Sinopsis Novel Maryamah Karpov (Mimpi-mimpi Lintang) – Andrea Hirata

Sastra angkatan 2000 – an

Karya: Andrea Hirata

Ringkasan umum:

Karya ini adalah kelanjutan dari Novel Edensor. Inilah Novel terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Bercerita tentang pencarian A Ling oleh Ikal. Novel ini juga menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pada tiga buah novel sebelumnya.

Pada suatu hari Ayah Ikal yang bernama Seman Said Harun, menerima surat dari Mandor Djuasin bahwa dia naik pangkat.

Pada awalnya kebahagiaan terpancar dari wajahnya, karena baginya hampir tidak mungkin akan naik pangkat.

Tapi sayang, ternyata surat itu salah alamat dan Ayah Ikal tidak jadi naik pangkat.

Lalu terbersit lagi kenangan Ikal ketika masih berada di Prancis. Dia harus belajar sekuat tenaga untuk sidang tesisnya.

Apalagi ketika itu sidang tesis juga bertepatan dengan bulan Ramadhan dan harus menahan haus lapar.

Makanya Ikal mengalami sakit kepala sebelum sidang tesisnya dimulai.

Hakim dari sidang tesis bernama Antonia LaPlagia. Sebelum Ikal masuk ruangan sidang thesis, ada mahasiswa dari negara Georgia yang bernama Ninochka Stronovsky yang dihardik habis-habisan.

Tapi untunglah ketika Ikal menjalani ujian sidang, dia mampu menjelaskan semua hasil risetnya dengan baik.

Kemudian dengan mudahnya dia dinyatakan lulus ujian sidang.

Ikal pun pulang jalan kaki dengan gembira ke apartemennya setelah ujian sidang tersebut.

Seminggu setelah itu, sebelum pulang lagi ke Indonesia, Ikal menyempatkan diri mengunjungi Edensor dan menghadiri Farewell Parties yang diadakan oleh teman-temannnya.

Kemudian Ikal meninggalkan Paris menuju bandara Schippol di Belanda untuk naik pesawat menuju ke Indonesia.

Setelah sampai di Jakarta dia melanjutkan perjalanan dengan naik kapal menuju kampung halamannya ke Belitong.

Akhirnya Ikal sampai di Belitong dan disambut oleh keluarga dan beberapa warga desa.

Ikal bergegas ke rumah dan langsung mencari Ayahnya yang sudah lama sangat ingin dijumpai Ikal dari perjalanannya yang jauh.

Kepala kampung yang bernama Ketua Karmun mendatangi Ikal dan memintanya untuk menjadi ketua panitia penyambutan dokter gigi yang bernama dr. Budi Ardiaz Tanuwijaya.

Setelah bertahun-tahun dia menjadi kepala kampung, akhirnya ada juga dokter yang akan praktik di kampung itu.

Atas bantuan dan kerja Ikal, akhirnya acara penyambutan itu berjalan dengan sukses. Semua warga kampung menjadi senang atas acara ini.

Setelah acara penyambutan itu telah usai, suasana kampung Ikal tetaplah ramai. Acara itu menyisakan kenangan yang indah.

Salah satu kenangan adalah banyak orang-orangnya yang dipanggil dengan sebutan yang lucu dan aneh.

Contohnya adalah panggilan pada Berahim Harap Tenang, dia dipanggil begitu karena dia adalah pemutar bioskop yang memasang slide “HARAP TENANG” pada setiap pergantian rol.

Lalu ada panggilan Kamsir si Buta dari Gua Hantu, karena dia sangat terobsesi pada film Si Buta dari Gua Hantu.

Disamping itu juga ada panggilan Semaun Barbara, San Thong Pompa, Zainul Helikopter.

Serta masih banyak lagi orang yang mendapat panggilan aneh dan lucu akibat kekonyolan yang mereka lakukan.

Pada suatu hari ada sesuatu yang berubah dari Arai. Dia tampil lebih rapi dan tampak lebih ganteng.

Setelah ditelusuri ternyata dia menerima sepucuk surat dari gadis pujaan hatinya yaitu Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum.

Melalui surat itu Zakiah mengabarkan bahwa dia akan pulang ke Belitong dan membolehkan Arai untuk menjemputnya.

Berhari-hari Arai tidak bisa tidur dan terus menyiapkan diri untuk menyambut Zakiah.

Pada hari kedatangan Zakiah. Arai terlihat sangat gugup dan kikuk. Dia hanya berdiri mematung di hadapan Zakiah, tidak bisa berbuat apa-apa.

Sementara itu Ketua Karmun sang kepala kampung terus mimintawarga kampung supaya datang ke Klinik Dokter Diaz untuk memeriksakan giginya.

Banyak upaya yang dia lakukan untuk membujuk warga.

Pada suatu hari Ketua Karmun dapat informasi bahwa Tancap bin Seliman sakit gigi.

Kepala kampung itu menjadi senang, tapi ternyata Tancap bin Seliman tidak mau berobat ke klinik dokter Diaz walaupun pipinya bengkak seperti timun suri.

Kemudian Ketua Karmun mengomel dan marah-marah.

Ternyata bukan hanya Tancap bin Seliman yang sakit gigi. Ikal juga sakit giginya.

Namun Ikal juga tidak mau berobat ke klinik itu karena trauma berurusan dengan dokter yang berpakaian serba putih dan jarum suntik.

Lalu ada kabar tentang Arai yang dihubungi oleh Liaison Officer mereka yang bernama Maurent LeBlanch.

Arai ditawari oleh Liaison Officer untuk melanjutkan studinya sampai tingkat Ph.D.

Ternyata tawaran itu membuat Arai gelisah dan berada dalam dilema.

Di satu sisi dia ingin melanjutkan studi, tapi di lain sisi dia harus meninggalkan Zakiah yang dicintainya.

Setelah beberapa waktu berada dalam pilihan yang sulit, Arai kemudian mengadakan perbincangan panjang dengan keluarganya dan keluarga Zakiah.

Hasilnya adalah Arai akan menikahi Zakiah pada tanggal 16 Mei.

Pada suatu malam Ketua Karmun mendatangi rumah Ikal. Bukan untuk membujuk Ikal lagi agar berobat ke Klinik Dokter Diaz.

Namun dia memberi tahu bahwa orang kampung tumpah ruah di dermaga karena si Maskur yang sering melaut, pulang membawa sesosok jenazah.

Seketika Ikal langsung datang ke dermaga. Ada sebuah tanda dari jenazah yang dikenali Ikal.

Ada rajah kupu-kupu di lengan jenazah itu menandakan dia adalah keluarga A Ling.

Sejak peristiwa ditemukan mayat tersebut, Ikal terus berfikir tentang A Ling dan ingin mencari pujaan hatinya itu.

Sudah lama dia mencari tanda-tanda keberadaan A Ling.

Kemudian Ikal berusaha untuk membuat perahu, dia akan berlayar ke pulau Batuan yang angker itu untuk mencari dan bertemu dengan A Ling.

Usaha Ikal dibantu oleh anggota Laskar Pelangi lainnya. Ikal merasa senang dan beruntung.

Tapi sayang, ternyata Ibu Ikal akhirnya mengetahui rencananya berlayar ke pulau Batuan.

Meskipun Ibu memarahinya, Ikal tetap bersikeras ingin berlayar ke pulau Batuan dengan kapal buatannya yang tentu saja pembuatannya dibantu oleh anggota Laskar Pelangi yaitu sahabatnya Lintang.

Setelah 7 bulan bekerja keras membuat perahu, akhirnya kapal tersebut selesai. Kemudian diberi nama Mimpi-Mimpi Lintang.

Kapal itu siap dipakai untuk berlayar mengarungi ganasnya samudera. Kapal itu akan dipakai oleh Ikal ditemani oleh Mahar, Kalimut, dan Chung Fa.

Dengan naik kapal itu, kemudian Ikal bersama dengan ketiga rekannya berangkat ke Batuan.

Sebelum sampai Batuan, mereka singgah ke rumah Puniai yaitu seorang nelayan karimata yang sangat tua.

Di rumah Puniai itu, dengan bantuan Mahar, untuk pertama kalinya Ikal dapat melihat hantu.

Setelah menempuh perjalanan panjang mengarungi samudera yang penuh akan marabahaya, usaha panjang Ikal membuahkan hasil jua.

Ikal akhirnya berhasil menemukan gadis pujaannya A Ling. Saat itu dia sedang dirawat di sebuah rumah kecil di sebuah pulau sepi seperti kuburan yang termasuk gugusan dari pulau Batuan.

Kemudian Ikal membawa A Ling pulang ke Belitong. Kepulangan A Ling dimanfaatkan Ketua Karmun supaya Ikal mau berobat gigi ke Klinik dokter Diaz.

Kepala kampung itu khawatir klinik akan ditutup karena tidak adanya pasien yang berkunjung.

Ternyata usaha Ketua Karmun berhasil. Sudah setahun lebih Ikal dibujuk untuk berobat gigi tetapi tidak berhasil.

Tapi ketika dibujuk A Ling selama kurang dari 10 menit, Ikal akhirnya berhasil dibujuk.

Gigi Ikal dicabut di Klinik Dokter Gigi Diaz. Pencabutan gigi Ikal digelar dengan sangat meriah dan dihadiri banyak orang.

Dokter Gigi Diaz butuh waktu tidak sampai satu jam untuk mencabut gigi geraham yang tumbuh berantakan di mulut Ikal.

Setelah proses pencabutan gigi tersebut, Ketua Karmun tertawa gembira.

Setelah pencabutan gigi yang meriah itu, waktu pun berganti. Akhirnya Ikal memberanikan diri untuk mohon izin kepada Ayahnya untuk menikahi A Ling.

Ikal sangat mengharapkan persetujuan dari Ayah yang sangat dihormatinya itu. Tapi kenyataan tidak seperti harapan Ikal.

Ternyata Ayahnya tidak mengizinkannya untuk menikahi A Ling yang merupakan gadis Hokian yang sebenarnya adalah gadis Ho Pho itu.

Dengan hati yang tidak menentu, Ikal kemudian menemui A Ling. Mereka lalu saling memandang. Banyak makna tersirat terpancar dari mata mereka.

A Ling pun tahu bahwa Ayah Ikal tidak menyetujui pernikahan mereka. Mereka terdiam di tempat mereka bertemu yaitu di Lapangan Padang Bulan.

Suasana sangat sepi di tempat itu. Seperti senyapnya hati kedua insan yang tidak disetujui untuk menikah.

Tapi Ikal tetaplah seorang anggota Laskar Pelangi yang gigih, juga seorang pemimpi yang teguh berjuang, tak kenal menyerah.

Ikal membulatkan tekad yang sudah ada sejak dulu. Kemudia dia berencana akan mencuri A Ling dari pamannya dan membawa gadis pujaannya untuk melintasi selat Singapura.

Sinopsis Novel Ranah 3 Warna – Ahmad Fuadi

Sastra angkatan 2000 – an

Karya: Ahmad Fuadi

Ringkasan umum:

Novel ini merupakan kelanjutan dari kisah Alif yang baru selesai menamatkan sekolah di Pondok Madani (PM) Ponorogo Jawa Timur.

Dia tetap bermimpi menjadi seperti Bapak B.J Habibie dan bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Alif akhirnya jadi sadar bahwa disamping ungkapan “Man Jadda Wajada”

yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil, ada juga ungkapan lain sebagai pelengkap yaitu “Man Shabara Zhafira” artinya siapa yang bersabar akan beruntung.

Tidak lama setelah tamat dari Pondok Madani, Arif Fikri pun segera pulang ke kampung halaman di Maninjau Sumatra Barat.

Sekarang dia punya sesuatu yang bisa dibanggakan pada orang tua dan masyarakat sekitar, yaitu bisa menguasai Bahasa Arab dan Inggris,

dan yang lebih penting dia bisa menamatkan pendidikan dengan sukses di Pesantren Pondok Madani.

Tapi impiannya masih gemilang seperti dulu, yaitu ingin kuliah Teknik Perbangan di Institut Teknologi Bandung (ITB), dan menjadi seperti mantan presiden Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie.

Satu yang berbeda adalah Alif Fikri ingin merantau ke Amerika Serikat.

Sebelum masuk ITB, dia harus mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).

Tapi sahabat dekatnya sejak kecil yaitu Randai, meragukan kemampuan Alif lulus UMPTN.

Sebelum mengikuti UMPTN, dia tahu ada syarat yang dibutuhkan yaitu ijazah SMA karena dia adalah lulusan Pondok Pesantren bukan SMA.

Oleh karenanya dia akan mengikuti ujian persamaan yang tinggal dua bulan lagi.

Kemudian Alif belajar dengan sungguh-sungguh dan membaca buku-buku SMA yang dia pinjam dari Dasrul, Zalman dan Elva.

Alif sadar bahwa dia tertinggal dalam belajar hitungan dan dan ilmu pasti.

Walau demikian dia masih yakin bisa lulus UMPTN dan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri.

Walau dengan berat hati, akhirnya dia bertindak secara realistis. Karena waktu yang terbatas dan kemampuan yang dia punya saat ini tidak cocok dengan impiannya,

lalu Alif memutuskan mengambil jurusan IPS, artinya dia harus rela tidak jadi kuliah di ITB.

Alif kemudian mengikuti ujian persamaan. Alhamdulillah dia lulus dengan nilai rata-rata 6,5.

Setelah lulus ujian persamaan, kemudian Alif mengikuti UMPTN. Ada beberapa soal yang sama sekali dia tidak tahu jawabannya.

Tapi Alif percaya diri pada dua mata ujian yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Kemudian setelah beberapa waktu, Alif membaca pengumuman hasil UMPTN melalui Surat Kabar Harian Haluan Padang.

Waktu itu koran tersebut dibawa oleh sopir Bis Harmonis.

Alif memeriksa secara hati-hati nomor ujian para peserta UMPTN yang lulus. Ketika melihat nomor ujian 01579, dia bernafas gembira.

Artinya Alif lulus dan diterima pada Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat.

Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, Alif pun berangkat ke Bandung dan akan menginap di tempat kos temannya Randai yang terletak di daerah Dago.

Pada hari pertama mengikuti kuliah, Alif bertemu dengan Profesor Dr. Mochtar Kusumaatmadja yaitu mantan menteri luar negeri Republik Indonesia

Kemudian dia berhasil berjabatan tangan dengan tokoh yang sangat dikenal oleh Alif tersebut.

Di Bandung Alif mengenal seorang perempuan bernama Raisa. Gadis itu juga kuliah di Unpad jurusan Komunikasi. Diam-diam Alif mulai jatuh cinta pada Raisa.

Banyak sekali cobaan, pengalaman, dan tantangan yang dihadapi Alif selama kuliah di UNPAD.

Baru beberapa bulan kuliah, Alif mendapat cobaan yang sangat berat yaitu meninggalnya Ayah Alif.

Kehilangan ayah yang menjadi tulang punggung keluarga membuatnya goyah.

Dia jadi ragu untuk melanjutkan kuliah karena kesulitan biaya, dan mempertimbangkan juga tentang biaya sekolah bagi adik-adiknya.

Alif hampir putus asa, tapi Amak (Ibu) nya terus memberi semangat secara tulus. Alif kemudian membulatkan tekad untuk melanjutkan lagi kuliahnya.

Kemudian Alif berkenalan dengan Bang Togar Perangin-angin, yaitu kakak tingkatnya di majalah kampus.

Lalu Alif pun tertarik pada dunia tulis menulis. Walau ditempa secara keras oleh Bang Togar, tapi Alif tidak kecil hati. Dia tetap menggeluti dunia tulis menulis.

Akhirnya dia berhasil membuat artikel, dan dimuat pada media lokal di Bandung.

Dengan keahlian ini Alif bisa mulai membiayai sendiri hidupnya di tanah perantauan.

Selama kuliah, Alif mencoba mengikuti tes pertukaran pelajar ke Amerika.

Karena memiliki niat dan tekad yang kuat, akhirnya Alif berhasil lolos seleksi dengan berbagai kriteria dan pertimbangan oleh pihak panitia.

Kemudian Alif bisa berangkat ke Benua Amerika yaitu ke Negara Kanada dalam program pertukaran pelajar.

Selain Alif, ada juga mahasiswa Unpad lain yang ikut proram ini yaitu Raisa, Rusdi, Dina, Topo, Sandi, dan Ketut.

Mereka lalu tinggal di sebuah kota kecil di Kanada. Mereka mendapat homestay parent atau Homologue yang bernama Francois Pepin di sebuah kota yang bernama Quebec.

Selama berada di Kanada banyak pengalaman yang Alif dapatkan. Selama dalam perukaran itu Alif dan kawan-kawan akan mempromosikan budaya Indonesia ke masyarakat Canada.

Demikian pula pengalaman yang didapatkan dengan sesama teman-teman kuliah yang sama-sama berada di Kanada.

Mulai canda, tawa, cinta, sedih campur menjadi satu hingga Alif mendengarkan pernyataan dari Raisa secara tidak sengaja yang menyatakan bahwa dia tidak ingin pacaran, tapi dia ingin langsung ke jenjang pernikahan.

Pernyataan Raisa ini yang membuat Alif mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaan cinta pada Raisa melalui sebuah surat.

Kemudian Alif menyimpan surat itu hingga suatu hari nanti.

Setelah satu tahun berlalu, Alif dan teman-temannya yang mengikuti proram pertukaran pelajar di Kanada kembali lagi ke Indonesia.

Mereka pun melanjutkan kuliah lagi di Unpad Bandung.

Beberapa tahun kemudian, Alif pun lulus dari Hubungan Internasional pada Universitas Padjajaran.

Dia mendapatkan nilai yang bagus dan berhasil menyandang gelar sarjana.

Pada hari kelulusan itu, Alif berniat menyerahkan sebuah surat sebagai ungkapan perasaan cinta pada Raisa.

Surat itu sudah disiapkan Raisa sejak lama mulai dari kebersamaan mereka di Kanada.

Tapi siapa menduga, ternyata saat dia ingin menyerahkan surat tersebut, Alif sangat terkejut, dia mengetahui Raisa telah bertunangan dengan Randai.

Walau dengan perasaan yang gundah gulana, akhirnya Alif dengan setengah ikhlas mengucapkan selamat pada mereka berdua.

Sampai beberapa hari setelah wisuda dan mengetahui Raisa akan menikah dengan Randai,

badan Alif menjadi lemas karena masih terkejut mengetahui informasi bahwa wanita yang selama ini dipuja,

akhirnya menikah dengan Randai yaitu teman karib sejak kecil yang selalu bersaing dengannya.

Pada akhirnya Alif bisa menarik kesimpulan selalu di ajarkan di Pondok Madani, yaitu mengikhlaskan.

Itulah satu-satunya cara agar dia bisa mendamaikan dan mententeramkan hatinya.

Sekarang dia sadar bahwa nasihat yang dia dapatkan dari gurunya Kiai Rais ketika belajar di Pondok Pesantren Madani menjadi terbukti.

Bahwa disamping ungkapan “Man Jadda Wajada” yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil, ada juga ungkapan lain sebagai pelengkap yaitu “Man Shabara Zhafira” artinya siapa yang bersabar akan beruntung.

Sinopsis Novel Edensor – Andrea Hirata

Sastra angkatan 2000 – an

Karya: Andrea Hirata

Ringkasan umum:

Ini adalah kelanjutan dari Novel Sang Pemimpi.  Berkisah tentang perjalanan hidup Ikal dan Arai di Eropa dan Afrika.

Menyusuri  perbedaan budaya, petualangan, cinta, dan impian lama yang masih terpendam.

Seorang bayi terlahir dengan nama Aqil Barraq Badruddin. Dia adalah anak kelima dari orang tuanya.

Sebenarnya saat mengandung ibunya mengharapkan anak ke limanya ini seorang wanita, karena ke empat anak sebelumnya adalah laki-laki.

Walau menyandang nama indah yaitu Aqil Barraq Badruddin, tapi sayang ternyata Ikal menjelma menjadi seorang anak yang sangat nakal dan sering membuat keonaran.

Hal ini acapkali membuat warga kampung dan orangtuanya menjadi pusing.

Karena kenakalannya tersebut, Ikal sempat beberapa kali berganti nama, mulai dari Aqil, Wadudh dan Andrea.

Tapi dari kesemua nama itu tidak mempengaruhi kenakalan Ikal. Maka akhirnya orang tua Ikal memutuskan untuk menjadikan Arai sebagai anak angkat.

Lalu tiba-tiba Ikal berubah total dengan hadirnya seorang gadis yang bernama A Ling.

Semua orang merasa terkejut dengan perubahan pada diri Ikal. Dia bertingkah laku seperti orang yang sedang dimabuk asmara setelah bertemu A Ling.

Sekarang Ikal sudah menjadi anak yang baik. Dia jadi rajin beribadah. Sikapya menjadi santun dan berakhlak mulia.

Guru mengaji di Masjid yang bernama Taikong Hamin juga merasa heran atas perubahan diri Ikal.

Setelah itu Ikal dan Arai menjalani masa bersama di Belitung sampai tingkat SMA.

Lalu Ikal kuliah di Bandung dan Arai kuliah di Kalimantan. Setelah itu mereka bersama lagi setelah sama-sama ikut tes beasiswa ke Eropa.

Tanpa disangka, mereka berdua ternyata sama-sama mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk melanjutkan S2 di Universitas Sorbonne, Paris, Perancis.

Sebelum mereka berangkat, Arai berusaha menghubungi Zakiah Nurmala, wanita pujaannya untuk pamitan.

Tapi sayang, ternyata Zakiah seperti waktu SMA, tak membalas surat Arai. Di lain pihak, Ikal sangat mendambakan sosok A Ling yang sekarang tidak tahu dimana keberadaannya.

Mereka berdua diantar oleh Ayah dengan berat hati di Tanjong Pandan. Waktu Ikal dan Arai berpamitan ayah menyerahkan bungkusan dan bungkusan itu harus dibuka jika telah sampai disana.

Ayah Ikal sangat bangga kepada Ikal dan Arai, karena mereka mampu mencapai apa yang diimpikan selama ini.

Mereka lalu sampai di bandara Schippol dan dijemput oleh Famke Somers. Di Belanda saat itu sedang turun salju.

Dari Belanda Ikal dan Arai pergi menuju Brugge di Belgia dengan kereta. Famke menyuruh Ikal menemui Simon Van der Wall yaitu seorang pemilik kos.

Semua bangunan di Brugge dalam kondisi tertutup, tak seorang pun keluar rumah untuk mengantisipasi situasi suhu yang akan drop secara ekstrem pada malam nanti.

Tapi Ikal dan Arai malah berkeliaran di alam terbuka.

Mereka lalu menemukan bangku kosong dan duduk dibawah naungan kanopi. Hujan salju makin lebat.

Malam makin larut, pukul dua pagi Arai mengeluarkan termometer dan menunjukan minus sembilan derajat celcius.

Arai dan Ikal duduk berpelukan, lengket, mengerut, dan menggigil hebat.

Lalu Ikal merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, ia tak merasakan kepalanya, kemudian lehernya terasa tercekik.

Lalu darah keluar dari rongga hidungnya. Arai membuka syalnya dan melilitkan ke leher Ikal.

Lalu membuka koper dan mengeluarkan semua pakaian dan membalutkannya berlapis-lapis ditubuh Ikal.

Kemudian Arai menggendong Ikal menuju pohon-pohon Roman. Ikal ditidurkan di tanah, di bawah rimbunan dedaunan roman.

Ternyata Arai meniru cara tentara Rusia bertahan di musim salju. Lalu kesadaran Ikal pun sedikit demi sedikit berangsur pulih. Ikal menatap Arai dengan kagum.

Beberapa waktu kemudian Ikal dan Arai pun berangkat ke Paris Prancis. Arai berjalan di depan dan seketika berujar “subhanallah”.

Mereka terpana melihat Menara Eiffel, lalu menyentuhnya. Mereka masih seolah tak percaya bahwa sebuah mimpi telah menjadi kenyataan.

Selama berada di Paris, pernah Ikal dan arai iseng pergi ke toko musik, mereka merasa senang sekali karena diantara deretan CD musisi dunia tampak album Anggun C. Sasmi dengan lagu yang dibawakan dalam bahasa Prancis.

Anggun membuat mereka bangga menjadi orang Indonesia. Semua orang mengenal Anggun.

Ikal dan Arai pun mulai kuliah di Universitas Sorbone Paris. Ada banyak mahasiswa dari beragam bangsa di dalamnya,

ada mahasiswa dari Inggris, Amerika Serikat, Jerman, India, keturuna Tiong Hoa, Meksiko, Georgia, dan tuan rumah Prancis.

Tingkah laku mengagumkan ditunjukkan orang-orang tuan rumah Prancis yaitu Charlotte, Laborde, Jean Minot, dan Sebastian.

Juga ada juga orang-orang Tionghoa, Eugene Wong, Heidy Ling, Deborah Oh dan Hawking Kong.

Sisanya orang yang selalu terlambat, berantakan dan tergopoh-gopoh adalah The Pathetic Four mereka adalah MVRC Manoj, Pablo A. Gonzales, Ninochka Stronovsky dan Ikal. Mereka selalu terbirit-birit mengejar ketinggalan.

Selama berada di Prancis Ikal masih saja mencari A Ling, tetapi setiap tempat dan orang yang bernama A Ling selalu salah.

Berbagai cara Ikal lakukan untuk menemukan A Ling tetapi selalu gagal.

Ada sebuah kenangan dari A Ling untuk Ikal yaitu Novel Seandainya Mereka Bisa Bicara karya Herriot.

Pada novel tersebut A Ling menandai cerita tentang keindahan desa Edensor. Desa Khayalan itu seolah membuka jalan rahasia dalam kepala Ikal,

yaitu jalan menuju penaklukan-penaklukan terbesar dalam hidup Ikal, untuk menemukan A Ling, dan untuk menemukan diri Ikal sendiri.

Pada waktu musim liburan, Ikal dan Arai menyusun rencana untuk keliling Eropa.

Mereka punya ide pada teman-teman dari negara lain untuk membiayai keliling eropa dengan cara mengadakan pertunjukan jalanan atau mengamen.

Pada awalnya teman mereka yaitu Virginia Sue Townseed dari Amerika Serikat terkejut mendengar ide Ikal dan Arai.

Tapi akhirnya teman-teman mereka dari negara lain menyetujui ide Ikal dan Arai tadi.

Pablo Arian Gonzales dari Meksiko mencoba penampilannya memain-mainkan bola.

MVRC Manoj dari India tampil dengan busana yang membuat nafas tertahan. Gonzales dan MVRC Manoj memadukan sepakbola dan tarian.

Naomi Stansfield dari Inggris mendemokan kebolehannnya meniup trombon dengan teknik tinggi.

Sementara Townsend tak mau kalah melentingkan nada akordeonnya.

Kemudian mereka semua siap berangkat, diiringi lambaian selamat jalan dari semua sahabat.

Ada berbagai arah yang mereka tempuh. Townsend menuju arah ke Inggris.

Stansfield memulai perjalanan melalui Swiss. Ninochka menyusuri Prancis selatan menuju Italia. MVRC Manoj dan Gonzales ke Belgia.

Sementara Ikal dan Arai harus menemui Famke menuju ke Belanda.

Di Belanda mereka bertemu dengan Famke yang menyarankan agar Ikal dan Arai tampil di pinggir jalan sebagai manusia patung.

Kemudian Ikal memakai baju ikan duyung yang beratnya hampir 10 kg, dan Arai pun memakai baju kostum yang sama sebagai ikan duyung.

Arai sebagai ibu ikan duyung dan Ikal sebagai anak ikan duyung.

Dari Amsterdam mereka menuju ke Groningen, setelah itu ke Jerman dan mereka tampil sukses di Frankfurt.

Ternyata Jerman masih menghargai kesenian dan turis yang datang.

Kemudian mereka menuju Di Denmark, Swedia, dan Norwegia. Tapi sayang, pertunjukan mereka kurang diapresiasi warga di sana.

Lalu mereka sampai di Kota Helsinky di Finlandia. Di kota ini persediaan uang mereka sangat tipis.

Melalui koneksi internet dapat diketahui perkembangan teman kuliah mereka lainnya.

MVRC Manoj dan Gonzales sedang bersenang-senang di Belanda.

Sementara Townsend sudah berada di Belfast, Irlandia. Uangnya sedang banyak, dan makin sering menyindir Stansfield yang berada di kota tua Zalsburgh di Austria.

Setelah membandingkan, ternyata Ikal dan arai menempuh jalur yang kurang beruntung.

Karena semakin Eropa Timur, pertunjukan kesenian jalanan yang mereka tampilkan semakin tak laku.

Kemudian Ikal dan Arai mulai menyusuri Rusia. Pertama memasuki Kota Belomorsk tanpa uang sama sekali.

Setelah tampil tiga jam, sampai kaki bengkak tapi tak seorangpun memberikan uang.

Dengan wajah lesu dan lelah mereka lalu menumpang bus sayur atau dengan melompat diam-diam ke gerbong kereta minyak.

Tapi akhirnya mereka sampai juga ke kota Moskow.

Mereka lalu menuju Syzran. Mereka ditangkap polisi dan diusir ke batas desa.

Mereka dicampakan dalam keadaan lapar, mulut bengkak dan hati yang terluka.

Lalu mereka sampai pada bagian ujung dari Rusia yaitu di Taiga Siberia, bagain dari Siberia.

Mereka menumpang gerbong yang mengangkut bahan bangunan, tapi tengah malam mereka diturunkan begitu saja karena ada inspeksi.

Setelah itu Ikal dan Arai berjalan dan bingung menghadapi perempatan tanpa kompas dan peta.

Tiba-tiba Ikal teringat akan navigator alam; Weh! Ikal mengeja bintang satu persatu. Weh dulu mengajari Ikal membaca langit.

Setelah itu Ikal dan Arai berbalik kebarat, menuju Olovyannaya di atas tapal Mongolia.

Setiap melewati perkebunan Zaitun mereka melamar kerja membantu petani memetik buahnya demi upah beberapa butir kentang.

Mereka melewati kampung demi kampung.

Kebanyakan kampung yang dilewati adalah tambang yang telah diabaikan.

Ketika berada di pedalaman, mereka menemui hal-hal yang aneh seperti orang muslim beribadat seperti Nasrani dan orang Nasrani fasih membaca al-quran.

Kemudian juga ada masyarakat yang memuja kambing, memandikan bayi yang baru lahir dengan darah lembu, dan melemparkan ari-ari keatas atap.

Mereka juga menemui komunitas yang patriakis, para istri harus tidur di lantai dua gedung jerami dan hanya dikunjungi para suami jika diperlukan.

Berangkat dari Olovyannaya, lalu Ikal dan Arai berangkat ke Persia atau Iran yang tidak jauh dari Mongolia.

Setelah itu mereka pergi ke Yunani. Untungnya di negara ini mereka mendapatkan uang yang banyak ketika mempertunjukkan kesenian jalanan mereka.

Tapi sayang, nasib buruk mereka alami ketika berada di negara Balkan seperti Bosnia, Serbia, dan sekitarnya.

Di negara-negara ini mereka sangat takut akrena suasana perang masih terasa. Sehingga mereka tidak bisa menghasilkan uang, lalu persediaan finansial mereka terkuras.

Setelah itu mereka menuju Rumania, mereka mengalami nasib yang lebih buruk.

Suatu malam Ikal dan Arai tidur di sebuah halaman TK, tiba-tiba Ikal terbangun karena backpak yang digunakan sebagai bantal ditarik oleh tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan dengan seringai mengancam mereka.

Lalu seketika ada bapak tua yang dari tadi mengamati mereka, dan datang menolong dari kegelapan.

Lelaki tua itu mengambil kepala slang tabungnya dan menyemprot para penjahat dengan gas pestisida. Lalu para perampok lari tunggang langgang

Setelah itu bapak tua tersebut menemui Ikal dan Arai lalu tersenyum bersahabat, ia mengulurkan tangan menyalami dan berkata dengan logat jawa: “Nhama sayha Toha, ashli Purbhalingga.”

Ikal dan Arai sangat terkejut. Ternyata di kota kecil terpencil di pelosok Rumania ada orang Indonesia.

Akhirnya mereka sampai di Austria dan bertemu dengan seorang tukang kebab bernama Mashood untuk menanyakan dimana ada Masjid.

Ketika Sholat, Arai menuai karma masa kecilnya ketika sedang shalat berjamaah.

Ketika imam sampai pada ujung surat al-fatihah, kekhusyuan jamaah jadi buyar dan terkejut mendengar jeringan panjang “aaamiieeenn….” oleh Arai.

Ternyata dia melolong seperti dulu yang sering dilakukan di masjid ketika di kampung.

Suara Arai bukan hanya mengangetkan dapi juga mencengangkan, karena mazhab yang mereka anut hanya mengucapkan amin dalam hati.

Setelah itu mereka sampai di Venesia Italia. Ikal dan Arai melihat berbagai pertunjukan di negara ini.

Perjalanan hampir berakhir. Mahasiswa teman-teman Ikal dan Arai yaitu MVRC Manoj, Gonzales, Ninonh, Stansfield, dan Townsend, membuat rencana untuk bertemu di Spanyol. Kemudian mereka pulang ke Paris naik kereta malam.

Setelah berada di Paris mereka kembali seperti biasa yaitu mengikuti perkuliahan.

Tapi setelah beberapa lama kuliah, ada kejadian yang mengejutkan yaitu ketika Katya menelpon memberi kabar tentang Arai.

Ikal lalu datang dan melihat Arai digotong, hidungnya berdarah dan masuk ICU.

Ternyata Arai terserang Asthma Bronchiale yaitu penyakit yang dulu menyebabkan meninggalnya ayah Arai waktu masih muda.

Oleh karena itu akhirnya Arai harus dipulangkan ke Indonesia. Tinggallah Ikal yang merasa sedih karena berpisah dengan Arai.

Waktu pun berlalu, Ikal pun melanjutkan kegiatan kuliah. Lalu Maurent memanggil Ikal dan memberi tahu bahwa Prof Turnbull akan pensiun dan pulang kampung ke Sheffield Inggris.

Supaya Ikal tidak kehilangan waktu, Maurent menyarankan Ikal harus mengikuti exchange program dan pindah ke Sheffield Hallam University.

Setelah itu Ikal pergi ke Inggris tapatnya di Terminal Victoria, London. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus antar kota ke Sheffield.

Selang beberapa bulan Ikal pun selesai mengerjakan risetnya. Dia diundang minum teh oleh keluarga Turnbull ke rumahnya dan untuk menandatangani riset Ikal.

Rumah Profesor Turnbull berada jauh di pinggir Kota Sheffield. Ketika sampai di rumah profesor tersebut, ternyata beliau tidak berada di rumah.

Karena lama menunggu, akhirnya Ikal memutuskan untuk berkeliling desa dengan menaiki bus desa yang sudah tua.

Ketika berada di bus Ikal menikmati pemandangan melalui jendela selama satu jam lebih. Kemudian bus menaiki bukit yang landai.

Ketika bus melewati sebuah tikungan, dedaunan cemara tersibak dan seketika itu pula tersaji pemandangan yang mengingatkan Ikal pada sesuatu.

Perjalanan bus makin dekat dengan desa yang dipagari tumpukan batu bulat berwarna hitam.

Ikal terpesona melihat rumah-rumah penduduk berselang seling. Ikal merasa menembus lorong waktu dan terlempar dalam negeri khayalan yang telah lama hidup dalam hatinya.

Masih terperanjat, Ikal meminta sopir bis untuk berhenti. Ikal kembali mengenang dan mengingat keindahan tempat ini selama belasan tahun yang selama ini menjadi impian.

Dia masih terkesima bahwa impian tersebut sudah dapat dia lihat dengan mata kepala sendiri.

Seolah tak percaya, Ikal lalu bertanya pada seorang ibu untuk memberi tahu nama tempat ini. Seketika sang ibu pun menjawab: “ sure lof, it’s Edensor…”

Inilah Edensor, sebuah tempat yang dulu hanya dilukiskan keindahannya oleh A Ling, seseorang yang telah memberi kekuatan dalam perjalanan hidup Ikal.

Sekarang Ikal sudah berada di Edensor, bukan mimpi tapi kenyataan.

Sinopsis Novel Negeri 5 Menara – Ahmad Fuadi

Sastra angkatan 2000 – an

Karya: Ahmad Fuadi

Ringkasan umum:

Berkisah tentang 6 orang sahabat yang bersekolah di  Pondok Madani (PM) Ponorogo Jawa Timur.

Mereka dengan kerja keras dan sungguh-sunggu akhirnya berhasil meraih mimpi yang pada awalnya dinilai terlalu tinggi.

Mereka adalah Alif Fikri Chaniago dari Maninjau – Sumatra Barat, Raja Lubis dari Medan, Said Jufri dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso Salahuddin dari Gowa

Ada seorang anak di sebuah kampung yaitu Desa Bayur terletak di Maninjau, Sumatera Barat. Nama anak tersebut adalah Alif, dia baru lulus SMP.

Alif ingin melanjutkan pendidikan di SMA Negeri dan kemudian ke ITB Bandung untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang pakar dan ahli iptek.

Ia tak ingin seumur hidupnya tinggal di kampung, dan mempunyai cita-citauntuk merantau.

Ia ingin melihat dunia luar dan ingin sukses seperti sejumlah tokoh yang ia baca di buku atau mendengar cerita temannya di desa.

Tapi orangtuanya menginginkan Alif mendalami ilmu agama dan menjadi seseorang yang sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Melalui Amak (ibu) nya, Alif diminta untuk meneruskan pendidikan ke pesantren yaitu Pondok Madani di sudut kota Ponorogo, Jawa Timur.

Kenginan itu juga merupakan keinginan ayahnya, yang diperkuat oleh pernyataan dari  dari ”Mak Etek” atau paman yang sedang kuliah di Kairo.

Keluarga menginginkan Alif bisa bermanfaat bagi masyarakat seperti Bung Hatta dan Buya Hamka.

Tapi dalam diri Alif, ingin menjadi seorang dengan teknologi tinggi seperti B.J Habibie.

Dengan setengah hati, akhirnya Alif berangkat juga ke Pondok Pesantren saran dari keluarganya,

dia lalu pergi bersama ayahnya naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah pesantren yaitu Pondok Madani di sudut kota Ponorogo, Jawa Timur.

Ketika sampai, kesan pertama yang Alif dapatkan yaitu tempat yang kampungan dan banyak aturan yang ketat dan mirip penjara.

Apalagi ada keharusan mundur setahun untuk kelas adaptasi. Alif menguatkan hati untuk mencoba menjalankan setidaknya tahun pertama di Pondok Madani ini.

Tapi seiring berjalannya waktu, Alif mulai bersahabat dengan teman sekamarnya, Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, dan Dulmajid dari Madura.

Keenam bocah yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Madani ini setiap sore mempunyai kebiasaan unik.

Yaitu menjelang Azan Maghrib berkumpul di bawah menara masjid sambil melihat ke awan.

Ketika membayangkan awan itulah mereka melambungkan impiannya. Misalnya Alif mengaku jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, sebuah negara yang ingin ia kunjungi kelak lulus nanti.

Begitu pula lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir dan Benua Eropa.

Berawal dari kebiasaan berkumpul di bawah menara masjid tadi, mereka berenam pun menamakan diri Sahibul Menara, artinya pemilik menara.

Di Pondok Madani, ada ungkapan luar biasa yang selalu diingat oleh Alif.

Ungkapan itu disampaikan salah seorang guru bernama Ustad Salman yaitu  “Man Jadda Wa Jada”  artinya siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.

Ungkapan tersebut sangat bermakna bagi enam sahabat ini. Kemudian mereka memiliki impian masing-masing dan bertekad meraihnya.

Di Pondok Pesantren mereka dididik sangat ketat. Mulai dari keharusan bicara dalam Bahasa Inggris atau Arab, dan akan dihukum kalau bicara Bahasa Indonesia.

Mereka juga dilatih dengan disiplin yang sangat tinggi. Semua siswa harus tepat waktu dalam segala aktivitas.

Kalau terlambat beberapa menit saja, maka akan langsung mendapatkan hukuman.

Dari proses pembelajaran dan ungkapan luar biasa tadi di Pondok Madani, enam sahabat pemilik menara tersebut selalu berpikir visioner dan bercita-cita besar.

Mereka masing-masing memiliki ambisi untuk menaklukan dunia. Mulai dari tanah Indonesia, lalu ke Amerika, Eropa, Asia, atau hingga Afrika.

Dibawah menara Madani, mereka berjanji dan bertekad untuk bisa menaklukan dunia dan mencapai cita-cita;

Dan menjadi orang besar yang bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Tapi sayang, salah satu dari keenam bersahabat tersebut yaitu Baso terpaksa harus keluar dari pesantren.

Ia meninggalkan Pondok Madani saat kelas lima untuk menjaga neneknya dan berusaha menghafal Al-Qur`an di kampung halamannya.

Waktu terus berjalan, Sahibul Menara yang lain terus menikmati pendidikan di Pondok Madani.

Hari ke hari terasa makin indah bagi mereka. Makin banyak manfaat yang mereka peroleh, baik dari persahabatan mereka, maupun dari sistem pendidikan yang sangat baik.

Hingga akhirnya mereka bisa meraih semua mimpi yang selama ini hanya bayangan.

Mereka bisa membuktikan bahwa mereka bisa menaklukkan seluruh benua, ada Amerika, Eropa, Asia, Afrika

Mereka kemudian bernostalgia dan saling membuktikan impian mereka ketika melihat awan di bawah menara masjid Pondok Pesantren Madani, Jawa Timur.

Ternyata bagi mereka menempuh pendidikan di pesantren mempunyai makna indah yang tak ternilai.

Alif yang tadinya beranggapan bahwa pesantren adalah konservatif, kuno dan kampungan,  ternyata adalah salah besar.

Pendidikan pesantren sangat menjujung disiplin yang tinggi, sehingga mencetak para santri yang bertanggung jawab dan komitmen.

Apalagi di pesantren jiwa dan gelora muda para santri disulut dan di bakar oleh para ustadz agar tidak gampang menyerah.

Secara rutin setiap pagi sebelum masuk kelas, selalu didengungkan kata-kata sakti ”Manjadda Wajadda” jika bersungguh-sungguh akan berhasil.

Di samping itu semua ada juga yang lebih penting yaitu selalu mengingat niat tulus orang tua, yaitu:

“Mempunyai anak yang sholeh dan berbakti adalah sebuah warisan yang tak ternilai, karena bisa mendoakan kedua orangtuanya mana kala sudah tiada,”

Itulah kalimat yang sering dikenang oleh Alif ketika mengingat keinginan Amak nya di kampung dulu.

Sinopsis Novel Ketika Cinta Bertasbih – Habiburrahman El Shirazy

Sastra Angkatan tahun 2000

Karya: Habiburrahman El Shirazy

Di sebuah desa di pedalaman Provinsi Jawa Tengah terdapat seorang pemuda yang bernama Abdullah Khairul Azzam.

Semenjak kecil Azzam memang anak yang rajin, baik, dan pintar.

Karena kepintaran dan usaha kerasnya, setelah menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah di desanya,

Kemudian Azzam berhasil memperoleh bea siswa untuk belajar di Universitas Al Azhar Mesir.

Setelah satu tahun belajar di Universitas Al Azhar, Azzam menjadi mahasiswa berprestasi dengan sebutan Jayyid Jiddan yang artinyalulus dengan sempurna.

Tapi sayang, setelah satu tahun berada di Mesir, Ayah Azzam di Indonesia meninggal dunia.

Karena Azzam adalah anak paling tua, dia merasa terpanggil untuk membantu kehidupan keluarganya. Apalagi adik-adiknya masih kecil semua.

Berhubung Azzam juga harus menyelesaikan kuliah di Mesir, maka dia berusaha keras untuk membagi waktu antara bekerja dan belajar.

Usaha yang dikerjakan Azzam adalah membuat tempe dan bakso yang dipasarkan di lingkungan KBRI dia Kairo.

Karena Azzam rajin dan pintar memasak, dagangannya menjadi laku keras. Dia menjadi sangat dikenal dan disayangi oleh hampir seluruh karyawan KBRI di Kairo.

Dikarenakan kerja kerasnya untuk bekerja dan mencari uang, kuliah Azzam pun belum selesai juga, walaupun sudah 9 tahun belajar di Universitas Al Azhar.

Kemudian Azzam sering mendapat banyak pekerjaan dari KBRI Kairo. Karena sering ke KBRI, ia bertemu dengan anak Duta Besar yang bernama Eliana Pramesthi Alam.

Dia adalah lulusan EHESS Perancis yang melanjutkan S-2 nya di American University in Cairo.

Eliana adalah gadis yang sangat cantik dan cerdas, karenanya dia bahkan pernah diminta main di salah satu film produksi Hollywood, juga untuk Film layar lebar dan Sinetron di Jakarta.

Oleh karena itu wajarlah Azzam terpesona pada Eliana, dia pun mulai jatuh hati.

Namun akhirnya Azzam tidak mau melanjutkan ketertarikannya pada Eliana.

Azzam sadar bahwa karakter dan pola kehidupan Eliana sangat berbeda dengan dirinya.

Suatu hari sopir KBRI Kairo yang bernama Pak Ali berbicara pada Azzam. Pak Ali menyarankan agar Azzam tidak terlalu jauh berharap pada Eliana,

karena Pak Ali sudah lama kenal Eliana dan keluarganya yang memiliki kehidupan yang terlalu jetset dan tidak sebanding dengan Azzam.

Kemudian Pak Ali menyarankan seorang gadis yang lebih cocok dan pas dengan Azzam yang bernama Anna Althafunnisa.

Dia adalah gadis yang sangat cantik tamat dari S-1 dari Kuliyyatul Banaat di Alexandria. Sekarang Anna sedang kuliah S-2 di Kuliyyatul Banaat Al Azhar.

Selain cantik Anna juga pintar dan menguasai bahasa Inggris, Arab dan Mandarin

Bahkan Pak Ali menyuruh Azzam untuk secepatnya mengkhitbah (melamar) Anna, karena dia dipandang cocok untuk Azzam.

Menurut Pak Ali, kelebihan Anna daripada Eliana adalah bahwa Anna memakai jilbab dan sholehah, bapaknya seorang Kiai Pesantren bernama Kiai Luthfi Hakim.

Mendengar keterangan Pak Ali, tanpa disadari muncullah niat Azzam untuk melamar Anna meskipun dia belum pernah bertemu atau melihat Anna.

Lalu Pak Ali menyarankan agar Azzam melamar Anna melalui pamannya yang bernama Ustadz Mujab yang ada di Kairo,

karena kalau melamar ke Indonesia, biayanya pasti besar, dan Azzam tidak punya uang.

Ternyata Azzam sudah sangat mengenal ustadz itu. Dengan keyakinan penuh Azzam lalu datang ke ustadz Mujab untuk mengkhitbah Anna Althafunnisa.

Tapi sayang, ternyata lamaran Azzam ditolak karena perbedaan status. Kuliah S-1 Azzam belum selesai juga.

Di samping itu Azzam hanya dikenal karena jualan tempe dan baso.

Di lain pihak, ternyata Anna telah dilamar terlebih dulu oleh seorang pria yang bernama Furqon, yang ternyata juga adalah teman kuliah Azzam yang berasal dari keluarga kaya.

Tidak lama lagi Furqon akan menyelesaikan S-2 nya.

Hati Azzam menjadi sedih dan berduka. Tapi akhirnya Azzam bisa menerima alasan itu.

Azzam mau merelakan Anna dinikahi oleh sahabat yang lama dia kenal.

Sebelum menikah dengan Anna, Furqon mendapat musibah yang sangat menghancurkan harapan-harapan hidupnya.

Dia jadi susah memutuskan apakah harus tetap menikahi Anna yang telah dikhitbahnya, karena musibah ini bisa menghancurkan hidup Anna nantinya.

Di lain pihak adik Azzam yang bernama Ayyatul Husna memberi kabar dari kampung kepada Azzam.

Adiknya mengabari bahwa Azzam tidak perlu lagi mengirim uang ke kampung dan lebih berkonsentrasi menyelesaikan kuliahnya.

Husna mengatakan bahwa ia telah lulus kuliah di UNS. Sekarang sudah bekerja sebagai Psikolog.

Gaji Husna sudah cukup untuk membiayai kebutuhan adiknya yang mengambil program D-3, juga untuk biaya adik paling kecil yang bernama Sarah yang masih belajar di Pesantren.

Mendengar kabar itu Azzam memutuskan untuk serius dalam belajar supaya cepat pulang ke Indonesia. Lalu akhirnya berhasil lulus kuliah.

Setelah itu Azzam kembali ke kampung ke Indonesia. Sesuai amanah dari ibunya, Azzam punsegera mencari jodoh di sana.

Tapi dalam hati Azzam masih ada keinginan dan sedikit harapan untuk terus mendapatkan cinta Anna, yang sudah terlanjur melekat di hati Azzam

Ternyata wanita pujaan Azzam tadi bernama lengkap Anna Altafunnisa.

Dia adalah anak dari seorang yang sangat dihormati yaitu Kiai Lutfi yang ada di sebuah pesantren terkenal di Desa Wangen

Anna lahir dan besar dengan akhlak dan budi pekerti yang baik. Dia memiliki kecantikan yang luar biasa dan menawan hati siapa pun.

Oleh karenanya, banyak sekali mahasiswa Al- Azhar yang suka padanya.

Contohnya adalah Fuqran, lalu banyak lagi laki-laki lain yang kenal dengan Anna.

Kemudian Anna pun pulang ke Indonesia karena mendapat kesempatan untuk membuat penelitian dalam penyelesaiaan tesisnya.

Ketika berada di rumah orangtuanya, sang Ayah meminta Anna untuk cepat memilih salah satu dari sekian banyak lamaran yang telah datang.

Ternyata selama ini banyak sekali lamaran yang datang, dan banyak juga yang ditolak oleh Kiai Lutfi.

Ayahnya juga mengatakan bahwa ada lamaran yang datang dari orang yang sangat dikenalnya bernama M. Ilyas.

Lalu ada pula yang datang langsung pada Anna yaitu Fuqran Andi Haswan, dan kemudian melamarnya melalui ustadz Mujab.

Anna dan Ayah pun menjadi bimbang untuk memilih antara Ilyas dan Furqan.

Dalam hati kecil Anna, sebenarnya ada seorang lelaki yang telah memikat hatinya dan diharapkannya bertemu kembali.

Anna baru pertama kali bertemu dengan lelaki tersebut, yaitu ketika ia berada di Kairo Mesir.

Anna mengetahui nama lelaki tersebut adalah Azzam. Yaitu seorang penjual bakso dan tempe sekaligus Mahasiswa di Universitas Al- Azhar, Cairo.

Hati Anna dan ayahnya kembali bimbang. Karena hanya bisa memilih lamaran yang sudah datang,

apalagi sang Ayah meminta untuk menentukan pilihan secepat mungkin, lalu akhirnya Anna memilih Furqan yang merupakan lulusan S2 di Cairo dan sedang mengambil S3.

Alasan lainnya adalah karena Anna tahu lebih banyak dan kenal dengan Furqan.

Anna pun tidak memilih Ilyas, karena kurang begitu kenal dan Ilyas juga dikabarkan tidak dapat menjaga pandangannya terhadap wanita.

Waktu pun berlalu. Ternyata tanpa diduga Anna bertemu lagi dengan orang yang pernah memikat hatinya.

Sekarang Azzam sudah pulang ke Indonesia. Tanpa disadari pula, Anna telah mengenal baik keluarga Azzam yang memang tinggal di Indonesia.

Tapi apa daya, harapan yang telah disimpannya untuk Azzam, ternyata menjadi sia-sia. Nasi sudah menjadi bubur.

Harapan Anna itu harus dihapus dari hidupnya karena dia sudah mempunyai calon suami yaitu Furqon.

Di lain pihak, ternyata Azzam yang juga menyimpan rasa yang sama pada Anna saat di Cairo. Sekarang Azzam juga harus rela melupakan Anna.

Waktu pun terus berlalu. Akhirnya setelah sekian lama proses lamaran, akhirnya hari pernikahan Anna dan Furqon pun tiba.

Mereka sudah resmi menjadi suami istri.

Setelah pernikahan tersebut, di lain pihak Azzam disuruh ibunya untuk segera mencari pasangan hidup.

Kemudian Azzam mulai mencari calon istri, bukan pacar semata. Tapi kenyataannya, selalu ada saja yang tidak cocok dengan Azzam dan bakal calon istrinya.

Pernah juga ada lamaran yang diterima dan hampir terjadi akad nikah. Tapi sayang ternyata tidak jodoh juga.

Karena tanpa diduga terjadisuatu kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya sang Ibu, dan Azzam pun menjadi lumpuh beberapa waktu karena kecelakaan tersebut

Di lain pihak, pernikahan Anna dan Furqan sudah berusia enam bulan, dan berjalan baik-baik saja.

Tapi setelah itu hubungan mereka retak. Apalagi setelah Furqan menceritakan bahwa sebelum menikah dengan Anna dia sudah tidak perjaka lagi dan dipastikan terkena HIV AIDS.

Oleh karena musibah itu Furqan tidak pernah menyentuh Anna.

Karena retaknya hubungan mereka, akhirnya dengan terpaksa Furqan memberi kesempatan pada Anna untuk bercerai.

Kemudian Anna pulang dan kembali pada orang tuanya.

Sementara itu Azzam yang lumpuh karena dulu mendapat kecelakaan, sekarang sudah sembuh total.

Kemudian Azzam mendatangi Kiai Lutfi mohon bantuan mencarikan jodoh yang tepat sesuai permintaan Ibunya dulu.

Lalu Kiai Lutfi menawarkan dan menceritakan bahwa ada seorang wanita yang dicerai suaminya dan wanita tersebut masih perawan dikarenakan suatu hal.

Kemudian Kiai Lutfi meminta jawaban dari Azzam terhadap wanita yang dia ceritakan itu.

Tanpa pikir panjang dan tanpa diduga, ternyata Azzam menerima tawaran Kiai Lutf untuk menerima wanita itu menjadi istrinya.

Ada peristiwa aneh yang kemudian terjadi. Azzam terkejut dan bahagia ketika mengetahui bahwa wanita yang diceritakan Kiai Lutfi adalah seorang wanita yang selama ini memikat hatinya yaitu Anna Althafunnisa

Begitu pula di dalam hati Anna, dia menjadi terkejut dan bahagia karena akan menikah dengan lelaki yang dari dulu sangat diharapkannya dan telah menjadi cinta pertamanya.

Hari pun menjadi sangat indah. Suasana suka cita pun telah datang. Akhirnya Azzam dan Anna pun menikah.

Mereka pun hidup bahagia. Tapi ada suatu peristiwa yang sedikit mengusik, yaitu satu bulan setelah pernikahan mereka,

tiba-tiba Furqan mengunjungi Anna dan membawa dokumen dan bukti. Furqan menjelaskan bahwa dia terkena HIV AIDS.

Tapi kedatangan Furqan bukanlah peristiwa yang betul-betul mengusik. Karena Azzam dan Anna sudah sangat bahagia dalam pernikahan mereka.

Baik Azzam maupun Anna sudah menemukan pasangan hidup yang sangat pas, sangat diharapkan, dan merupakan cinta yang lama terpendam.