Sastra dalam Berita
Ambon hari ini menjadi saksi “Opera Sastra: Laut Abadi dan Perdamaian”, sebuah pertunjukan teater puisi kolosal yang melibatkan ratusan seniman Maluku dan Papua.
Tiga hal yang membuatnya viral: pertama, penggunaan panggung terapung di Teluk Ambon; kedua, kolaborasi dengan Komunitas Seni Papua yang membawakan tarian perang yang dialihfungsikan menjadi tarian perdamaian; dan ketiga, tema utama adalah rekonsiliasi dan pelestarian alam laut Maluku.
-
What (Apa): Pertunjukan Teater Puisi Kolosal bertema Perdamaian dan Laut.
-
Who (Siapa): Sanggar Teater Pesisir Ambon dan Komunitas Seni Biak Papua.
-
When (Kapan): Rabu, 3 Desember 2025 (Senja Hari).
-
Where (Di Mana): Panggung Terapung di Teluk Ambon, Maluku.
-
Why (Mengapa): Untuk menyampaikan pesan damai dan kebhinekaan melalui ekspresi seni sastra, sekaligus menyuarakan isu kerusakan terumbu karang.
-
How (Bagaimana): Pertunjukan besar dengan tata cahaya epik, melibatkan paduan suara daerah dan pembacaan puisi yang diiringi instrumen tradisional seperti tifa dan totobuang.
Tujuan dan Manfaat Kegiatan
Tujuan utama adalah mempromosikan Maluku dan Papua sebagai pusat budaya perdamaian dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu lingkungan maritim.
Manfaatnya adalah mendorong kolaborasi budaya antar wilayah timur Indonesia, menarik perhatian wisatawan budaya, dan merevitalisasi sastra lisan (lagu-lagu daerah) menjadi bentuk teater modern.
Karya Sastra yang Ditampilkan
Kutipan dari Puisi Kolosal yang dibacakan bersama:
Judul: Elegi di Bawah Karang Patah
Ombak Ambon membelah kata-kata lama, Luka di darat, terobati di laut. Papua menari, Maluku bernyanyi, bukan untuk perang, Tapi untuk karang yang memanggil kita pulang. Sebab damai adalah terumbu karang yang tumbuh abadi.
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

