Syair Pela Gandong: Harmoni Maluku dalam Kata, Mempesona! Jumat, 28 November 2025 di Ambon, Maluku

Diposting pada

Sastra dalam Berita

AMBON, MALUKUSastra kembali menjadi perekat persatuan di Maluku. Kegiatan “Syair Pela Gandong: Harmoni Maluku dalam Kata” menjadi viral karena pesannya yang kuat mengenai persatuan dan toleransi, diangkat melalui syair dan lagu daerah.

Rangkuman 3 Peristiwa Sastra Viral (5W+1H)

Kegiatan sastra yang diadakan hari ini, Jumat, 28 November 2025, sukses menarik perhatian publik dan menjadi viral dengan tiga highlight utama:

Aspek Jurnalistik Detail Kegiatan Viral
What (Apa) Pembacaan Syair Pela Gandong Kolaboratif: Perwakilan komunitas dari Muslim dan Kristen Maluku bersama-sama membacakan syair persatuan (Pela Gandong).
Who (Siapa) Komunitas Sastra Ambon, Tokoh Adat, dan Musisi Lokal: Melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk menunjukkan keragaman yang bersatu.
Where (Di Mana) Lapangan Merdeka Ambon: Lokasi pusat kota yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi persatuan Maluku.
When (Kapan) Jumat Siang, 28 November 2025: Dilakukan setelah ibadah Jumat, untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Why (Mengapa) Memperkuat Nilai Pela Gandong dan Toleransi: Tujuannya adalah menggunakan sastra untuk merawat kembali perjanjian damai dan persaudaraan antardesa.
How (Bagaimana) Diiringi Musik Totobuang dan Tifa: Pembacaan syair dikemas dengan iringan alat musik tradisional yang dinamis dan otentik.
Peristiwa Viral Tambahan (2) Peluncuran Kumpulan Cerpen Anak Papua Bertema Lingkungan dan Diskusi Sastra dengan Tema “Laut Sebagai Ibu Peradaban Maluku”.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra

Tujuan utama dari kegiatan Sastra viral ini adalah memanfaatkan kekuatan syair dan lagu tradisional untuk menyebarkan pesan perdamaian dan toleransi di Maluku dan Papua.

Manfaatnya adalah memperkokoh ikatan sosial (Pela Gandong) dan meningkatkan kesadaran literasi di wilayah Timur Indonesia.

Karya Sastra yang Ditampilkan

Kutipan dari Syair Pela Gandong:

“Satu Tungku Tiga Batu”

Di Ambon Parai, di pulau-pulau jauh,

Ale dan Beta adalah satu darah.

Rumah Sio Lima atapnya sama,

Walau jalan ke Masjid dan Gereja berbeda.

Pela Gandong, janji nenek moyang,

Laut boleh berombak, hati harus lapang.

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.