Parade Kelotok Pembacaan Syair di Sungai Martapura, Menawan! Selasa, 2 Desember 2025 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Di tanah seribu sungai, sastra pun mengalir di atas air. Acara sastra hari ini di Banjarmasin memukau mata dan telinga.

Rangkuman Berita Viral: Festival Sastra Sungai Banjar (5W+1H)

“Festival Sastra Sungai Martapura: Syair Perahu dan Rima Banjar” viral karena menampilkan panggung terapung di atas Sungai Martapura. Puncak kegiatan adalah parade perahu kelotok yang dihiasi lampu warna-warni, di mana para penyair membacakan syair.

  • What (Apa): Festival Sastra yang menjadikan Sungai Martapura sebagai panggung utama untuk pembacaan syair dan puisi bertema maritim/sungai.

  • When (Kapan): Parade kelotok pembacaan syair berlangsung pada petang hari Selasa, 2 Desember 2025.

  • Where (Di Mana): Sepanjang aliran Sungai Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

  • Who (Siapa): Komunitas Sastra Sungai Banjar (KSSB) didukung oleh Pemerintah Kota Banjarmasin dan budayawan lokal.

  • Why (Mengapa): Bertujuan menghidupkan kembali tradisi sastra lisan masyarakat Banjar yang erat kaitannya dengan sungai, serta meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan sungai.

  • How (Bagaimana): Video drone yang merekam parade kelotok bercahaya saat penyair membacakan Syair Perahu modern dengan latar pasar terapung yang ikonik menyebar cepat di platform Instagram, menjadi tontonan yang eksotis.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra

Tujuan utama adalah mengangkat identitas sastra sungai Kalimantan, sekaligus mengembalikan peran Sungai Martapura sebagai pusat kebudayaan dan narasi bagi masyarakat Banjar.

Manfaatnya mencakup:

  1. Pelestarian Kelotok: Memanfaatkan perahu tradisional sebagai medium seni, membantu pelestarian kerajinan perahu.

  2. Edukasi Lingkungan: Sastra digunakan sebagai alat kampanye kebersihan dan ekosistem sungai.

  3. Identitas Lokal: Memperkuat kekhasan sastra Banjar yang unik dan terinspirasi dari alam perairan.

Karya Sastra yang Ditampilkan

  • Syair Klasik: Adaptasi kontemporer dari Syair Perahu (Karya Hamzah Fansuri).

  • Puisi: Puisi “Senja di Martapura” (Karya bertema kehidupan di pasar terapung).

  • Cerpen: Cuplikan cerpen “Hantu Sungai” (Horor/mitologi lokal Banjar).

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.