Sastra dalam Berita
Kegiatan “Sajak Urban Lintas Budaya di Pantai Losari” di Makassar menarik perhatian karena menghadirkan puisi dalam tiga bahasa daerah sekaligus (Bugis, Makassar, Mandar) di ruang publik.
-
Kegiatan & Alasan Viral (Apa & Mengapa):
-
(Apa) Pergelaran sastra yang menampilkan puisi multi-bahasa dengan tema modernitas, identitas, dan homecoming.
-
(Mengapa) Viralitasnya terletak pada upaya “Menawan” untuk mendamaikan identitas suku yang beragam di Makassar melalui bahasa puisi.
-
(SEO Keywords: Sastra Bugis modern, Sajak Losari viral, Literasi lintas budaya, Puisi Makassar)
-
-
Waktu & Lokasi (Kapan & Di Mana):
-
(Kapan) Acara berlangsung saat senja, 20 November 2025, memanfaatkan keindahan matahari terbenam Losari.
-
(Di Mana) Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
-
(Bagaimana) Pembacaan disajikan bergantian dalam bahasa Indonesia, Bugis, dan Makassar, diikuti dengan terjemahan visual di layar besar, menjangkau audiens luas.
-
-
Partisipan & Topik (Siapa & Apa yang Dibahas):
-
(Siapa) Menampilkan penyair dan budayawan dari etnis Bugis, Makassar, dan Mandar.
-
(Apa yang Dibahas) Isu tentang migrasi, tradisi Passompe (pelaut), dan tantangan menjadi pemuda urban di tengah kuatnya adat.
-
(Fakta) Kegiatan ini dipuji sebagai model efektif integrasi Sastra Daerah dan Sastra Indonesia.
-
Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra
Tujuan utama adalah memfasilitasi dialog dan pemahaman antarsuku di Makassar melalui medium sastra, serta mempromosikan bahasa daerah sebagai bahasa penulisan kreatif.
Manfaatnya mencakup:
-
Memberikan ruang bagi sastrawan daerah untuk berkarya dalam bahasa ibu mereka.
-
Memperkuat identitas Makassar sebagai kota maritim dan multikultural.
-
Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kekayaan bahasa-bahasa di Sulawesi Selatan.
Karya Sastra yang Ditampilkan
Kutipan puisi yang menjadi highlight, dibacakan dalam bahasa Makassar:
“Kukelong ri labuang mamiri, Ri Losari, jappo’ ku ero’ lariu’. Baji’na nikana, Makassar tallanga na toalia.” (Aku berlayar dari pelabuhan angin, Di Losari, hatiku ingin berlabuh. Sungguh benar kata orang, Makassar itu lebih baik tenggelam daripada mundur.)
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

