Sastra dalam Berita
Denpasar, Bali, menyajikan perpaduan unik antara seni visual dan sastra.
| Unsur | Penjelasan (SEO Fokus) |
| Apa (What) | “Puisi Pelinggih”, yaitu pembacaan puisi ritual yang diintegrasikan dengan Seni Instalasi kontemporer dari sampah daur ulang. |
| Di Mana (Where) | Salah satu kompleks Pura terbuka di wilayah Denpasar Timur. |
| Kapan (When) | Hari Minggu, 23 November 2025. |
| Siapa (Who) | Penyair-penyair muda yang fokus pada Sastra Bali Kontemporer dengan tema Tri Hita Karana. |
| Mengapa (Why) Viral | Menghadirkan kontras antara instalasi modern dari sampah daur ulang dengan lirik puisi yang sarat makna keagamaan dan lingkungan. |
| Bagaimana (How) Viral | Foto instalasi dan pembacaan yang diambil oleh fotografer ternama Bali menjadi trending topic di Instagram, mengangkat isu lingkungan dan Budaya Pura melalui sastra. |
Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra
Tujuan kegiatan ini adalah menjembatani nilai-nilai filosofis Bali kuno (Tri Hita Karana) dengan isu-isu kontemporer, seperti krisis lingkungan. Manfaatnya, memberikan dimensi baru pada seni instalasi dengan narasi Puisi Kontemporer, serta meningkatkan kesadaran masyarakat lokal terhadap pelestarian Budaya Pura dan lingkungan.
Karya Sastra yang Ditampilkan
Karya yang dibacakan adalah sajak kontemporer yang mengambil inspirasi dari filosofi Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan—hubungan dengan Tuhan, alam, dan sesama):
Sajak Tri Hita Karana (Ekstrak)
Pelinggih sunyi tak butuh kurban darah,
Ia butuh tangan yang membersihkan sungai.
Instalasi sampah ini adalah doa kita,
Bukan pada Bhatara, tapi pada diri sendiri,
Agar Manusa (manusia) kembali mengenal Palemahan (lingkungan).
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

