Sastra dalam Berita
MAKASSAR, SULAWESI SELATAN – Epik sastra terpanjang di dunia, I La Galigo, diangkat kembali dalam sebuah pertunjukan kolosal yang memukau. Kegiatan “Pentas Tari & Epik Lautan: Kisah Pelaut Bugis-Makassar” menjadi viral karena skala pertunjukan dan keindahan narasi budaya yang dibawakan.
Rangkuman 3 Peristiwa Sastra Viral (5W+1H)
Kegiatan sastra yang diadakan hari ini, Jumat, 28 November 2025, sukses menarik perhatian publik dan menjadi viral dengan tiga highlight utama:
| Aspek Jurnalistik | Detail Kegiatan Viral |
| What (Apa) | Kolaborasi Tari Kontemporer dan Pembacaan Fragmen I La Galigo: Penampilan menggabungkan seni gerak, musik live, dan narasi lisan dari epik kuno. |
| Who (Siapa) | Sanggar Seni Bugis dan Komunitas Sejarawan Makassar: Melibatkan ratusan penari dan musisi lokal. |
| Where (Di Mana) | Pantai Losari, Makassar: Lokasi outdoor ini dipilih untuk memperkuat nuansa maritim dan pelayaran sesuai kisah I La Galigo. |
| When (Kapan) | Jumat Senja, 28 November 2025: Waktu matahari terbenam memberikan efek visual dan dramatis yang magis. |
| Why (Mengapa) | Mengangkat Epik I La Galigo sebagai Identitas Global: Tujuannya untuk memperkenalkan epik tersebut kepada dunia sekaligus menegaskan identitas Sulawesi sebagai bangsa pelaut. |
| How (Bagaimana) | Masif dan Kolosal: Pertunjukan ini melibatkan kostum tradisional dan properti kapal, disiarkan oleh stasiun TV regional. |
| Peristiwa Viral Tambahan (2) | Seminar Sastra tentang Posisi Perempuan dalam Naskah I La Galigo dan Pameran Naskah Kuno dan Aksara Lontara. |
Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra
Tujuan utama dari kegiatan Sastra viral ini adalah melestarikan dan merevitalisasi epik I La Galigo yang merupakan mahakarya sastra dunia, serta meningkatkan kebanggaan masyarakat Bugis-Makassar terhadap warisan budayanya. Manfaatnya adalah meningkatkan daya tarik pariwisata budaya di Sulawesi Selatan.
Karya Sastra yang Ditampilkan
Kutipan Epik I La Galigo (Fragmen):
“Kisah Tumbuhnya Manusia”
Bumi yang mula-mula kosong, sunyi,
Diturunkanlah Putera di Boting Langi,
Dengan perahu yang terbuat dari emas,
Mengarungi tujuh lautan, mencari tanah.
Mencari Sawerigading, mencari We Tenriabeng.
Karena tanpa cerita, kita hanyalah debu ombak.
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

