Sastra dalam Berita
Analisis Jurnalistik (5W+1H)
Apa (What): Bengkel Pantun dan Kurikulum Sastra Pendidikan. Mengajarkan pantun empat kerat ala Melayu dan Bugis-Makassar kepada guru-guru sekolah dasar.
Kapan (When): Diselenggarakan pada 18 November 2025.
Di mana (Where): Benteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan.
Siapa (Who): Dipimpin oleh Guru Besar Sastra Unhas dan melibatkan ratusan pendidik.
Mengapa (Why): Merevitalisasi pantun sebagai fondasi sastra lisan dan mengintegrasikannya ke dalam kurikulum pendidikan formal.
Bagaimana (How): Meluncurkan Syllabus sastra lokal untuk SD dan SMP, serta Lomba Pantun Spontan bertema kearifan lokal Bugis-Makassar.
Tujuan dan Manfaat Kegiatan
-
Tujuan: Memastikan warisan sastra lisan, terutama pantun, diajarkan secara efektif dan menyenangkan di sekolah.
-
Manfaat: Memperkuat karakter siswa melalui nilai-nilai dalam pantun dan menyediakan materi ajar yang relevan dengan budaya lokal.
Karya Sastra yang Ditampilkan
Pantun Nasihat: Petuah Bugis (Karya: Kolektif Guru)
Pergi ke pasar membeli nisan, Jaga langkah janganlah liar. Ilmu yang dicari, dengarlah pesan, Harus dibagi, janganlah kikir.
Padi di sawah menguning sudah, Hendak dipetik anak petani. Hormatilah guru dengan berfaedah, Agar ilmu meresap di hati.
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

