Sinopsis Novel Midah Si Manis Bergigi Emas – Pramudya Ananta Toer

Sastra Angkatan 1966 -1970 an

Karya: Pramudya Ananta Toer

Ada seorang anak perempuan bernama Midah. Dia adalah anak satu-satunya dari Haji Abdul yang bekerja sebagai seorang pedagang yang berasal dari Cibatok dan sudah lama tinggal di Jakarta.

Haji Abdul sangat sering memutar lagu-lagu Umi Kalsum kepada keluarganya.

Midah adalah seorang anak yang manis dan cantik parasnya. Karena Midah adalah anak tunggal, dia selalu disayang dan dimanja oleh kedua orang tuanya.

Hingga Midah berusia 9 tahun, situasi menjadi berubah. Ternyata istri dari Haji Abdul hamil lagi.

Kasih sayang orang tuanya makin berkurang kepada Midah. Kemudian lahir pula adik-adik Midah yang lain.

Maka cinta kasih orang tua kepada Midah makin bertambah berkurang, dan hampir tidak diperhatikan.

Midah merasa tidak disayangi lagi oleh kedua orang tuanya, dia merasa dicampakkan.

Hal ini membuat Midah tidak betah di rumah. Dia jadi sering pergi keluar rumah dan sering telat pulang.

Walau perbuatan Midah itu sebenarya kurang baik, tapi anehnya, orang tuanya tidak pernah menegur atau memperingatkannya.

Inilah yang membuat Midah makin putus asa.

Akhirnya Midah semakin jarang berada di rumah dan makin sering keluyuran.

Lalu dia jadi suka dan tertarik pada pengamen jalanan yang menyanyikan lagu keroncong.

Berbeda dengan kesukaan ayahnya yang selama mendengarkan lagu-lagu Umi Kalsum.

Sampai akhirnya Midah membeli beberapa buah piringan hitam yang berisi lagu-lagu keroncong.

Tapi waktu Midah sedang bernyayi lagu keroncong dengan gembira, ternyata Haji Abdul mengetahui.

Bagi ayah Midah lagu keroncong adalah haram, piringan hitam yang dibeli Midah dihancurkan ayahnya.

Lalu Midah juga ditampar dan dimarahi. Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya sang pembantu yang melindungi Midah.

Beberapa waktu kemudian Midah dijodohkan oleh orang tuanya. Haji Abdul telah menentukan calon suaminya yaitu Haji Terbus dari Cibatok.

Waktu berlalu, Midah kecewa karena Haji Terbus ternyata memiliki istri banyak, hampir di tiap kota yang dia kunjungi.

Setelah tiga bulan menikah, Midah melarikan diri dari rumah suaminya. Midah pergi berlindung ke rumah bekas pembantunya yaitu Riah.

Jauh dari suami dan orangtuanya, Midah mendapat kesempatan untuk bernyanyi keroncong di jalanan bersama kelompok pengamen.

Kemudian Midah mendapat julukan Si Manis. Midah juga tinggal bersama gerombolan pengamen.

Midah hanya pasrah dan semua pekerjaannya dikalukan dan dilandasi rasa cinta pada anak yang dikandungnya.

Hingga kandungan berusia 9 bulan lebih, Midah lalu melahirkan anaknya. Tapi tidak seorang pun dari kelompok pengamen yang membantu dan menemaninya.

Bahkan ketika berada di rumah sakit waktu bersalin, Midah tidak mau mengatakan siapa bapak dari bayinya. Bayi nya pun belum diberi nama.

Setelah merasa kuat sehabis proses persalinan, Midah kembali ke gerombolan pengamen yang dulu bersamanya, tetapi sambutan kurang sedap diterimanya.

Bayinya dihina oleh seorang wanita dari salah satu pengamen tersebut. Midah marah, baginya bayi itu tidak ada salah sedikit pun.

Lalu pada suatu hari Midah dan gerombolan pengamen bertemu dengan seorang polisi bernama Ahmad yang menawarkan bantuan bahwa mereka akan bisa bernyayi di radio.

Setelah menunggu sekian lama, tawaran tersebut tidak kunjung datang.

Midah sudah mengganti beberapa giginya dengan gigi emas, namun sayang akhirnya Midah diusir dari rombongan.

Di lain pihak, usaha Haji Abdul sedang drop dan keluarganya jatuh miskin.

Setelah mendapat informasi bahwa Midah menjadi pengamen jalanan. Haji Abdul jatuh sakit.

Karena kelelahan mencari Midah sepanjang hari. Istri Haji Abdul akhirnya melapor polisi.

Setelah sedikit sembuh Haji Abdul kembali pulang ke rumahnya. Sekarang karena miskin, keluarga Haji Abdul tidak dihargai lagi oleh warga sekitar.

Midah lalu pindah ke Jatinegara, kalau tinggal di jantung kota, Midah takut akan dicari orang tuanya.

Di Jatinegara Midah mengamen dengan menggendong anaknya.

Tanpa diduga, Midah bertemu lagi dengan polisi yang bernama Ahmad yang dulu menawarkan bantuan.

Midah diajak menginap di rumah polisi itu.

Awalnya tidak ada rasa curiga dalam hati Si Manis terhadap Ahmad, terlebih ketika polisi itu mengundang teman-temannya untuk acara sedekahan dalam rangka memberi nama anak Si Manis yang diberi nama Rodjali.

Ahmad sang polisi itu sangat baik dan selalu mengajari Si Manis untuk bernyayi. Midah jatuh cinta pada polisi tersebut.

Lalu akhirnya Midah terus hidup bersama dengan Ahmad dan berbuat layaknya suami istri. Mereka makin tenggelam dalam dosa.

Sementara itu Ibu Midah dapat informasi bahwa anaknya menjadi penyayi radio yang terkenal.

Melalui bantuan tetangganya Ibu Midah pergi ke tempat tinggal Midah. Tapi yang ditemui hanya seorang nyoya rumah dan anak kecil yang tidak terurus.

Lalu Ibu Midah membawa anak kecil yang malang itu ke rumahnya setelah mendengar penjelasan dari nyonya rumah bahwa itu cucunya.

Di rumah kakek neneknya, Rodjali sangat dimanjakan tubuhnya kembali gemuk. Haji Abdul juga senang dengan cucunya itu.

Di lain pihak, Midah atau Si Manis ternyata sudah hamil lagi. Lalu Midah meminta tanggung jawab kepada Ahmad. Tetapi Ahmad tidak mau mengakuinya.

Cobaan pahit ini membuat Si Manis sadar bahwa Ahmad sang polisi ini adalah lelaki pengecut.

Kemudian Midah pulang ke rumah dan menceritakan semuanya kepada nyonya rumah.

Tapi cobaan lebih berat akhirnya datang, nyonya rumah malah mengusur Midah dari kontrakan, karena Midah dianggap telah menjebak Ahmad.

Dengan putus asa dan duka yang dalam, Akhirnya Midah pulang ke rumah orang tuanya.

Lalu menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Tetapi Midah tidak mau menyebutkan siapa lelaki yang telah menghamilinya.

Orangtuanya hanya pasrah dan berdo’a setiap harinya. Yang lebih parah lagi, warga sekitar banyak yang menghina Midah.

Sekarang situasi berubah, Haji Abdul dianggap sebagai orang pintar, banyak orang yang datang meminta berkah.

Melihat hal itu, Midah ingin pergi meninggalkan orang tua dan Rodjali anaknya. Ini terpaksa dia lakukan karena tidak mau merusak nama baik ayahnya.

Kemudian Midah berpamitan kepada ibunya. Walau dilarang, Midah tetap ingin pergi tanpa sepengetahuan ayahnya.

Sebelum pergi, Midah mengatakan bahwa anak yang dikandungnya adalah lahir dari cinta, beda dengan ketika Midah mengandung bayi dari Haji Terbus suami pertamanya.

Waktu terus berlalu, setelah kandungan lewat 9 bulan, sang bayi pun lahir. Dengan menggendong anaknya Midah terus mencari pekerjaan.

Pekerjaan lamanya sebagai penyanyi kembali didapat. Sekarang “Si Manis Bergigi Emas” kembali terkenal, setelah beberapa bulan sempat menghilang.

Tapi bedanya sekarang, Midah tidak hanya menjadi penyanyi terkenal, sekarang dia juga menjadi pelacur. Midah tidak lagi memikirkan dosa.

Setelah menjadi terkenal melalui radio. Midah kemudian mulai menggeluti dunia film.

Dia juga sukses karena dia memiliki wajah yang manis dan terkenal dimana-mana.

Sinopsis Novel Harimau! Harimau! – Mochtar Lubis

Karya Sastra Angkatan 1966 – 1970 an.

Karya: Mochtar Lubis

Ada seorang pemuda bernama Buyung, walau masih muda dan baru berumur 19 tahun, tapi sudah bisa bekerja untuk mencari nafkah, dan berani pergi ke hutan belantara.

Buyung pergi ke hutan bersama Wak Katok, Pak Haji, Pak Balam, Sutan, Sanip, dan Talib. Mereka bertujuh pergi ke hutan untuk mengumpulkan damar.

Yang paling tua di antara mereka adalah Pak Haji dan telah berumur 60 tahun.

Walau sudah tua tapi  badannya masih tetap sehat dan kuat.

Ada juga Wak Katok yang berumur 50 tahun memiliki perawakan yang keras.

Dia sering berpakaian serba hitam dan masih terlihat seperti berumur 40 tahunan.

Ia juga merupakan ahli pencak dan dukun hebat di desa.

Yang lain adalah Sutan yang berumur 22 tahun, telah berkeluarga. Setelah itu ada Talib yang berumur 27 tahun telah beristri dan beranak tiga.

Sanip berumur 25 tahun juga telah beristri dan mempunyai empat anak.

Yang ketujuh yaitu Pak Balam yang seusia dengan Wak Katok. Orangnya pendiam dan kurus namun ia masih kuat untuk bekerja.

Tujuh orang yang satu kelompok ini disenangi dan dihormati oleh penduduk kampung karena mereka dikenal sopan, mau bergaul, mau bergotong royong, dan taat dalam agama.

Kelompok ini sering berburu rusa dan babi dengan menggunakan senapan milik Wak Katok.

Babi sering masuk ke rumah Wak Hitam. Oleh karena itu mereka sering menolong Wak Hitam.

Kemudian mereka sering menginap di pondok Wak Hitam ini. Wak Hitam adalah seorang laki–laki yang berusia 70 tahun.

Orangnya kurus, berkulit hitam, menyukai celana dan baju hitam.

Ia tinggal bersama Siti Rubiyah yaitu istri keempatnya yang cantik dan masih muda belia.

Wak Hitam pandai menggunakan sihir dan memiliki ilmu gaib. Wak Hitam senang mencari perawan muda untuk penyegar dirinya. Bil

Wak Hitam mempunyai anak buah bekas pemberontak yang menjadi perampok dan penyamun yamg tinggal di hutan.

Di samping itu ada pula yang mengatakan bahwa Wak Hitam mempunyai tambang yang dirahasiakannya di dekat ladangnya.

Rombongan ini sampai di pondok Wak Hitam sebelum malam tiba.

Dengan gembira mereka menyantap masakan Rubiyah karena selama di hutan mereka belum pernah menikmati masakan yang enak.

Semua anggota rombongan terpesona oleh keindahan tubuh Rubiyah. Buyung si rombongan anggota termuda dan satu–satunya yang masih bujangan, dia terpana akan kecantikan Rubiyah.

Dia membandingkan kelebihan Rubiyah dan Zaitun tunangannya di kampung.

Sanip, Talip, dan Wak Katok sering tidak dapat menahan diri jika duduk berdekatan dengan Siti Rubiyah.

Wak Katok mengintai Rubiyah sedang mandi di sungai. Hampir tak tertahankan berahi Wak Katok menyaksikan Rubiyah mandi tanpa busana.

Dalam perjalanan pulang ke pondok, dengan dalih memberi manik–manik ditariknya Rubiyah masuk ke dalam semak belukar.

Hal ini terulang lagi pada Buyung yang juga mengintai Rubiyah mandi di sungai. Dia tidak bisa menahan gejolak batinnya menyaksikan tubuh Rubiyah yang menawan.

Buyung lalu menghampiri Rubiyah yang sedang mandi. Lalu terjadilah hubungan intim antara keduanya.

Pada kesempatan itu Rubiyah menceritakan kalau dirinya juga jatuh ke tangan Wak Hitam, dia merasa menderita bersama Wak Hitam.

Lalu Buyung merasa telah jatuh cinta, dan ingin melindungi dan menyelamatkan Rubiyah dari tangan Wak Hitam.

Ia ingin menikahi Rubiyah, tapi ia bimbang, karena masih tetap mencintai Zaitun tunangannya.

Esok harinya rombongan yang tujuh orang pergi berburu ke tempat kumpulan rusa yang juga kumpulan harimau.

Setelah menunggu beberapa saat, Buyung berhasil membidik seekor rusa jantan.

Mereka pun langsung ke tempat bermalam dan menguliti rusa tersebut di situ. Tapi tiba–tiba, mereka semua mendengar auman seekor harimau.

Lalu dengan cepat mereka memasak rusa tersebut dan langsung pergi.

Mereka beristirahat setelah perjalanan jauh dan makan. Lalu mencari tempat bermalam.

Kemudian membuat sebuah pondok dan api unggun. Ketika Pak Balam buang hajat, harimau menerkam dan membawanya masuk ke dalam hutan.

Lalu dengan cepat Wak Katok menembak dan harimau tersebut akhirnya lari dan meninggalkan Pak Balam. Tubuhnya penuh luka, goresan, dan darah.

Mereka lalu merawat Pak Balam. Setelah sadar Pak Balam lalu berkata bahwa ia telah memiliki firasat sebelumnya.

Lalu ia menceritakan mimpi–mimpi buruknya ketika masih di kampung dan di rumah Wak Hitam.

Berdasarkan itu Pak Balam meminta mereka semua untuk bertobat dan mengakui semua dosa. Namun tak ada satu orang pun yang mau mengakui dosa.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Tapi panas Pak Balam tak juga reda, mereka ingin cepat–cepat sampai kampung agar Pak Balam dapat segera diobati.

Musibah datang lagi ketika dalam perjalanan. Talib dibawa lari oleh harimau ketika ia hendak membuang air seni. Saat itu Talib berada di barisan paling belakang.

Kemudian semua anggota mengikuti jejak harimau tersebut. Sampai akhirnya menemukan Talib yang sudah berlumuran darah di tempat terbuka dalam hutan.

Harimau lalu pergi karena mendengar kedatangan rombongan. Kemudian Talib diobati, tapi sayang akhirnya meninggal.

Semua ikut membantu kecuali Wak Katok karena ia adalah seorang pemimpin.

Setelah Talib dikuburkan, Pak Haji dan sutan menjaga pondok serta Pak Balam. Sedangkan yang lain pergi memburu harimau.

Sutan tak tahan mendengar igauan Pak Balam yang meminta untuk mengaku dosa.

Ia pun pergi meninggalkan Pak Haji dan Pak Balam yang sedang sakit dan pergi menyusul kawan–kawan yang lainnya.

Di dalam hutan Wak Katok dan rombongan terus mengikuti jejak harimau. Pada saat mereka merasa sudah dekat dengan sang harimau, mereka menyusun rencana sedemikian rupa.

Mereka kemudian bersembunyi di belakang pohon yang besar dan menunggu sang harimau tiba.

Malam pun tiba, saat itu juga mereka mendengar jeritan manusia, dan auman harimau secara bersamaan.

Tapi mereka tidak menolongnya, dan memutuskan kembali ke tempat mereka bermalam.

Ketika sampai di tempat bermalam, Pak Haji menanyakan keberadaan Sutan.

Mereka menjawab tidak tahu dan menceritakan apa yang terjadi pada dua tempat yang berbeda, mereka pun menyimpulkan bahwa yang menjadi korban harimau tersebut adalah Sutan.

Ketika bangun tidur, mereka terkejut karena Pak Balam akhirnya meninggalkan dunia.

Lalu Pak Balam dikuburkan, dan mereka semua memutuskan untuk pergi berburu.

Wak Katok memutuskan mengambil jalan pintas, ternyata jalan pintas itu melewati hutan yang sangat lembab.

Hutan ini pun seperti tak pernah disentuh makhluk hidup kecuali babi dan badak.

Semua ingin keluar dari rimba jahat tersebut, namun Wak Katok yang menjadi pemimpin rombongan hanya membuat mereka berputar–putar di jalan yang sama karena sebenarnya Wak Katok takut memburu harimau.

Kemudian Wak Katok malah marah–marah sendiri, dan memaksa satu persatu orang untuk mengakui dosa–dosanya.

Semuanya mau menurut kecuali Buyung. Wak Katok memaksa Buyung dengan cara meletakkan senapan di dadanya, dan saat itu pula suara auman harimau terdengar.

Setelah harimau pergi, Wak Katok tak dapat diajak berbicara lagi yang akhirnya Wak Katok pun mengusir mereka.

Kemudian Buyung, Pak Haji, dan Sanip menyusun rencana untuk mengambil senapan. Mereka merebut senapan dan berkelahi dengan Wak Katok.

Akhirnya Wak Katok pingsan dan Pak Haji meninggal karena luka yang disebabkan oleh Wak Katok.

Setelah itu Buyung menyusun rencana yang sangat bagus hingga akhirnya dapat membunuh harimau tersebut.

Dengan menggunakan Wak Katok sebagai umpan dan diikat di sebuah batang pohon yang besar, lalu Buyung melepaskan bidikan ke arah harimau, dan mengenai sasaran tepat, hasilnya harimau tersebut mati.

Pada akhirnya Buyung menjadi mengerti maksud dari Pak Haji bahwa untuk keselamatan kita, sebaiknya dibunuh dahulu harimau yang ada di dalam diri kita.

Buyung menyadari bahwa ia harus mencintai sesama manusia dan ia akan sungguh–sungguh mencintai Zaitun.

Manfaat lainnya adalah Buyung merasa bebas dari hal–hal yang bersifat takhayul, mantera–mantera, jimat yang penuh kepalsuan dari Wak Katok.

Buyung jadi tahu tentang kepemimpinan yang bobrok oleh Wak Katok yang selalu dimitoskan oleh pengikutnya sebagai seorang yang dihormati, disegani, dan sakti.

Tapi pada kenyataannya Wak Katok adalah seorang penakut dan tidak bisa apa-apa.

Sinopsis Novel Saraswati: Si Gadis Dalam Sunyi – A.A Navis

Sastra Angkatan 1966 -1970 an

Karya: A. A Navis

Di Jakarta ada sebuah keluarga yang terdiri dari ayah ibu dan lima orang anak. Sang ayah adalah karyawan kantor didampingi oleh istri sebagai ibu rumah tangga.

Ada seorang anak perempuan yang kebetulan cacat yaitu tuli dan bisu. Dia memiliki 2 orang kakak dan 2 orang adik.

Karena tuli dan bisu, wanita tersebut tidak pernah tahu siapa namanya.

Pada Hari Sabtu sore semua anggota keluarga pergi ke Bandung dengan naik mobil sedan dinas baru ayah.

Anak perempuan tersebut tidak diajak, karena sedang sakit. Dia tinggal ditemani oleh bibi.

Hari Minggu sore mestinya mereka telah kembali. Karena besoknya, hari Senin, Ayah harus masuk kantor, juga kakak-kakak dan adik-adik sudah harus ke sekolah.

Tapi sampai pagi hari Senin mereka tidak kembali.

Hingga pada Hari Kamis datanglah paman dan memberi tahu bahwa mobil yang dikendarai ayah masuk jurang.

Ayah, ibu, dan saudara-saudara semuanya meninggal dunia.

Sekarang dia hidup seorang diri dan merasa sangat sedih, apalagi dia wanita cacat yang tuli dan bisu.

Dalam rasa duka tersebut dia jadi ingat bahwa ayahnya adalah pribadi yang baik dan bertanggung jawab dan tidak memperlakukannya seperti layaknya bukan seorang wanita yang cacat.

Ibunya lebih perasa dan sangat melindungi perempuan tersebut, terlebih kalau dijahili oleh adik-adik dan orang lain.

Setelah hidup sebatang kara, akhirnya atas kesepakatan keluarga yang berada di Jakarta dan di kampung,

akhirnya anak perempuan tersebut pulang ke kampung halamannya yaitu di Kota Padangpanjang, Sumatra Barat.

Walaupun berat hatinya untuk meninggalkan Jakarta yang penuh kenangan manis bersama ayah bunda dan adik kakak yang sudah tiada,

tapi dia tidak kuasa menolak karena dia hanya perempuan yang tuli dan bisu.

Dia dijemput oleh kakak ayahnya yang bernama Angah, mereka pulang kampung dengan naik kapal.

Tapi sayang, dalam perjalanan dia diolok-olok orang penumpang kapal lainnya karena dia cacat.

Hatinya bertambah sedih mengingat seandainya orang tuanya masih hidup pasti akan marah kalau dia dihina dan diolok-olok, apalagi karena dia cacat.

Akhirnya dia dan Angah sampai di Kota Padangpanjang yang berhawa dingin. Disana bertemu dengan dua orang anak Angah yang bernama Busra dan Bisri.

Penduduk di Padangpanjang ramah pada gadis tersebut, mungkin karena mereka tahu bahwa nasib paling malang telah menimpanya.

Mereka sering menyapa tapi hanya bisa dibalas dengan senyuman, karena gadis itu tuli dan bisu.

Tapi banyak anak-anak yang mengolok-olok gadis tersebut dan melempar dengan ranting dan batu.

Namanya juga anak-anak karena suka mempermainkan orang yang buta dan tuli.

Tapi bagi sang gadis sangatlah menyakitkan apalagi dia pernah terluka dilempar oleh mereka.

Gadis itu banyak sekali membantu keluarga Angah, seperti memasak dan mencuci.

Yang bikin repot adalah memelihara ternak itik yang banyak, mulai dari memberi makan, membersihkan kandang, dan menjaga itik di halaman rumah.

Derita sang gadis terus berlanjut. Karena disamping pekerjaan tadi, sekarang dia harus memelihara kambing.

Dia berfikir dalam hati, apakah setelah ditinggal oleh orang tua dan saudara-saudaranya,

dia harus menjadi penggembala ternak yang setiap hari harus berkotor-kotor, apalagi dia adalah seorang gadis.

Ketika sampai di Kota Padangpanjang sang gadis memiliki tiga buah sandal, tapi sekarang semuanya habis karena selalu dipakai, dan harus bertelanjang kaki kemana-mana, sehingga kakinya menjadi pecah-pecah.

Hatinya sangat sedih menerima kenyataan ini, tapi dia tidak bisa menyampaikan perasaan hati kepada orang lain karena dia tuli dan bisu.

Setiap hari dia hanya menangis sendiri.

Hanya Busra yang bisa mengerti kesedihan sang gadis, dia sering menghibur meskipun dengan isyarat saja, karena mereka tidak bisa berkomunikasi karena sang gadis tuli dan bisu.

Kemudian sang gadis belajar menyulam dan menjahit setelah diantar Angah.

Karena kakaknya Busra dan Bisri tidak punya sapu tangan, sang gadis berkeinginan untuk membuatkan sapu tangan bagi mereka.

Tapi ada perasaan yang berbeda ketika dia menyulam sapu tangan. Dia menyulam dengan kemesraan dan keindahan perasaan ketika membuat sapu tangan buat Busra.

Kemudian dia membuat motif yang berbeda dan lebih istimewa buat Busra yang selama ini bersimpati dan peduli pada penderitaannya.

Lain halnya dengan Bisri yang hanya acuh tak acuh terhadapnya.

Setelah sapu tangan selesai dibuat, sang gadis menyerahkan kepada Busra dan Bisri yang kebetulan sedang belajar bersama.

Tapi hatinya menjadi berdegup kencang dan kaget luar biasa, karena ternyata dia salah memberikan saputangan.

Yang disulam istimewa diambil oleh Bisri, dan saputangan lainnya diterima oleh Busra.

Karena ia ingin bisa menyampaikan apa yang ada dalam hati dan pikirannya, sang gadis ingin belajar membaca.

Syukurlah Busra menawarkan diri untuk mengajarkan membaca pada sang gadis.

Setiap hari dan setiap malam Busra mengajarinya. Setelah bisa membaca dan mengenal huruf, akhirnya sang gadis tahu bahwa ternyata namanya adalah: Saraswati.

Busra juga mengajarkan Saraswati mengucapkan kata-kata, walaupun dia tidak bisa mendengar perkataannya sendiri karena bisu.

Waktu terus berjalanan, sampai pada suatu hari Saraswati menerima kiriman uang dari famili di Jakarta,

uang tersebut adalah hasil dari penjualan barang-barang peninggalan orang tuanya.

Dari uang tersebut kemudian dia belikan sebuah mesin jahit bekas yang cukup bagus, sisanya dia pakai untuk usaha ternak ayam yang terpisah dari keluarga Angah.

Saraswati akhirnya punya penghasilan sendiri dari menerima jahitan dan dari ternak ayam.

Pada suatu hari Bisri meninggalkan rumah, kali ini sudah hampir satu bulan. Angah dan Busra merasa kehilangan sejak kepergian Bisri.

Lalu pada suatu Hari Sabtu Bisri datang ke rumah dengan memakai seragam warna hijau dan rambut cepak.

Waktu itu Angah dan Busra tidak ada di rumah. Setelah membuatkan minuman tiba-tiba Bisri mendekat kepada Saraswati dan memeluk badannya erat-erat, setelah itu mencium pipi, mata, leher, dan bibirnya.

Seluruh tubuh Saraswati bergetar dan akhirnya terduduk lunglai di lantai. Sejak saat itu tingkah laku Bisri makin aneh dan suka curi pandang pada Saraswati. Akhirnya Bisri pun pergi lagi.

Pada Hari Sabtu bulam berikutnya Bisri datang lagi. Sekarang pandangan mata Bisri tidak jahil lagi, tapi lebih sebagai seorang kakak.

Lalu Bisri memberikan sesuatu pada Saraswati yaitu kain cita berwarna biru laut dengan bunga-bunga kecil putih bertebaran.

Esok harinya teman-teman Bisri datang ke rumah. Teman-teman perempuan cantik-cantik dan bersolek indah.

Busra menyuruh Saraswati untuk memakai baju bagus dan berdandan.

Ketika melihat ke cermin, Saraswati sempat kaget dan akhirnya menyadari bahwa dirinya cantik.

Semua tamu yang datang termasuk Busra dan Bisri mengakui bahwa Saraswati adalah cantik.

Setelah Bisri pergi lagi dan bertugas sebagai tentara, ternyata dalam diri Saraswati ada rasa rindu dan ingin bertemu dengan Bisri.

Dia juga sering berhias dan berdandan untuk menunggunya.

Sementara itu suasana perang mulai terasa. Banyak tentara yang lewat. Ada pula penduduk yang digebuki tentara sampai berdarah.

Hingga pada suatu hari datang sekelompok tentara ke tempat tinggal Saraswati.

Mereka menggeledah dan mengobrak-abrik seluruh isi rumah. Busra, Angah, dan Saraswati dipukuli.

Semenjak saat itu Saraswati menjadi ketakutan dan tidak mau tinggal sendirian di rumah.

Kemudian pada suatu dini hari Angah dan Saraswati pergi meninggalkan rumah dengan membawa beberapa pakaian dan beberapa bungkus nasi.

Mereka berjalan cukup jauh menyusuri sungai kecil.

Suasana perang makin terasa jelas. Banyak orang yang pergi mengungsi dan sering juga ditemui tentara yang cedera.

Akhirnya Saraswati tahu bahwa saat itu terjadi perang antara tentara PRRI dengan tentara pemerintah.

Perjalanan panjang mereka kembali diteruskan. Rombongan mereka yang dulu banyak, sekarang jumlahnya tersisa tidak sampai setengah.

Setelah menempuh perjalanan yang jauh dan melewati berbagai letupan senjata api, akhirnya Saraswati mendapati Angah sudah meninggal dunia.

Mungkin karena terlalu letih dan sudah tua.

Hati Saraswati bertambah hancur, dia sudah banyak kehilangan keluarga. Mulai dari orangtua dan saudaranya, sekarang dia harus kehilangan Angah.

Apalagi sekarang masih dalam suasana perang, dan dia hanyalah seorang gadis tuli dan bisu.

Saraswati melanjutkan perjalanan dan sangat berharap supaya dapat bertemu Bisri yang sudah lama didambakannya.

Dia juga khawatir kalau-kalau Bisri juga sudah meninggal karena perang ini.

Hingga akhirnya Saraswati sampai pada sebuah rumah dan menginap di sana dalam kurun waktu yang cukup lama. Saraswati juga masih merindukan Bisri.

Di rumah tersebut banyak terdapat perempuan yang lain. Kemudian pada suatu hari datanglah rombongan pengungsi lain yang juga sudah menempuh perjalanan yang jauh.

Dalam rombongan tersebut ada seorang perempuan yang sangat cantik. Mereka lalu berkenalan, ternyata nama wanita cantik tersebut adalah Tati.

Kemudian Saraswati melewati hari-hari bersama Tati, apalagi Ayah Tati juga baik pada Saraswati.

Pada suatu hari Saraswati melihat Tati berlari ke halaman dengan wajah gembira.

Dia menjadi penasaran melihat kebahagiaan Tati dan mengikutinya sampai ke sungai.

Saraswati melihat Tati sedang berpegangan tangan dengan seorang pemuda yang menyandang bedil di bahunya. Mereka terlihat sangat mesra.

Saraswati ikut merasa gembira melihat Tati yang sudah bertemu pujaan hatinya di hutan pedalaman ini. Saat itu dia juga berharap akan bertemu Bisri yang sudah lama didambakannya.

Menjelang senja semuanya kembali ke rumah tempat mereka tinggal. Tapi tiba-tiba dunia menjadi gelap bagi Saraswati, semuanya menjadi longsor dari gunung harapannya.

Hatinya sangat hancur, karena ternyata pemuda yang bermesraan dengan Tati tadi adalah Bisri.

Jiwa dan hatinya meronta-ronta karena cintanya sudah dikhianati oleh Bisri yang selama ini ditunggu-tunggu.

Kemudian Saraswati berlari ke dalam hutan tanpa tentu arah sambil menangis tersedu. Walau malam sudah turun, dia terus berlari dengan seluruh duka hati.

Besok harinya dia kembali melanjutkan perjalanan yang jauh tanpa arah. Badannya sudah banyak yang terluka dan sudah lama tidak makan dan minum.

Hingga akhirnya Saraswati  terkapar lemas tak berdaya, dan lambat laun segalanya menjadi lenyap.

Ternyata ajalnya belum tiba. Dia sudah siuman dan dikelilingi oleh beberapa orang yang merawatnya.

Dia mendapati pakaiannya sudah diganti, karena sekujur tubuhnya yang terluka sudah diolesi obat.

Hari berikutnya Saraswati terus dirawat di rumah tersebut, hingga pada suatu pagi ada terdengar suara letupan senjata karena didatangi oleh tentara.

Ada yang  tewas dan Saraswati juga mengalami pendarahan di kepalanya.

Saraswati sekarang tinggal sendiri, lalu menyusuri jalan yang banyak mayat bergelimpangan.

Dalam perjalanan yang panjang, tanpa diduga Saraswati bertemu dengan Busra, mereka berpelukan.

Hingga akhirnya Busra menyodorkan secarik kertas yang berisi: “Aku cari engkau”. Kemudian Saraswati kembali memeluk Busra seakan tidak ingin melepaskannya lagi.

Waktu pun berlalu, suasana perang mulai reda. Kemudian Saraswati dirawat di Pusat Rehabilitasi yang dirintis Dr. Suharso di Solo.

Di tempat tersebut banyak dirawat korban-korban perang.

Saraswati dirawat disana selama 4 tahun lebih, pada masa itu dia tetap berkirim surat dengan Busra yang berada di kampung halaman.

Lalu Busra hadir dalam kenangan Saraswati. Terkenang akan segala yang ada pada diri Busra, segala perlakuannya terhadap Saraswati.

Ketika di pemakaman, ketika di rumah, ketika merawat Saraswati setelah terdampar dalam kemelut perang.

Dalam mengenang-ngenangnya Saraswati baca lagi surat-suratnya. Lalu matanya terpaut pada kalimat yang bergaris di bawahnya:

“Sekarang usahaku dapat menghidupi lima sampai delapan orang,”

Saraswati tersentak. Tiba-tiba dia memahami maksud yang tersirat. Bahwa dia telah siap hidup bersamanya.

Lalu Saraswati langsung bertindak hingga Saraswati mengirimkan sebuah telegram, bukan surat, supaya cepat sampai. Dia menyatakan: “Busra, Aku mau Pulang”.

Jawaban Busra juga bertindak cepat dan mengirim balasan melalui telegram, dia menyatakan: “Tunggu, aku akan jemput kau”.

Sinopsis Novel Senja di Jakarta – Mochtar Lubis

Karya sastra angkatan 1960 1970 an

Karya: Mochtar Lubis

Partai Indonesia membutuhkan dana untuk membiayai politik. Melalui pemimpin partai yang bernama Husni Lumbara, mereka berusaha mencari dana dengan segala upaya.

Raden Kaslan mendapat kepercayaan dari Husni Lumbara untuk menangani penyediaan dana bagi partai Indonesia.

Sebagai salah seorang anggota dewan Partai Indonesia, Raden Kaslan merencanakan untuk mendirikan perusahaan-perusahaan fiktif yang bergerak dalam usaha ekspor-impor barang-barang kebutuhan rakyat.

Tidak tanggung-tanggung, dia memakai nama istrinya yaitu Fatma dalam perusahaan fiktif tersebut, termasuk nama anak tunggalnya yaitu Suryono.

Setelah itu Husni Lumbara serta beberapa rekan separtainya menjadi direktur-direktur pada perusahan fiktif tersebut.

Anak tunggalnya Suryono juga dipercaya menjabat direktur perusahaan fiktif. Saat itu anaknya menjadi pegawai kementrian luar negeri.

Dia juga berprofesi sebagai penghibur wanita-wanita kesepian tingkat atas.

Suryono baru saja menyelesaikan tugas dinasnya di luar negeri, namun merasa tidak puas terhadap fasilitas melimpah yang diraihnya.

Maka ketika ayahnya membujuk untuk keluar dari pekerjaannya dan mengajak untuk menjabat direktur di beberapa perusahaan, ia langsung menerima dengan senang hati.

Sugeng adalah orang berikutnya yang juga menjabat direktur perusahaan fiktif.

Dia adalah seorang pegawai negeri yang selalu dituntut istrinya untuk memenuhi kebutuhan materi yang melebihi kemampuannya hingga ia langsung menerima tawaran tersebut.

Tapi ada seorang PNS lain yang bernama Rusdi. Dia tidak tergoda oleh tawaran jabatan direktur perusahaan fiktif.

Walaupun istrinya Dahlia sering menuntut kebutuhan materi yang berlebihan, ia tetap menjadi pegawai negeri.

Hal tersebut membuat Dahlia lari ke pangkuan Suryono yang mampu memenuhi semua kebutuhan materinya ketika suaminya tidak berada di rumah.

Semua perusahaan fiktif tadi berhasil meraih keuntungan yang sangat besar sehingga membuat orang-orang terlibat di dalamnya bisa menjalani hidup dengan bahagia dan serba kecukupan.

Sementara itu di lain pihak, rakyat banyak yang menderita. Sebagai contoh adalah Pak Iji dan istrinya harus berjuang untuk menahan lapar dan menghidupi dirinya dan keluarganya.

Ada lagi masyarakat lain yang lebih susah, namanya Neneng, seorang wanita yang harus menjadi pelacur karena tak kuat menahan lapar.

Masih banyak rakyat yang hidupnya sengsara, makan susah, berobat tidak sanggup, pendidikan tidak bisa dicapai, dan kebutuhan pokok tidak bisa terpenuhi.

Keadaan tersebut luput dari perhatian Partai Indonesia, termasuk anggota nya Raden Kaslan dan para direktur fiktif yang hidup serba mewah, harta melimpah, dan banyak fasilitas.

Tapi kemewahan komplotan Raden Kaslan termasuk direktur-direktur fiktif tidak berlangsung lama.

Berita di media massa menyoroti pergolakan partai politik, termasuk Partai Indonesia.

Perusahaan-perusahaan fiktif Raden Kaslan dan komplotannya dibongkar kebobrokakannya

Tidak beberapa lama Raden Kaslan dan beberapa rekannya ditangkap.

Anaknya Suryono tewas karena kecelakaan ketika melarikan diri, sementara keluarga yang lainnya menderita luka-luka.

Sinopsis Novel Pada Sebuah Kapal – Nh. Dini

Sastra Angkatan 1966 – 1970 an

Karya: Nh. Dini

Ada sebuah keluarga di Kota Semarang. Keluarga ini sangat kental dengan dunia seni. Ayah dan Ibu memiliki lima orang anak.

Salah seorang anak bernama Sri. Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Seperti kakak–kakaknya, dia dimasukkan ke sekolah tari oleh ayahnya.

Ketika berusia tiga belas tahun, ayahnya meninggal dunia. Karena Sri sangat mengagumi ayahnya, maka ia merasa sangat kehilangan.

Sejak ayahnya meninggal, ia membantu ibunya untuk berjualan kue dan membatik.

Ketika lulus dari SMA, Sri bekerja sebagai penyiar radio yang ada di kota Semarang. Setelah bekerja selama tiga tahun, Sri mulai merasa jenuh.

Dia mencoba mengikuti pendidikan pramugari dan akhirnya mendapat kesempatan untuk diuji di Jakarta.

Di Jakarta Sri mengikuti berbagai macam tes untuk jadi pramugari. Berdasarkan hasil tes yang diterima, ternyata Sri mengidap penyakit paru–paru, sehingga dia tidak lulus jadi pramugari.

Sri melakukan pengobatan dan istirahat total dari pekerjaannya selama dua bulan.

Sri tinggal di Salatiga untuk menyembuhkan lubang yang terdapat di paru– parunya.

Setelah sembuh, Sri pergi ke Jakarta. Dia tinggal di rumah pamannya yang dulu ditempati Sutopo yaitu kakaknya yang telah lebih dulu ke Jakarta.

Sekarang Sutopo memiliki rumah sendiri.

Di samping bekerja sebagai penyiar radio, Sri menjadi penari untuk menari di istana.

Walaupun sebagian teman kerjanya tidak menyukai Sri, namun Sri tetap sopan terhadap mereka dan bersabar menghadapi semuanya.

Kemudian Sri bertemu dengan teman kecilnya waktu sekolah dasar, namanya Narti. Sekarang Narti bekerja sebagai pramugari.

Dia sering menemui Sri untuk makan atau nonton film.

Melalui Narti  Sri mengenal Mokar dan Saputro yang merupakan pilot angkatan udara. Setelah beberapa lama tinggal di Jakarta, Ibu Sri meninggal.

Pada sebuah acara Malam Kesenian Pemuda se- Asia, Sri berjumpa lagi dengan Saputro.

Pada saat itu Sri merasakan ada yang berbeda dalam dirinya, tatkala melihat sikap Saputro yang seperti mencintanya.

Padahal sebelumnya mereka sering pergi bersama tapi bersama Narti dan Mokar.

Sejak malam itu, keduanya semakin dekat dan menjalin kasih.

Akhirnya mereka memutuskan akan tunangan dan segera menikah setelah Saputro selesai mengikuti pendidikan di Cekoslovakia.

Tapi sayang, rencana tunangan hanya impian, karena Saputro tewas saat penerbangan dari Bandung ke Jakarta.

Hati Sri hancur mendengar kabar buruk itu, Sri tenggelam dalam kesedihan.

Setelah sepuluh bulan kematian Saputro tunangannya, Sri memutuskan untuk menikah dengan Charles Vincent, yaitu seorang diplomat asal Prancis. Walaupun sebenarnya, dia tidak mencintai Charles.

Rencana Sri untuk menikah dengan Charles tidak disetujui oleh keluarga, terutama kakaknya.

Sutopo yakin kalau adiknya tidak akan bahagia jika menikah dengan Charles karena Sri belum terlalu mengenal Charles dengan baik.

Namun Sri keras kepala, dan tetap menikah dengan Charles

Setelah menikah kewarganegaraan Sri berubah menjadi Perancis mengikuti suaminya.

Mereka tinggal di Kobe-Jepang. Pernikahan Sri dengan Charles tidak bahagia, walaupun Charles selalu bilang mencintainya.

Setelah menikah, dugaan keluarga Sri menjadi kenyataan. Sikap Charles berubah.

Charles tidak lagi seperti yang dikenal Sri sebelum menikah. Sekarang Charles sering marah dan membentak Sri.

Akhirnya mereka memiliki seorang anak perempuan. Saat umur anaknya dua tahun, Charles mengajak istrinya berkunjung ke beberapa Negara.

Setelah satu bulan berada di Indonesia, mereka terbang ke Saigon.

Dari Saigon Charles meminta istri dan anaknya untuk melakukan perjalanan dengan kapal, sedangkan Charles akan mengunjungi negara-negara yang ingin dikunjunginya dengan menggunakan pesawat.

Dalam perjalanan di kapal itulah Sri menemukan kebahagiaan yang selama ini tidak didapatinya.

Dalam perjalanan dari Saigon menuju Marseille, Sri bertemu dengan seorang komandan kapal bernama Michel Dubanton.

Sikapnya sangat baik pada Sri yang akhirnya juga jatuh hati.

Mereka sering bertemu dan mulai mengenal satu sama lain dan saling bercerita. Sri yang tidak bahagia dengan pernikahannya dengan Charles,

dan Michel yang kecewa dengan istrinya Nicole, mencoba mencari kebahagiaan di luar pernikahannya.

Kisah pada kapal ini adalah hal yang sangat membahagiakan bagi Sri, walaupun dia tahu menghianati suaminya merupakan suatu kesalahan, tapi dia tidak menyesalinya.

Setelah sampai di Marseille, Sri dan Michel harus berpisah. Sri sangat sedih, dia menangis karena perpisahan mengingatkan dirinya akan seseorang yang telah meninggalkannya.

Akhirnya tugas-tugas suami Sri selesai, mereka kembali ke Kobe. Kehidupan Sri kembali seperti semula rumah tangganya dilalui dengan banyak pertengkaran.

Karena kesal, pernah juga Sri meminta cerai kepada suaminya dengan alasan sudah tidak mencintainya lagi. Tapi Charles menolak dengan alasan anak.

Lalu kisah perselingkungan terjadi lagi. Setelah beberapa lama tidak bertemu,

Michel mengabarkan akan ke Yokohama, lalu mereka bertemu dan kembali memadu kasih secara sembunyi-sembunyi

Untunglah pada akhirnya Sri menyadari bahwa dia dan Michel terikat oleh pasangan masing-masing.

Apalagi Michel adalah seorang pelaut yang sering jauh dari keluarga, dan pasti sering bertemu dengan banyak wanita dari berbagai negara yang mungkin saja menarik hatinya.