Festival “Puisi di Atas Gelombang” Gandeng Musisi Internasional, Indah Banget! Jumat, 7 November 2025 di Kabupaten Badung, Bali

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Rangkuman Berita Viral (3 Peristiwa)

Aspek Jurnalistik (5W+1H) Rincian Peristiwa 1: Festival “Puisi di Atas Gelombang” Rincian Peristiwa 2: Lokakarya Sastra Tri Lingga di Ubud Rincian Peristiwa 3: Penerbitan Buku Saku Puisi Bahasa Bali
What (Apa) Festival yang menampilkan pembacaan puisi, dipadukan dengan musik etnik dan jazz, diselenggarakan di pantai. Lokakarya intensif mengenai tiga pilar sastra Bali (Kawi, Jawa Kuno, dan Indonesia). Penerbitan buku saku berisi puisi-puisi modern dalam bahasa Bali.
Who (Siapa) Komunitas Sastra Semesta Bali dan musisi tamu dari Eropa. Cok Sawitri (Penulis Bali) dan akademisi Universitas Udayana. Komunitas Anak Muda Bahasa Bali (KMBD).
Where (Di Mana) Pantai Melasti, Badung, Bali. Puri Agung Ubud. Didistribusikan ke sekolah-sekolah di Denpasar dan Gianyar.
When (Kapan) Berlangsung hari ini, Jumat, 7 November 2025 (Senja hingga malam). Lokakarya dibuka hari ini, Jumat, 7 November 2025. Mulai didistribusikan hari ini, Jumat, 7 November 2025.
Why (Mengapa) Menggabungkan pariwisata dan budaya dengan sastra, menciptakan citra baru Bali sebagai pusat seni. Memperdalam pemahaman penulis muda tentang akar bahasa dan sastra Bali. Memperkenalkan kembali dan mempopulerkan bahasa ibu (Bahasa Bali) kepada generasi muda.
How (Bagaimana) Pembacaan puisi dilakukan saat matahari terbenam, diikuti improvisasi musik yang viral di media sosial. Peserta Lokakarya wajib menulis puisi dalam tiga bahasa tersebut. Buku saku dirancang dengan desain minimalis dan bahasa yang mudah dipahami anak sekolah.
SEO Keywords Puisi di Atas Gelombang Bali, Festival Sastra Badung, Lokakarya Sastra Ubud, Puisi Bahasa Bali Modern, Sastra Bali Terkini.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra

  1. Sinergi Pariwisata dan Seni: Menciptakan pengalaman sastra yang unik (puisi di pantai) yang dapat menarik wisatawan domestik maupun internasional, mempromosikan Bali sebagai pusat seni multidimensi.
  2. Pelestarian Bahasa Ibu: Menghidupkan kembali minat menulis dan membaca sastra dalam Bahasa Bali, sekaligus menanamkan kesadaran tentang warisan linguistik Tri Lingga.
  3. Kolaborasi Seni Lintas Batas: Mengintegrasikan puisi dengan elemen seni lain (musik, visual) untuk memperluas audiens sastra.

Karya Sastra yang Ditampilkan

  • Genre: Puisi Liris Kontemporer.
  • Karya Pilihan: Puisi “Ombak dan Aksara” (Karya Penyair Lokal).
  • Kutipan Puisi:

    Di batas Melasti, aksara tak hanya ditulis, ia dihempaskan.

    Kita adalah air dan kata, berjarak namun tak terpisah.

    Laut tak pernah diam, seperti janji yang tak sempat kau tepati.

    Indah dan pahit, seperti kopi Bali dan senja yang berlalu.

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.