Sastra dalam Berita
Sebuah gerakan literasi radikal mengguncang jagat Sastra Indonesia hari ini.
| Unsur | Penjelasan (SEO Fokus) |
| Apa (What) | “Maraton Membaca Novel 24 Jam Nonstop”, melibatkan 24 sastrawan dan pegiat literasi membaca kutipan novel Sastra Jawa Modern dan karya kritis sosial. |
| Di Mana (Where) | Pelataran ikonik Tugu Yogyakarta. |
| Kapan (When) | Sejak Sabtu sore hingga Minggu petang, 23 November 2025. |
| Siapa (Who) | Sastrawan, pegiat literasi, dan komunitas yang fokus pada Kritik Sosial. |
| Mengapa (Why) Viral | Menjadi respons artistik terhadap isu penurunan minat baca serius, di mana para peserta membawa spanduk bertuliskan “Membaca adalah Perlawanan”. |
| Bagaimana (How) Viral | Foto dan video peserta yang membaca di bawah cahaya Tugu diunggah berbagai media massa, mendorong keyword Maraton Baca Novel Indonesia dan Sastra Yogyakarta mencapai puncak trending Twitter. |
Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra
Tujuan utama kegiatan ini adalah mengangkat keseriusan dan daya kritis dalam membaca novel sebagai bentuk respons sosial dan politik. Manfaatnya, memberikan platform bagi novel-novel eksperimental dan karya Sastra Jawa yang kaya Kritik Sosial untuk didengar secara luas. Kegiatan ini juga mendorong Pelestarian Aksara dengan menampilkan pembacaan dwi-bahasa (Jawa dan Indonesia).
Karya Sastra yang Ditampilkan
Kutipan novel yang dibacakan pada puncak maraton adalah karya fiksi eksperimental berjudul “Pusaran di Balik Tugu”:
Dari Novel “Pusaran di Balik Tugu” (Bab VIII)
…Yogyakarta adalah bisikan sejarah, yang kini berisik oleh bising motor dan janji-janji palsu. Aksara Jawa di prasasti itu tetap tegak, menertawakan orang-orang yang hanya sibuk menggenggam gawai dan melupakan bahasa leluhur mereka. Tugu ini, saksi bisu. Ia menunggu, sampai kapan pusaran kealpaan ini akan berhenti.
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

