembuh juga. menurut dokter, Darsa harus dioperasi karena Darsa masih sering kencing dicelana dan juga menjadi lemah syahwat.

Karena tidak punya uang untuk operasi, akhirnya Darsa dibawa pulang. Lalu dipilihlah pengobatan murah yaitu pergi ke dukun yang bernama Bunek.

Ternyata Bunek adalah dukun yang tekun dan sabar, dia merawat Darsa setiap hari tanpa kenal lelah.

Berangsur-angusur sampai akhirya Darsa sembuh dari penyakitnya dan diharapkan juga sembuh dari lemah syahwat.

Lalu Bunek ingin membuktikan kejantanan Darsa dengan cara berhubungan dengan anaknya bernama Sipah yang cacat dan kakinya pincang.

Bunek juga menganggap inilah cara untuk membalas jasanya yang membuat Darsa sembuh.

Sejujurnya Sipah menolak keinginan ibunya karena dianggap melanggar hukum agama.

Tapi karena dibujuk dan didesak terus, dengan berat hati Sipah mau melakukan hal itu.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Darsa yang sejujurnya tidak mau melakukan perbuatan yang bertentangan dengan agama dan hati nuraninya.

Apalagi Darsa tidak mau menyakiti hati istrinya Lasi. Akhirnya Darsa melakukan suruhan Bunek tadi.

Sedangkan di lain pihak, istri Darsa yang bernama Lasi kembali mendapat cobaan baru atas kejadian Darsa menggauli Sipah atas suruhan Bunek.

Memang dari dulu hidup Lasi selalu susah.

Semenjak Lasi kecil sudah sering menjadi obrolan warga kampung dan warga sekitar.

Karena Lasi memiliki wajah mirip orang jepang, bahkan terkadang anak-anak desa sering mengejek lasi dengan sebutan “lasipang” atau Lasi anak Jepang.

Sementara ada teman Lasi yang bernama Kanjat. Dia adalah pemuda baik dan tidak mau mengejek Lasi.

Kanjat adalah salah satu dari sangat sedikit lelaki yang budi pekertinya baik dan tidak nakal.

Karea penasaran sering jadi pembicaraan warga, maka suatu hari Lasi memberanikan diri bertanya tentang siapa ayah kandung atau ayah biologisnya.

Setelah ditelusuri, ternyata Ayah Lasi yang sekarang yaitu Pak Wiryaji bukanlah Ayah kandung Lasi.

Informasi itu didapat dari Mbok Wiryaji yang pada awalnya tidak mau memberitahu pada Lasi.

Mbok Wiryaji akhirnya menerangkan juga siapa ayah kandung Lasi.

Dia juga menjelaskan kronologis bagaimana ceritanya dia berhubungan dengan orang Jepang yang menjadi ayah kandung Lasi.

Mendengar keterangan itu Lasi jadi tahu akan asal-usulnya, walau akhirnya dia menjadi sedih.

Sementara itu, ternyata kesembuhan Darsa memang terbukti. Sipah menjadi hamil setelah berhubungan dengannya.

Karena anaknya sudah hamil, lalu Bunek menuntut Darsa untuk menikahi Sipah Anaknya

Mendengar khabar tentang hal itu, hati Lasi bertambah sedih. Dia tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan, hidupnya serasa hancur.

Akhirnya secara diam-diam Lasi berniat meninggalkan Desa Karangsoga yang penuh peristiwa menyakitkan baginya.

Lasi lalu menumpang truk yang dikemudikan Pardi tetangganya.

Jakarta adalah tempat yang dituju Lasi. Di ibukota ini Lasi dititipkan di warung makan milik Bu Koneng langganan Pardi.

Kemudian Bu Koneng pun membujuk Lasi untuk tetap tinggal di rumahnya dan mempekerjakan Lasi sebagai pelayan warungnya.

Bu Koneng prihatin pada nasib Lasi. Dia selalu mendengarkan cerita Lasi di kampung dan tentang suaminya.

Bu Koneng juga sering memuji kecantikan Lasi. Karena makin hari makin akrab, akhirnya Lasi mau juga tinggal bersama Bu Koneng.

Pada suatu hari datang seorang tamu bernama Bu Lanting ke rumah Bu Koneng.

Berawal dari sinilah Lasi berkenalan dengan Bu Lanting yang sering memanfaatkan para wanita cantik untuk diperistrikan pejabat-pejabat kaya.

Melihat kecantikan Lasi, maka pada suatu hari Bu Lanting kembali datang ke rumah Bu Koneng.

Kedatangannya membawa hadiah mewah untuk Lasi berupa pakaian lengkap yang bagus kualitasnya.

Kemudian Lasi menerima hadiah tersebut, dan mencoba pakaian bagus tersebut.

Tapi tiba-tiba Lasi ingat pesan Mbok Wiryaji yang mengatakan jika ada yang memberi sesuatu pasti dia akan menuntut imbalan.

Pesan inilah yang selalu diingat oleh Lasi.

Setelah itu Lasi tinggal bersama Bu Lanting. Kemudian Lasi menjadi wanita yang sangat tercantik setelah diberi pakaian bagus.

Dia juga sering diajak jalan-jalan keliling ibukota. Lasi hanya menurut setiap tawaran Bu Lanting karena telah menganggap sebagai anak angkatnya.

Hinga akhirnya Bu Lanting memperkenalkan Lasi dengan seorang pengusaha kaya yang sudah berumur 50 tahunan.

Lelaki tua yang benama Handarbeni itu tergoda hatinya.

Lasi pun menjadi pasrah pada nasihat Bu Lanting yang selama ini baik padanya.

Lasi yang dulu selalu hidup susah kini mulai berpikir karena akan dinikahi Handarbeni. Bu Lanting bilang, siapa yang mau menolak keberuntungan,

Di lain pihak, Bu Lanting sangat beruntung jika Lasi mau menjadi istri Handarbeni,

maka dia akan mendapat harta melimpah karena menyediakan bekisar merah untuk orang kaya.

Sempat ada peluang bagi Lasi untuk tidak jadi dinikahi lelaki tua Handarbeni.

Dia ada kesempatan untuk pulang ke Desa Karangsoga ketika diajak oleh Kanjat. Tapi saat itu Lasi menolak.

Sedangkan di dalam hati, sebenarnya Kanjat sejak saat itu mulai tersentuh hatinya terhadap Lasi begitupun Lasi kepada Kanjat, tapi mereka hanya menyimpannya dalam hati.

Akhirnya Lasi pun menjadi nyonya Handarbeni, hidupnya tidak ada kekurangan semuanya tercukupi.

Sejak saat itu hidup Lasi tak ubahnya Bekisar Merah, unggas cantik yang sering menjadi hiasan rumah orang kaya.

Tapi itu hanya beberapa waktu saja. Lasi merasa kecewa terhadap Handarbeni yang impoten.

Lasi tambah kecewa ketika Handarbeni menyuruhnya untuk mencari kepuasan seksual dengan pria lain.

Akhirnya minta ijin pulang kampung ke Desa Karangsoga untuk sementara waktu.

Lasi pun dengan diantar mobil mewah lengkap dengan sopirnya. Hal ini membuat warga Karangsoga kagum atas kemewahan yang dimiliki Lasi.

Karena keadaan berubah, Lasi memutuskan tinggal lebih lama di kampungnya. Dia memanfaatkan kesempatan dengan membangun rumah orang tuanya.

Suaminya Handarbeni terkadang juga datang memberi bantuan dana kepada desa untuk membangun infrastruktur.

Sekarang warga desa dan tetangga Lasi terbalik menjadi hormat pada Lasi, walau dulu sering menghinanya karena miskin.

Hingga pada suatu hari Lasi bertemu lagi dengan teman kampungnya yang baik yaitu Kanjat.

Ternyata Kanjat membutuhkan dana besar untuk penelitiannya. Lasi bermaksud membantu Kanjat.

Waktu bertemu Kanjat, sebenarnya Lasi bermaksud menceritakan peristiwa pahit yang dialaminya di Jakarta.

Dia juga ingin menyampaikan bahwa ingin bercerai dengan Handarbeni.

Karena sudah lama memendam perasaan, lalu Lasi memberanikan diri untuk bertanya kepada Kanjat, apakah Kanjat mau menikahinya setelah janda nanti.

Namun Kanjat masih bingung karena jika ia berniat memperistri janda, maka dia tidak tahu bagaimana komentar bapaknya dan para tetangga

Kemudian Kanjat dan Lasi berniat melihat penebangan banyak pohon kelapa yang selama ini menghidupi para penyadap.

Pohon-pohon kelapa itu ditebang karena akan menjadi jalur listrik yang akan mengaliri desa Karangsoga.

Kanjat dan Lasi kaget mendapat informasi bahwa banyak pohon kelapa milik Darsa yang akan ditebang tanpa ganti rugi.

Mereka sedih pada nasib Darsa yang miskin akan bertambah miskin setelah penebangan itu. Pasti Darsa susah membiayai anak dan istri barunya Sipah.

Kemudian Lasi dan Kanjat berkunjung ke rumah Darsa dan berusaha memberi support dan mencoba menenangkannya.

Lalu Lasi memberikan uang yang banyak untuk biaya hidup satu tahun kepada Sipah.

Ketika mau pamit bahwa besok akan balik ke Jakarta, Lasi bertanya pada Kanjat apakah masih menyimpan foto Lasi, ternyata Kanjat masih menyimpannya.

Demikian juga dengan Lasi, dia masih menyimpan foto Kanjat. Tapi sayang, mereka berdua sangat susah untuk mengungkapkan langsung,

Kanjat dan Lasi kembali terpaku diam.

Mereka saling berpandangan. Kanjat masih terpesona pada makna yang tersimpan di balik mata Lasi yang indah.

Namun Kanjat juga sadar bahwa dia hanya bisa terpesona, karena dia tidak bisa menolak kenyataan bahwa Lasi masih punya suami.

Kanjat juga melihat makna lain dari tatapan mata Lasi. Masih ada duka lama tersimpan di sana.

Kanjat juga jadi ingat pada Darsa, Sipah, dan anaknya, dia jadi ingin membantu mereka yang hidup susah sebagai penyadap kelapa.

Dalam diam, Kanjat masih terpesona pada Lasi yang merupakan harapan dan cita-cita yang tetap hidup dalam jiwanya.

Sinopsis Cerpen: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak! (Serial Lupus) – Hilman Hariwijaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Lupus adalah seorang siswa yang bersekolah di SMA Merah Putih. Dia memiliki gaya dan ciri yang khas,

yaitu: badan kurus dan sedikit tinggi, suka pakai baju lengan panjang, model rambutnya yaitu bagian depan yang panjang hampir menutupi mata,

bagian samping dipotong rapi ke arah belakang, dan bagian belakang terlihat panjang hampir menutupi kerah baju.

Ciri lupus yang lain yaitu dia gemar mengunyah permen karet, dan sering pula membuat balon besar dari permen karet tersebut.

Dia juga suka menulis artikel dan kadang juga cerpen di majalah remaja. Dari hasil menulis tersebut, dia tak pernah minta uang dari ibunya.

Seperti biasa, kalau pergi sekolah Lupus sering naik bis kota, tapi kali ini dia disuruh guru biologi membawa contoh-contoh tanaman dan baju praktek. 

Jadinya dia agak kerepotan naik bis.

Walau susah payah di dalam bus yang penuh sesak, Lupus berhasil berkenalan dengan seorang cewek cantik yang bernama Yanti.

Mereka lalu ngomong banyak mulai dari soal sekolah, cuaca, film, musik, dan makanan favorit. Mereka jadi akrab dan sangat dekat.

Sementara lalu lintas sedang macet. Kalau pagi memang banyak orang yang bertugas. api Lupus tidak menyesali macet ini. Malah bersyukur.

Sampai di Senayan, ada seseorang yang turun dan meninggalkan bangku kosong yang langsung diduduki Yanti.

Lupus pun segera menitipkan bawaannya yang banyak kepada Yanti. Contoh-contoh tanaman serta diktat yang besar-besar.

Tapi pembicaraan mereka terputus karena ada pula seorang cowok lain yang juga ngomong dengan Yanti.

Lupus jadi kesal. Sampai akhirnya buru-buru turun.   Tapi sayang, hal ini membuat dia lupa membawa turun barang bawaannya yang banyak.

Lupus jadi sangat kesal dan ingin berteriak. Lalu dia mengambil permen karet dan menggigitnya keras-keras.

Tiba-tiba terdengar suara seorang cewek yang memanggil Lupus. Ternyata dia adalah Yanti yang membawa barang bawaan Lupus yang tertinggal.

Harusnya Yanti turun di Mayestik, tapi dia bela-belain untuk mengembalikan barang bawaan lupus yang terlupa.

“Wah, makasih banget, Yan! Bawa sini dong!” sahut Lupus girang sambil menghampiri Yanti.

Tapi Yanti malah menjauh sambil tertawa-tawa. ”Ayo, tangkap dulu, dong. Hahahaha”

Dengan romantise dadakan, Lupus dengan mudah menangkap Yanti. Setelah itu Lupus pun dengan setia menemani Yanti menunggu bis yang akan lewat berikutnya.

Lupus sangat menikmati suasana ini. Tidak peduli bel sekolah yang berdentang di kejauhan. Dan dia malah bersyukur ketika bis yang ditunggu tak kunjung tiba.