Peluncuran Antologi Puisi Climate Change, Indah Banget! Minggu, 9 November 2025 di Kota Padang, Sumatera Barat

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Kegiatan sastra yang menarik perhatian hari ini adalah peluncuran dan pembacaan antologi puisi bertema perubahan iklim (climate change) yang diselenggarakan secara hybrid.

  • Apa (What): Peluncuran antologi puisi berjudul Rimba yang Berbisik dan pembacaan puisinya oleh 50 penyair lintas generasi.
  • Kapan (When): Minggu, 9 November 2025, pukul 15.00 WIB.
  • Di Mana (Where): Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat di Kota Padang.
  • Siapa (Who): Penyair lokal Sumbar, mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya, dan aktivis lingkungan. Acara ini disiarkan langsung melalui media sosial, menarik perhatian ribuan penonton digital.
  • Mengapa (Why): Untuk menyuarakan isu lingkungan global dan dampaknya terhadap ekosistem lokal, seperti hutan dan pesisir, melalui medium sastra yang menyentuh (powerful SEO: sastra peduli iklim, antologi perubahan iklim).
  • Bagaimana (How): Acara utama berupa pembacaan puisi yang diiringi musik tradisional dan visual mapping bertema alam, dilanjutkan dengan diskusi santai mengenai peran sastra dalam aktivisme lingkungan.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra

Tujuan utama kegiatan ini adalah mendokumentasikan dan menyebarluaskan kesadaran kritis terhadap krisis iklim melalui karya seni, sekaligus mempertemukan penyair dengan aktivis. Manfaat yang didapat adalah:

  1. Meningkatkan literasi lingkungan di kalangan generasi muda melalui pendekatan artistik.
  2. Mempromosikan kekuatan puisi sebagai alat advokasi sosial dan lingkungan.
  3. Memperkuat jejaring sastrawan, akademisi, dan praktisi lingkungan di Pulau Sumatera.

Karya Sastra yang Ditampilkan

Karya Sastra: Puisi (Antologi)

Judul Puisi Paling Disorot Penggalan (Simulasi)
“Elegi Sungai Batanghari” Air bukan lagi nyanyian riang, ia cermin wajah muram. Keruh dan berat, membawa duka lumpur dari akar yang tercerabut. Dimana janji hujan, jika yang datang hanya tangis hampa?

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.