Sastra dalam Berita
KUTAI KARTANEGARA, Kalimantan Timur – Menjelang perpindahan ibukota, kegiatan sastra di Kalimantan Timur semakin hidup. Festival Puisi Alam ‘Hutan yang Bicara’ menjadi sorotan utama, menarik perhatian aktivis lingkungan dan seniman dari seluruh Borneo.
| Aspek Jurnalistik | Detail |
| What (Apa) | Festival Sastra dan Puisi bertema Lingkungan/Alam Kalimantan. |
| Who (Siapa) | Komunitas Literasi Sungai Mahakam, didukung seniman Dayak dan pegiat konservasi. |
| When (Kapan) | Kamis, 11 Desember 2025 (Sesi puncak malam hari). |
| Where (Di Mana) | Tepi Sungai Mahakam, dekat Jembatan Kutai Kartanegara. |
| Why (Mengapa Viral) | Festival ini viral karena dilakukan di lokasi unik (tepi sungai) dan menjadi platform bagi puisi-puisi yang secara tajam mengkritik deforestasi dan isu lingkungan, sangat relevan dengan isu IKN. |
| How (Bagaimana) | Mengadakan sesi “baca puisi di atas perahu,” diikuti dengan workshop penulisan puisi lingkungan yang menarik liputan media lokal dan nasional. |
Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra
Tujuan utama kegiatan ini adalah menyalurkan kritik dan kepedulian lingkungan melalui medium sastra, serta mempromosikan kearifan lokal Dayak dalam menjaga hutan dan sungai. Manfaatnya, festival ini menciptakan ruang dialog terbuka antara seniman dan pembuat kebijakan, sekaligus mendorong lahirnya sastra hijau (ecoliterature) di Kalimantan.
Karya Sastra yang Ditampilkan (Puisi)
Judul Puisi: Mahakam, Kau Tak Sebiru Dulu
Karya: (Anonim, Terinspirasi dari Festival)
Dulu, Mahakam adalah garis takdir yang bening.
Kini, ia keruh, membawa seribu bangkai kayu.
Setiap tetes air matamu adalah air mata hutan,
yang dipotong tanpa pamit, tanpa ucapan duka.
Ketika Ibu Kota bergerak,
Akankah Hutan yang Bicara ini didengar?
Atau hanya menjadi monolog sunyi,
di antara gergaji dan janji yang terukir di atas kertas basah.
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

