Festival Puisi dan Fotografi Angkat Tema Luka dan Harapan di Pasca-Bencana, Keren! Kamis, 30 Oktober 2025 di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Apa yang Terjadi: Dalam upaya pemulihan psikososial pasca-bencana, Komunitas Sastra NTB menggelar festival gabungan antara puisi dan fotografi yang secara khusus mengangkat tema ketabahan, luka, dan harapan di wilayah Nusa Tenggara.

5W + 1H Rincian Jurnalistik
What (Apa) Festival Luka dan Harapan: Pameran Fotografi dan Malam Pembacaan Puisi Pasca-Bencana.
Who (Siapa) Komunitas Sastra Tali Kota (nama fiktif), fotografer profesional, penyintas bencana, dan Pemerintah Daerah NTB.
When (Kapan) Kamis, 30 Oktober 2025 (Malam Puncak).
Where (Di mana) Taman Budaya NTB, Kota Mataram.
Why (Mengapa) Menjadikan sastra dan seni visual sebagai media penyembuhan (terapi) dan refleksi atas pengalaman kolektif masyarakat Nusa Tenggara yang sering dilanda bencana alam.
How (Bagaimana) Foto-foto human interest dipamerkan, dan penyair membacakan puisi yang terinspirasi dari setiap foto yang menceritakan ketabahan penyintas.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra

Tujuan:

  1. Pemulihan Psikososial: Menggunakan kekuatan naratif puisi untuk membantu penyintas bencana memproses emosi dan membangun harapan kembali.
  2. Mendokumentasikan Solidaritas: Mencatat secara artistik upaya solidaritas dan ketabahan masyarakat lokal dalam menghadapi cobaan.

Manfaat:

  • Terapi Seni: Sastra menjadi alat efektif dalam pemulihan psikologis komunitas yang terdampak.
  • Kolaborasi Multidisiplin: Mengintegrasikan sastra dan fotografi, menciptakan pengalaman artistik yang lebih kuat.
  • Dukungan Komunitas: Menggalang dana atau dukungan melalui penjualan karya seni yang ditampilkan.

Karya Sastra yang Ditampilkan

Puisi-puisi yang dibacakan kental dengan tema reruntuhan, kebangkitan, dan janji matahari.

“Puisi di Reruntuhan Batu”

(Puisi Pemenang Lomba)

Kata-kata ini adalah sisa-sisa tembok yang runtuh, Kami menulisnya dengan debu dan air mata panas. Lombok, yang patah tidak berarti mati. Harapan itu bukan lagi janji, tapi sebuah keberanian. Ia terbit dari Mataram, sehabis gempa yang panjang.

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.