Pementasan Drama Tradisional “Kisah Barong yang Lupa Tari” Indah Banget! Kamis, 11 Desember 2025 di Kabupaten Gianyar, Bali

Diposting pada

Sastra dalam Berita

GIANYAR, Bali – Sebuah pementasan drama tradisi yang unik berhasil menarik perhatian wisatawan dan masyarakat lokal hari ini. Pementasan Drama Tradisional ‘Kisah Barong yang Lupa Tari’ menggabungkan tari kontemporer dengan dialog berbahasa Bali halus dan Bahasa Indonesia, menjadi tontonan yang wajib dibagikan.

Aspek Jurnalistik Detail
What (Apa) Pementasan drama tradisi modern “Kisah Barong yang Lupa Tari.”
Who (Siapa) Sanggar Teater Pusaka, kolaborasi dengan penari dari ISI Denpasar.
When (Kapan) Kamis, 11 Desember 2025 (Pukul 19.00 WITA).
Where (Di Mana) Panggung Terbuka Balai Budaya Gianyar.
Why (Mengapa Viral) Drama ini viral karena memodifikasi mitos Barong Bali menjadi kritik sosial yang menyentuh isu pariwisata berlebihan (overtourism), dikemas dengan estetika visual dan tarian yang memukau.
How (Bagaimana) Tiket sold out dalam hitungan jam; cuplikan pementasan yang menunjukkan kostum dan lighting dramatis tersebar luas di platform video pendek.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra

Tujuan utama pementasan ini adalah melestarikan elemen sastra lisan dan tradisi Bali (seperti bebaturan atau dialog tradisional) melalui adaptasi yang relevan dengan zaman modern, serta menjadi refleksi kritis terhadap perubahan budaya dan dampak pariwisata. Manfaatnya, kegiatan ini menarik minat wisatawan budaya dan memberi panggung bagi seniman muda Bali untuk mengeksplorasi warisan budaya mereka.

Karya Sastra yang Ditampilkan (Naskah Drama)

Judul Naskah: Kisah Barong yang Lupa Tari

Karya: (Anonim, Kutipan Dialog Fiktif)

BARONG (Dalam topeng, bergerak kaku):

Lelah, aku lelah menjadi simbol yang diam. Aku lupa langkah-langkah suci di pura. Aku hanya tahu caranya berpose untuk lensa-lensa asing.

RANGDA (Mencibir, suara parau):

Tarianmu hilang, Barong, sebab jiwamu telah kau jual pada kilau uang. Mana kesucian Caka? Kau kini hanya patung yang menari, bukan jiwa yang menari.

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.