Diskusi Sastra Hutan dan Lingkungan, Mempesona! Minggu, 30 November 2025 di Kota Pontianak, Kalimantan Barat

Diposting pada

Sastra dalam Berita

PONTIANAK, Kalimantan Barat – Hari ini, perhatian publik tertuju pada pergerakan Sastra Hijau di Borneo yang vokal menyuarakan alam.

Rangkuman Jurnalistik (5W+1H & SEO Kuat)

  • Apa (What): “Diskusi Sastra: Suara Hutan dan Nasib Manusia Dayak”, mengulas isu lingkungan dan kehutanan sebagai tema sentral Sastra Borneo.

  • Kapan (When): Minggu, 30 November 2025, menjadi trending topic karena urgensi isu yang diangkat.

  • Di mana (Where): Taman Kota Pontianak, menyuarakan Puisi Lingkungan Kalimantan.

  • Bagaimana (How): Diskusi menampilkan pembacaan puisi tentang kebakaran lahan dan hilangnya habitat orangutan, serta kearifan lokal Budaya Dayak.

  • Siapa (Who): Komunitas Sastra Sungai Kapuas, sastrawan, aktivis lingkungan, dan tokoh adat.

  • Mengapa (Why): Kedalaman emosi dalam Puisi Lingkungan dan relevansi isu yang diangkat membuat diskusi ini menyentuh hati publik nasional.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra

Tujuan Utama Manfaat Utama yang Diperoleh
Menggunakan Sastra sebagai Medium Advokasi Lingkungan dan Budaya Adat. Kesadaran Lingkungan: Meningkatkan kesadaran masyarakat luas tentang krisis ekologi di Kalimantan.
Penguatan Narasi Lokal: Memberikan ruang bagi Budaya Dayak menarasikan isu mereka melalui sastra.
Mendorong Aksi: Menginspirasi pembaca dan penulis untuk mengambil peran aktif dalam pelestarian hutan.

Karya Sastra yang Ditampilkan (Puisi Lingkungan)

Puisi yang dibacakan dalam sesi utama:

Bukan lagi hujan yang jatuh, tapi air mata.

Dulu pohon adalah pagar, kini tinggal tunggul.

Sungai Kapuas, kau masih ingat sumpah nenek moyang?

Bahwa kita adalah penjaga, bukan pemilik.

Asap ini adalah bahasa dukacita.

Dari rimba yang kini hanya bernama kenangan.

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.