Sastra dalam Berita
Makassar, Sulawesi Selatan, hari ini diramaikan oleh “Battle Syair Jalanan Kontemporer”. Kegiatan yang awalnya hanya pertunjukan kecil di sudut kota, menjadi viral setelah video battle antara dua penyair muda Bugis-Makassar diunggah ke berbagai kanal. Mereka beradu syair yang kritis dan puitis tentang isu sosial perkotaan, menggunakan bahasa yang energik dan gaya rap tradisional.
| Kategori | Detail (5W+1H) |
| What (Apa) | Kompetisi improvisasi Battle Syair Jalanan Kontemporer dengan irama cepat dan tema kritik sosial. |
| When (Kapan) | Sore hingga malam ini, 17 November 2025. |
| Where (Di Mana) | Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. |
| Who (Siapa) | Komunitas Sastra Pesisir dan seniman hip hop lokal. |
| Why (Mengapa) | Memberikan saluran ekspresi artistik yang kritis dan bebas bagi penyair muda, sekaligus menghidupkan kembali tradisi Passure (berbalas syair) Makassar. |
| How (Bagaimana) | Dua penyair berhadapan, berbalas syair spontan tanpa teks, diiringi irama gendang tradisional dan disaksikan ratusan penonton yang menyemangati. |
Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra:
Tujuan utamanya adalah menciptakan ruang performance art sastra yang spontan dan otentik. Manfaatnya adalah mengintegrasikan tradisi syair ke dalam budaya populer dan menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi alat yang kuat untuk menyuarakan realitas sosial dan politik perkotaan secara lugas.
Karya Sastra yang Ditampilkan:
Kutipan syair kontemporer dari pemenang battle (fiktif):
Ombak Losari memecah karang, suara kota.
Gedung-gedung menjulang, tapi jiwa terasa hampa.
Kami bersyair bukan untuk dipuji, tapi bercerita,
Tentang janji-janji yang hanyut, bersama air Sungai Jeneberang.
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

