️ Pameran Sastra Lintas Rupa Aksara Lontar Mempesona! 11 November 2025 di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Rangkuman Peristiwa (3 Berita Utama)

  1. Kolaborasi Seni Rupa dan Sastra: Pameran ini menjadi viral karena menggabungkan instalasi seni rupa modern dengan replika naskah kuno Aksara Lontar yang berisi puisi dan babad sejarah Nusa Tenggara.
  2. Isu Mitigasi Bencana: Pameran menampilkan karya-karya sastra (puisi dan prosa) yang membahas isu kekeringan, gempa, dan adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim di NTT.
  3. Edukasi Aksara Kuno: Acara ini berhasil menarik minat anak muda untuk belajar membaca Aksara Lontar, yang selama ini dianggap hanya milik kaum tua atau akademisi.

5W+1H (Analisis Jurnalistik)

Elemen Keterangan
What (Apa) Pameran seni rupa yang mengangkat Aksara Lontar dan naskah kuno Nusa Tenggara.
Who (Siapa) Seniman visual, penulis, dan pemerhati sejarah lokal dari NTT.
When (Kapan) Sepanjang hari, 11 November 2025.
Where (Di mana) Museum Budaya NTT, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Why (Mengapa) Melestarikan Aksara Lontar dan menggunakan sastra sebagai media edukasi mitigasi bencana.
How (Bagaimana) Menampilkan instalasi multimedia dan virtual reality yang memungkinkan pengunjung “masuk” ke dalam cerita di naskah Lontar.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra

  • Tujuan: Melestarikan Aksara Lontar sebagai warisan kognitif bangsa dan mendorong sastrawan untuk mengambil tema-tema ekologis dan kebencanaan.
  • Manfaat:
    • Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap naskah kuno dan sejarah lokal.
    • Menyediakan materi literasi yang relevan dengan kondisi geografis dan lingkungan NTT (kekeringan, mitigasi bencana).
    • Menciptakan dialog antara seniman visual dan sastrawan untuk karya interdisipliner.

Karya Sastra yang Ditampilkan (Kutipan Puisi: Aksara Lontar)

Aksara Lontar (Seruan Tanah Kering)

Tujuh musim kemarau di sini adalah cerita, yang terukir bukan di batu, tapi di kulit yang retak. Lontar ini adalah ingatan, mencatat semua hujan yang jatuh, dan janji yang tak sempat ditunaikan.

Jangan hanya lihat sabana yang diam, lihatlah sumur-sumur yang diam-diam berdoa. Aksara ini berseru: Belajarlah dari angin, sebelum tanah ini benar-benar menjadi debu.

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.