Diskusi Novel Sejarah Sulawesi Selatan, Keren ! Rabu, 3 Desember 2025 di Makassar, Sulawesi Selatan

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Sebuah diskusi bedah buku novel sejarah terbaru, “Bumi Karaeng yang Berbisik”, menjadi viral di Makassar karena membahas isu sensitif tentang perjuangan lokal melawan kolonialisme yang jarang diangkat.

Tiga poin yang menarik perhatian publik dan media: pertama, kehadiran sejarawan lokal terkemuka yang menguji akurasi fakta dalam novel; kedua, antusiasme mahasiswa sejarah dan sastra yang memadati acara hingga melebihi kapasitas ruangan; dan ketiga, novel ini berhasil memadukan bahasa Bugis-Makassar ke dalam narasi modern.

  • What (Apa): Diskusi dan Bedah Novel Sejarah “Bumi Karaeng yang Berbisik”.

  • Who (Siapa): Penulis Novel Dr. Muhammad Ishak dan para Sejarawan Universitas Hasanuddin.

  • When (Kapan): Rabu, 3 Desember 2025 (Sore Hari).

  • Where (Di Mana): Aula Rektorat Lama Universitas Hasanuddin (UNHAS), Makassar, Sulawesi Selatan.

  • Why (Mengapa): Untuk menumbuhkan kesadaran sejarah dan apresiasi terhadap sastra lokal yang berakar kuat pada identitas Sulawesi Selatan.

  • How (Bagaimana): Acara full-day yang melibatkan panelis dari berbagai disiplin ilmu (sejarah, sastra, antropologi) dan disiarkan secara live di kanal YouTube kampus.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan

Tujuan utama adalah memperkuat narasi sejarah lokal melalui media fiksi yang menarik.

Manfaatnya adalah mendorong riset sastra berbasis sejarah, meningkatkan minat baca buku-buku sejarah dan sastra di kalangan mahasiswa, dan menciptakan diskusi publik yang sehat tentang identitas dan masa lalu.

Karya Sastra yang Ditampilkan

Kutipan dari novel “Bumi Karaeng yang Berbisik” (bab pembuka):

Angin laut Makassar tidak pernah berbohong. Ia membawa kabar kemenangan, juga kabar pengkhianatan. Di bawah benteng yang menjulang, Karaeng berbisik pada anaknya, “Buku-buku ini, nak, jauh lebih tajam dari badik yang kau hunuskan. Tulis, dan jangan pernah biarkan kita dilupakan.”

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.