Menyambut Hidup – Puisi Karya Sutan Takdir Alisjahbana

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra yang Bermutu Tinggi

Sastra Angkatan Pujangga Baru, bentuk: Puisi

Karya: Sutan Takdir Alisjahbana

Ini adalah salah satu puisi yang diciptakan dengan rangkaian makna indah oleh STA, tentang keyakinan masa depan dan keagungan Tuhan, kata mengalir pasti dengan pola yang terencana apik

Dari buku: Tebaran Mega

Waktu penulisan: 29 Mei 1935

Ya Allah, ya Rabbani, dalam kebesaranMu Engkau hadiahkan aku hidup ini dengan kegirangan dan keindahannya

Sedunia lebar selam besar Engkau sediakan bagiku dalam limpahan kasihMu: bintang berkelip cahaya di langit malam, kembang mengorak kuncup di padang sinar, unggas bernyanyi di dahan berbuai

Bolehkan aku menampik sekalian rahmat dan nikmatMu yang Engkau curahkan dalam kebesaran dan kemurahanMu itu?

Aku akan hidup

Mengoraklah kelopak menyambut sinar selama hari masih siang

Selama siang beta akan bermain di taman seperti tiadakan malam dan apabila malam tiba beta akan menyerahkan muka di pangkuan Bunda

Catatan Malam – Puisi Karya Wiji Thukul

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra yang Menakjubkan, Mengharukan, dan Tulus

Sastra angkatan reformasi, bentuk: puisi

Karya: Widji Thukul

Ini adalah salah satu puisi karya Widji Thukul tentang kisah asmara sejati yang tulus, bukan hanya cinta sesaat, tapi sampai ke pernikahan

Dari buku: Aku Ingin Jadi Peluru

Waktu penulisan: 23 Februari 1988

anjing nyalak
lampuku padam
aku nelentang
sendirian

kepala di bantal
pikiran menerawang
membayang pernikahan
(pacarku buruh harganya tak lebih dua ratus rupiah per jam)

kukibaskan pikiran tadi dalam gelap makin pekat
aku ini penyair miskin
tapi kekasihku cinta
cinta menuntun kami ke masa depan

Berdiri Aku – Puisi Karya Amir Hamzah

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra Lama

Sastra Pujangga Baru, bentuk: Puisi

Karya: Amir Hamzah

Ini adalah salah satu dari sekian banyak puisi Amir Hamzah yang selalu indah dan kata-kata yang penuh makna

Dari buku: Buah Rindu

Waktu Penulisan:

Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datar ubur terkembang

Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas

Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak

Dalam rupa maha sempurna
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju

Depan Sekretariat Negara – Puisi Karya Taufiq Ismail

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra yang Berjiwa Revolusi

Sastra angkatan 1966, bentuk: puisi

Karya: Taufiq Ismail

Ini adalah salah satu puisi perjuangan demi cinta tanah air dan bangsa

Dari buku: Tirani dan Benteng

Waktu penulisan: tahun 1966

Setelah korban diusung
Tergesa-gesa
Ke luar jalanan

Kami semua menyanyi
‘Gugur Bunga’
Perlahan-lahan

Perajurit ini
Membuka baretnya
Airmata tak tertahan

Di puncak Gayatri
Menunduklah bendera
Di belakangnya segumpal awan

Apa yang Berharga dari Puisiku – Puisi Karya Wiji Thukul

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra yang Menakjubkan, Mengharukan, dan Tulus

Sastra angkatan reformasi, bentuk: puisi

Karya: Widji Thukul

Ini adalah puisi yang lugas, sederhana, dan jujur. Ditulis oleh Wiji Thukul, sebagai usaha yang masih dia lakukan melalui rangkaian kata-kata puisi,

ketika usaha dalam kehidupan sudah sangat susah, dan harus memenuhi kebutuhan di tengah ekonomi yang semakin berat bagi kaum lemah

Dari buku: Aku Ingin Jadi Peluru

Waktu penulisan: 6 Maret 1986

apa yang berharga dari puisiku
kalau adikku tak berangkat sekolah
karena belum membayar SPP

apa yang berharga dari puisiku
kalau becak bapakku tiba-tiba rusak

jika nasi harus dibeli dengan uang
jika kami harus makan
dan jika yang dimakan tidak ada?

apa yang berharga dari puisiku
kalau bapak bertengkar dengan ibu
ibu menyalahkan bapak

padahal becak-becak terdesak oleh bis kota
kalau bis kota lebih murah siapa yang salah?

apa yang berharga dari puisiku
kalau ibu dijiret utang
kalau tetangga dijiret utang?

apa yang berharga dari puisiku
kalau kami terdesak mendirikan rumah
di tanah-tanah pinggir selokan

sementara harga tanah semakin mahal
kami tak mampu membeli
salah siapa kalau kami tak mampu beli tanah?

apa yang berharga dari puisiku
kalau orang sakit mati di rumah
karena rumah sakit yang mahal

apa yang berharga dari puisiku
kalau yang kutulis makan waktu berbulan-bulan
apa yang bisa kuberikan dalam kemiskinan yang menjiret kami?

apa yang telah kuberikan
kalau penonton baca puisi memberi keplokan
apa yang telah kuberikan
apa yang telah kuberikan?