Launching Antologi Puisi Digital ‘Aksara Malioboro’, Indah Banget! 16 November 2025 di Kota Yogyakarta, D.I. Yogyakarta

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Perkembangan Sastra Indonesia di Pulau Jawa kian modern dengan peluncuran Antologi Puisi Digital berjudul “Aksara Malioboro”. Acara ini menarik perhatian generasi muda yang aktif di media sosial karena formatnya yang inovatif dan aksesibel.

Rangkuman Berita Sastra Jawa (5W+1H)

  1. What (Apa): Peluncuran dan bedah buku Antologi Puisi Digital berbasis aplikasi, bertema nostalgia dan dinamika Kota Pelajar.

  2. When (Kapan): Diluncurkan pada hari ini, 16 November 2025, dalam sebuah acara hybrid (luring dan online).

  3. Where (Di Mana): Bertempat di kawasan Benteng Vredeburg, Kota Yogyakarta, D.I. Yogyakarta, sekaligus menjadi pameran instalasi seni literasi.

  4. Why (Mengapa): Sebagai respons terhadap perubahan zaman, karya ini bertujuan menjangkau pembaca digital dan memviralkan puisi di platform media sosial.

  5. Who (Siapa): Diterbitkan oleh Komunitas Sastra Milenial Jogja (KSMJ), melibatkan 50 penyair muda dan diresmikan oleh Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Bidang Kebudayaan.

  6. How (Bagaimana): Pengguna dapat mengakses puisi dengan memindai QR code di setiap instalasi seni, mengunduh, dan membagikannya, menghasilkan traffic pembaca yang tinggi secara instan.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra

Tujuan kegiatan ini adalah mendekatkan sastra kepada audiens digital dan menunjukkan bahwa puisi dapat menjadi medium yang relevan dengan kehidupan sehari-hari kaum milenial dan Gen Z.

Manfaatnya adalah menumbuhkan minat baca dan tulis puisi di kalangan pelajar, menyediakan platform publikasi yang non-konvensional, serta memperkuat citra Yogyakarta sebagai Pusat Sastra dan Budaya digital di Indonesia.

Karya Sastra yang Ditampilkan (Puisi)

Salah satu puisi yang paling banyak dibagikan:

Malioboro di Layar Genggam

Trotoar ini tak pernah tidur, katanya. Ia hanya menunggu baris aksara yang hilang. Kita mencari kopi, mencari janji, di antara ketikan layar yang biru. Biar saja puisi ini sunyi, asal kau membacanya, di tengah riuh klakson dan story yang berlari.

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.