📜 Pementasan Drama Kontemporer Bertema Revolusi Teknologi, Mempesona! Rabu, 10 Desember 2025 di Yogyakarta, DI Yogyakarta

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Yogyakarta, DI Yogyakarta β€” Pementasan drama kontemporer berjudul “Aksara yang Hilang” menjadi perbincangan hangat di media sosial hari ini, terutama di kalangan akademisi dan pegiat seni Jawa. Drama ini mengeksplorasi konflik modernisasi dan pelestarian budaya melalui narasi yang kuat.

Rangkuman Berita Viral (5W+1H)

  • What (Apa): Tiga berita viral terkait adalah: (1) Pementasan perdana drama “Aksara yang Hilang” di Gedung Societet. (2) Pembukaan pameran puisi visual yang menggunakan Aksara Jawa kuno sebagai elemen utama. (3) Workshop penulisan puisi modern berbasis Geguritan (puisi tradisional Jawa).

  • When (Kapan): Acara puncaknya berupa pementasan teater yang berlangsung malam ini, Rabu, 10 Desember 2025.

  • Where (Di Mana): Kegiatan utama terpusat di kawasan seni Yogyakarta, DI Yogyakarta, khususnya di sekitar kampus-kampus dan pusat budaya.

  • Why (Mengapa): Drama ini bertujuan mengkritisi kecepatan laju teknologi yang mengancam sastra dan aksara lokal, khususnya Aksara Jawa, sebagai fondasi identitas.

  • Who (Siapa): Acara ini diorganisir oleh Teater Sastra Gadjah Mada dengan dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan setempat.

  • How (Bagaimana): Pementasan ini menggunakan teknik multimedia canggih, memadukan seni peran tradisional Jawa dengan visual projection mapping yang menampilkan karakter Aksara Jawa.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan

  1. Tujuan: Merevitalisasi Aksara Jawa dan sastra tradisional dalam konteks modern agar tetap relevan dan dipahami oleh generasi muda.

  2. Manfaat: Menumbuhkan apresiasi terhadap seni pertunjukan dan linguistik lokal, serta membuka ruang dialog kritis tentang masa depan budaya di tengah disrupsi teknologi.

Karya Sastra yang Ditampilkan

Kutipan Dialog Dramatik: “Aksara yang Hilang”

Tokoh SANDI: Kita mencari makna di layar yang biru, Padahal semua jawabannya ada di bilah bambu. Kau bilang kau modern? Kau bilang kau maju? Kau hanya mengikuti algoritma, Sedangkan aku, aku masih membaca bunyi dari Hanacaraka.

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.