Sastra dalam Berita
UBUD, BALI – Keindahan alam Bali berpadu dengan ketenangan sastra dalam kegiatan “Puisi Pagi di Sawah Terasering: Mantra Kehidupan”. Kegiatan ini viral karena menawarkan pengalaman meditasi sastra yang langka, dengan latar belakang sawah Subak yang telah diakui UNESCO.
Rangkuman 3 Peristiwa Sastra Viral (5W+1H)
Kegiatan sastra yang diadakan hari ini, Jumat, 28 November 2025, sukses menarik perhatian publik dan menjadi viral dengan tiga highlight utama:
| Aspek Jurnalistik | Detail Kegiatan Viral |
| What (Apa) | Pembacaan Puisi dan Mantra Bali Modern: Para penyair membacakan karya-karya yang terinspirasi dari filosofi Tri Hita Karana dan sistem Subak. |
| Who (Siapa) | Penyair Muda Bali dan Seniman Lintas Disiplin: Kegiatan ini melibatkan praktisi yoga dan mindfulness untuk memperkuat unsur meditasi. |
| Where (Di Mana) | Terasering Sawah Tegalalang, Ubud: Lokasi ikonis yang merepresentasikan hubungan harmonis antara manusia dan alam Bali. |
| When (Kapan) | Jumat Pagi, 28 November 2025: Dilakukan saat matahari terbit untuk menangkap cahaya dan energi pagi yang maksimal. |
| Why (Mengapa) | Menghargai Tradisi Subak dan Pelestarian Budaya: Tujuannya adalah mempromosikan pariwisata berkelanjutan berbasis budaya dan ekologi sawah. |
| How (Bagaimana) | Kolaborasi dengan Petani Lokal: Para penyair dan petani berdialog sebelum pertunjukan, menghasilkan karya yang otentik. Visual pertunjukan yang damai menjadi viral. |
| Peristiwa Viral Tambahan (2) | Peluncuran Buku Saku Puisi Eko-Sastra (Ecopoetry) dan Pertunjukan Tari Kontemporer Bali di Galeri Sastra Terbuka. |
Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra
Tujuan utama dari kegiatan Sastra viral ini adalah menghubungkan kembali sastra dengan akar spiritual dan ekologis Bali, serta mendukung pelestarian sistem irigasi Subak.
Manfaatnya adalah menarik perhatian wisatawan asing dan domestik pada sisi sastra Bali, dan menguatkan identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi.
Karya Sastra yang Ditampilkan
Salah satu kutipan puisi yang dibacakan:
“Air, Darah Bumi”
Aliran air di subak bukan sekadar air,
Itu darah Dewi Sri yang mengalir,
Dari gunung ke petak sawah, dari hati ke padi.
Kami tanam, kami petik, dalam mantra yang sama:
Taksu ada dalam setiap bulirnya.
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

