Legenda: “Putra Mahkota Amat Mude” (Cerita Rakyat Aceh)

Berikut adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Aceh yaitu Legenda “Putra Mahkota Amat Mude” yang dikisahkan secara turun temurun.

Sering pula dilantunkan sebagai sebuah dongeng untuk pengantar tidur anak-anak.

Pada suatu masa, di Provinsi Aceh ada sebuah daerah yang bernama Negeri Alas.

Terdapatlah sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang arif dan bijaksana.

Kerajaan di Negeri Alas yang damai dan indah tersebut hidup makmur dan sejahtera.

Semua rakyatnya selalu patuh dan setia kepada kepada raja.

Tapi ada satu kendala yang membuat sang Raja selalu bersedih, beliau belum dikaruniai seorang anak walau umur sang Raja sudah cukup tua.

Hati raja menjadi terenyuh, karena adiknya yang lebih muda darinya sudah mempunyai seorang anak.

Suatu ketika, di serambi istana Sang Raja duduk termenung. Diam diam ternyata ada yang memperhatikan.

Beberapa saat kemudian permaisuri sudah duduk di samping Sang Raja.

Lalu permaisuri menanyakan apakah yang sedang dipikirkan oleh Sang Raja. Kemudian sang raja menjawab :

“Duhai Dindaku tercinta! Kita sudah tua, tapi sampai saat ini kita belum mempunyai seorang putra yang kelak akan mewarisi tahta kerajaan ini”

Sang Permaisuri pun menanggapi dengan penuh perasaan untuk menenangkan hati sang suami:

“Dinda mengerti perasaan Kanda. Dinda juga sangat merindukan seorang buah hati belaian jiwa.

Kita telah mendatangkan tabib dari berbagai negeri dan mencoba segala macam obat, namun belum juga membuahkan hasil.

Kita harus bersabar dan banyak berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa”

Mendengar ucapan sang permaisuri, alangkah sejuknya hati sang Raja.

Beliau sangat beruntung mempunyai seorang permaisuri yang penuh pengertian dan perhatian kepadanya.

Mereka pun saling bertatap muka penuh kasih. Mulai dari saat itu, sang Raja dan permaisuri semakin giat berdoa dengan harapan keinginan mereka dapat terkabulkan.

Mereka terus berdoa. Hingga pada suatu malam, sang Raja yang didampingi permaisurinya berdoa dengan penuh khusyuk.

Sang Raja Memanjaatkan Doa: “Ya Tuhan! Karuniakanlah kepada kami seorang putra yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan ini.

Hamba rela tidak merasakan sebagai seorang ayah, asalkan kami dikaruniai seorang putra”

Doa mereka pun dikabulkan. Karena sebulan kemudian, permaisuri pun mengandung. Betapa gembiranya hati sang Raja mengetahui hal itu.

Kemudian berita tentang kehamilan permaisuri pun tersebar ke seluruh penjuru negeri.

Begitu juga rakyat negeri itu sangat gembira, karena raja mereka tidak lama lagi akan memiliki keturunan yang kelak akan mewarisi tahtanya.

Hari berganti hari. Sang Raja dan Permaisuri menikmati masa-masa indah dengan penuh harap.

Kehamilan sang permaisuri pun sudah memasuki usia sembilan bulan.

Hingga pada suatu sore, sang permaisuri pun melahirkan seorang anak yang berjenis kelamin laki-laki yang sehat dan tampan.

Kemudian mereka melalui hari yang makin indah. Permaisuri tampak tersenyum bahagia sambil menimang-nimang putranya.

Begitupula sang Raja senantiasa bersyukur telah memperoleh keturunan anak laki-laki yang selama ini ia idam-idamkan.

Sang Raja dan Permaisuri menjadi sangat bersyukur karena Tuhan telah mengabulkan doa mereka yang selama ini selalu dipanjatkan.

Setelah satu minggu kelahiran sang anak, sang Raja pun mengadakan pesta dan upacara turun mandi, yakni upacara pemberian nama.

Pesta dan upacara tersebut diadakan selama tujuh hari tujuh malam.

Acara tersebut sangat meriah, karena tamu yang diundang bukan hanya rakyat negeri Alas,

melainkan juga seluruh binatang dan makhluk halus yang ada di laut maupun di darat.

Semua yang hadir dan tamu undangan tampak gembira dan bersuka ria.

Dalam upacara turun mandi tersebut diadakan pemberian nama sang putra Raja, mereka pun menamainya dengan nama: Amat Mude.

Tapi sayang, beberapa bulan setelah upacara dilaksanakan, sang Raja pun mulai sakit-sakitan. Seluruh badannya terasa lemah dan letih.

Tiba-tiba sang raja berkata lirih: “Dinda! Mungkin ini pertanda waktuku sudah dekat.

Dinda tentu masih ingat doa Kanda dulu sebelum kita mempunyai anak”

Sang Permaisuri diam sejenak. Setelah mendengar ungkapan sang Raja, hati permaisuri menjadi sedih.

Walau menyadari hal itu, permaisuri tetap berharap agar sang Raja dapat sembuh dan dipanjangkan umurnya.

Untuk mengobati penyakit sang raja, kemudian semua tabib diundang ke istana.

Tapi apa hendak dikata, tak seorang pun yang berhasil menyembuhkannya.

Keadaan main memburuk, penyakit sang Raja semakin hari bertambah parah. Hingga pada suatu hari, sang raja yang arif dan bijaksana itu pun wafat.

Awan duka menyelimuti seluruh penjuru kerajaan. Anggota keluarga sangat berduka, demikian juga seluruh rakayat Negeri Alas juga bersedih.

Lalu tinggallah Amat Mude sebagai pewaris tunggal Kerajaan Negeri Alas.

Namun mengingat usianya yang masih kecil dan belum sanggup melakukan tugas-tugas kerajaan, maka diangkatlah Pakcik Amat Mude yang bernama Raja Muda menjadi raja sementara Negeri Alas.

Karena dia sudah menjadi seorang raja, apapun perintah Pakcik Amat Mude yang bernama Raja Muda pasti dipatuhi oleh seluruh rakyat..

Fakta inilah yang membuatnya enggan digantikan kedudukannya sebagai raja oleh Amat Mude.

Oleh sebab itu kemudian berbagai tipu muslihat pun ia lakukan. Awalnya, sang Raja memindahkan Amat Mude dan ibunya ke ruang belakang yang semula tinggal di ruang tengah.

Dengan alasan, Amat Mude yang masih kecil sering menangis, sehingga mengganggu setiap acara penting di istana.

Lalu niat jahat Raja Muda semakin hari semakin jelas. Pada suatu hari, ia mengumpulkan beberapa orang pengawalnya di ruang sidang istana.

Dia berkata: “Wahai, Pengawal! Besok pagi-pagi sekali, buang permaisuri dan anak ingusan itu ke tengah hutan!”

Mendengar hal itu, pengawal kerajaan menjadi heran. Tapi memang niat jahatnya sudah membara dia tetap ingin membuang Amat Mude dan ibunya.

Karena dia tidak ingin suatu hari kelak Amat Mude akan merebut kekuasaannya.

Pengawal pun berkata: “Tapi, Baginda. Bukankah Putra Mahkota Amat Mude pewaris tahta kerajaan ini”

Tapi Raja Muda tambah murka, dia pun tetap berkeras dan mengancam semua pengawal kalau tidak melaksanakan perintahnya.

Karena diancam raja, tak seorang pun pengawal yang berani lagi angkat bicara,

karena jika berani membantah dan menolak perintah tersebut, mereka akan mendapat hukuman berat.

Lalu besoknya, pergilah para pengawal tersebut mengantar permaisuri dan Amat Mude ke tengah hutan.

Keduanya pun ditinggalkan di tengah hutan dengan bekal seadanya.

Disana ibu dan anak membuat sebuah gubung kecil di bawah sebuah pohon rindang, untuk melindungi diri dari panasnya matahari dan dinginnya udara malam.

Hidup mereka berjalan sangat memprihatinkan. Demi bertahan hidup, mereka memanfaatkan hasil-hasil hutan yang banyak tersedia di sekitar mereka.

Walau begitu mereka terus berusaha dan bertahan.

Hingga usia Amat Mude telah berumur 8 tahun.

Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan.

Hingga pada suatu hari, ketika sedang bermain-main, Amat Mude menemukan cucuk sanggul ibunya.

Diambilnya cucuk sanggul itu dan dibuatnya mata pancing.

Setelah membuat pancing, kemudian Amat Mude pergi memancing di sebuah sungai yang di dalamnya terdapat banyak ikan.

Dengan cepatnya, ia telah memperoleh lima ekor ikan yang hampir sama besarnya dan segera membawanya pulang.

Karena melihat anaknya membawa banyak ikan, sang ibu menjadi sangat senang.

Ibunya pun memuji dan mengapresiasi keahlian anaknya yang sungguh di luar dugaan sang ibu.

Mereka pun tersenyum dan tertawa bersama.

Karena banyaknya lima ekor ikan besar tersebut tentu tidak bisa mereka habiskan.

Kemudian timbul pikiran permaisuri untuk menjualnya sebagian ke sebuah desa yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Bersama dengan Amat Mude, permaisuri pun pergi ke desa itu.

Waktu akan menawarkan ikan itu kepada penduduk, tanpa diduga mereka bertemu dengan saudagar kaya dan pemurah.

Ia adalah bekas sahabat suaminya dulu.

“Ampun, Tuan Putri! Kenapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?” tanya saudagar itu heran.

Kemudian sang permaisuri pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya sampai ia dan putranya berada di desa itu.

Setelah mendengar kata permaisuri dan melihat keadaan permaisuri dan putranya yang sangat memprihatinkan tersebut,

saudagar itu pun mengajak mereka mampir ke rumahnya dan membeli semua ikan jualan mereka.

Ketika sudah berada di rumah, saudagar itu menyuruh istrinya agar segera memasak ikan tersebut untuk menjamu permaisuri dan Amat Mude.

Tapi waktu sedang memotong ikan tersebut, sang Istri menemukan suatu keanehan.

Ia kesulitan memotong perut ikan tersebut dengan pisaunya.

Istri Saudagar menjadi heran karena tidak biasanya perut ikan sangat keras.

Dia menduga ada isi dalam perut ikan mengandung benda yang sangat keras.

Dia pun berusaha berkali-kali menggunakan pisaunya, bahkan dengan usaha yang ekstra. Hingga akhirnya perut ikan itu pun terbelah.

Dia pun menjadi sangat kaget ketika melihat telur ikan berwarna kuning emas, tapi keras.

Seketika itu juga dia memanggil suaminya untuk memeriksa benda tersebut.

Mereka pun mengamati dengan seksama seksama, ternyata butiran-butiran yang berwarna kuning tersebut adalah emas murni.

Kemudian Saudagar tersebut mengatakan dengan bijak kepada istrinya bahwa setelah memasak dan menjamu permaisuri dan anaknya, supaya cepat menjual emas itu ke pasar.

Sang istri pun bertanya heran, kemudian saudagar menerangkan bahwa uang hasil penjualan emas itu akan digunakan untuk membangun rumah yang bagus sebagai tempat kediaman permaisuri dan putranya.

Sang Saudagar ingin membalas budi baik sang Raja yang dulu semasa hidupnya telah banyak membantu mereka.

Setelah semua dilaksanakan, lalu saudagar itu memberi tahu kabar gembira tersebut kepada permaisuri dan putranya bahwa mereka akan dibuatkan sebuah rumah yang bagus.

Ketika mendengar kata saudagar tersebut, permaisuri sangat terharu.

Ia benar-benar tidak menyangka jika mantan sahabat suaminya itu sangat baik kepada mereka.

Dia pun mengucapkan terima kasih atas kebaikan saudagar tersebut. Tapi sang saudagar menjawab:

“Ampun, Tuan Putri! Bantuan kami ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bantuan Baginda Raja semasa hidupnya kepada kami”

Sebelum sore datang, permaisuri dan Amat Mude pun mohon diri untuk pulang dan kembali ke gubuknya di hutan.

Sebelum meninggalkan rumah mereka, Saudagar itu pun memberikan pakaian yang bagus-bagus dan membekali mereka makanan yang lezat-lezat.

Waktu pun bergulir, rumah pun mulai dibangun. Hingga akhirnya rumah permaisuri pun selesai dibangun.

Kini permaisuri dan Amat Mude menempati rumah bagus dan bersih.

Sedangkan Amat Mude berusaha memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Dia pergi ke sungai setiap hari untuk memancing.

Ikan-ikan yang diperolehnya untuk dimakan sehari-hari dan selebihnya dijual ke penduduk sekitar.

Ternyata Di antara ikan-ikan yang diperolehnya ada yang bertelur emas.

Telur emas tersebut sedikit demi sedikit mereka simpan, sehingga lama-kelamaan mereka pun menjadi kaya raya dan terkenal sampai ke seluruh penjuru negeri.

Kabar tentang kehidupan mereka yang kaya raya menyebar kemana-mana. Lalu sampai juga ke telinga Pakcik Amat Mude.

Mendengar kabar itu, ia pun berniat untuk mencelakakan Amat Mude, karena tidak ingin melepaskan kekuasaannya.

Lalu Raja Muda yang serakah itu memanggil Amat Mude untuk menghadap ke istana.

Ketika Amat Mude sampai di istana, alangkah terkejutnya Raja Muda saat melihat seorang pemuda gagah dan tampan memberi hormat di hadapannya.

Dia makin merasa bahwa Amat Mude benar-benar luar biasa dan akan menjadi ancaman bagi kedudukanku sebagai raja.

Dia pun mencari berbagai cara, lalu memerintahkan Amat Mude untuk pergi memetik buah kelapa gading di sebuah pulau yang terletak di tengah laut.

Raja Muda mengatakan bahwa Buah kelapa gading itu diperlukan untuk mengobati penyakit istri Raja Muda.

Tapi ternyata, lautan yang dilalui menuju ke pulau itu dihuni oleh binatang-binatang buas. Siapa pun yang melewati lautan itu, maka akan celaka.

Raja Muda pun mengancam: “Hei, Amat Mude! Jika kamu tidak berhasil mendapatkan buah kelapa gading itu, maka kamu akan dihukum mati”

Tapi hati Amat Mude memang mulia, dia ingin menolong istri Raja Muda, Amat Mude pun segera melaksanakan perintah itu.

Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Amat Mude di sebuah pantai.

Awalnya Amat Mude kebingungan mencari cara untuk mencapai pulau itu.

Pada saat ia sedang duduk termenung berpikir, tiba-tiba muncul di hadapannya seekor ikan besar bernama Silenggang Raye yang didampingi oleh Raja Buaya dan seekor Naga Besar. Amat Mude pun menjadi ketakutan.

“Hei, Anak Muda! Kamu siapa dan hendak ke mana?” tanya Ikan Silenggang Raye.

“Sa… saya Amat Mude,” jawab Amat Mude dengan gugup, lalu menceritakan asal-asul dan maksud perjalanannya.

Setelah menyimak cerita Amat Mude tadi, Ikan Silenggang Raye,

Raja Buaya dan Naga itu langsung memberi hormat kepadanya.

Amat Mude pun terheran-heran melihat sikap ketiga binatang raksasa itu.

Amat Mude heran ketika melihat mereka sangat hormat kepadanya.

Raja Buaya pun menjawab: “Ampun, Tuan! Almarhum Ayahandamu adalah raja yang baik.

Dulu, kami semua diundang pada pesta pemberian nama Tuan!”

Naga besar juga menambahkan: “Benar, Tuan! Tuan tidak perlu takut. Kami akan mengantar Tuan ke pulau itu”.

Kemudian setelah itu, Amat Mude pun diantar oleh ketiga binatang raksasa tersebut menuju ke pulau yang dimaksud.

Ternyata tidaklah lama, lalu mereka pun sampai di pulau itu. Sebelum Amat Mude naik ke darat, si Naga besar memberikan sebuah cincin ajaib kepada Amat Mude.

Dengan memakai cincin ajaib itu, maka semua permintaan akan dikabulkan.

Sesaat kemudian, Amat Mude pun segera mencari pohon kelapa gading. Tidak berapa lama mencari, ia pun menemukannya.

Ternyata pohon kelapa gading itu sangat tinggi dan hanya memiliki sebutir buah kelapa.

Kemudian Amat Mude menyampaikan niatnya kepada cincin ajaib yang melingkar di jari tangannya.

Setelah itu Amat Mude pun dapat memanjat dengan mudah dan cepat sampai ke atas pohon.

Ketika ia sedang memetik buah kelapa gading itu, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang sangat lembut menegurnya

Terdengarlah suara yang merdu: “Siapapun yang berhasil memetik buah kelapa gading itu, maka dia akan menjadi suamiku”

Amat Mude terkejut dan kemudian menanyakan siapah gerangan perempuan yang berkata tadi.

Lalu terdengar jawaban: “Aku adalah Putri Niwer Gading”.

Setelah berhasil mengambil sebutir kelapa gading, Amat Mude pun turun, sesaat kemudian tiba-tiba seorang putri cantik jelita berdiri di belakangnya.

Amat Mude sangat takjub ketika memandang kecantikan Putri Niwer Gading.

Setelah mengingat perkataan gadis cantik tadi sebelum memanjat pohon, maka tanpa pikir panjang Amat Mude segera mengajak sang Putri pulang ke rumah untuk menikah.

Beberapa waktu kemudian, diselenggarakanlah pesta perkawinan di rumah Amat Mude.

Acara ini dirayakan dengan sangat meriah dan dihadiri oleh banyak orang.

Kemudian setelah selesai pesta pernikahan, bersama sang istri tercinta dan ibunya,

Amat Mude pun pergi menyerahkan buah kelapa gading yang diperolehnya kepada Pakciknya.

Ini berarti Amat Mude sudah selamat dari ancaman hukuman mati. Melihat keteguha, kesabaran, dan akhlak mulia Amat Mude,

tiba-tiba Raja Muda menjadi sadar akan kecurangan dan perbuatan jahatnya.

Hingga akhirnya Raja Muda sadar bahwa Amat Mude-lah yang berhak menduduki tahta kerajaan Negeri Alas.

Tidak lama kemudian, Raja Muda pun menyampaikan kepada seluruh rakyat dan menobatkan Amat Mude untuk menjadi Raja Negeri Alas.

Rakyat pun menyambut dengan sukacita.

Kerajaan pun berjalan normal seperti keinginan Almarhum Ayah Amat Mude yang arif dan bijaksana.