Diskusi Sastra Lintas Genre “Mitos Kota Makassar”, Asyiknya! 21 November 2025 di Makassar, Sulawesi Selatan

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Apa: Diskusi sastra lintas genre bertajuk “Mitos Kota Makassar dalam Novel, Puisi, dan Film Pendek,” yang membahas representasi sejarah dan legenda lokal dalam karya kontemporer.

Siapa: Komunitas Penulis Sastra Celebes (KPSC) dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas).

Kapan: Hari ini, 21 November 2025, sore hari.

Di Mana: Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan.

Mengapa: Kegiatan ini bertujuan untuk mengupas tuntas bagaimana sastra dan seni modern di Sulawesi Selatan masih terikat kuat dengan sejarah, seperti mitos I La Galigo dan legenda Benteng Fort Rotterdam.

Bagaimana: Salah satu panelis membacakan kutipan novel yang baru diterbitkan, yang menggambarkan kota Makassar sebagai “Kota Seribu Pelabuhan”, yang langsung viral dan memicu perdebatan sastra di media sosial tentang identitas kota.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra

  1. Tujuan: Mendorong penulis muda Sulawesi untuk menggali kekayaan sejarah dan mitologi lokal sebagai bahan baku utama karya sastra modern.

  2. Manfaat:

    • Memperkuat identitas sastra Makassar sebagai sastra yang kaya akan narasi sejarah dan maritim.

    • Menciptakan ekosistem kritik sastra yang hidup dan konstruktif.

Karya Sastra yang Ditampilkan

Judul Kutipan Prosa: Senja di Pesisir Paotere

Kami mewarisi laut, bukan tanah. Leluhur kami berlayar dengan aksara I La Galigo sebagai peta, bukan kompas dari Eropa. Makassar ini bukan kota, ia adalah kapal yang berlabuh selamanya. Setiap ombak di Paotere membawa janji dan rahasia; janji pelaut yang tak pernah kembali, dan rahasia benteng yang terlalu bisu untuk diceritakan. Di sini, sejarah adalah prosa yang mengalirkan darah, bukan sekadar bab dalam buku pelajaran.

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.