Sastra dalam Berita
Analisis Jurnalistik (5W+1H)
Apa (What): Diskusi Sastra Lisan dan Penyelamatan Lingkungan Kapuas. Menghubungkan cerita rakyat Dayak dan Melayu dengan isu deforestasi dan perubahan iklim.
Kapan (When): Berlangsung sepanjang hari pada 18 November 2025.
Di mana (Where): Museum Negeri Pontianak, Kalimantan Barat.
Siapa (Who): Menghadirkan budayawan Dayak, peneliti Antropologi, dan pegiat lingkungan.
Mengapa (Why): Mendokumentasikan dan mempromosikan Sastra Lisan (seperti Madihin) sebagai alat untuk advokasi lingkungan.
Bagaimana (How): Menganalisis peran mantra dalam menjaga hutan adat dan meluncurkan kurikulum sastra berbasis kearifan lokal.
Tujuan dan Manfaat Kegiatan
-
Tujuan: Menggunakan narasi sastra sebagai instrumen edukasi dan advokasi untuk konservasi alam Kapuas.
-
Manfaat: Meningkatkan kesadaran publik tentang isu lingkungan melalui bahasa budaya, serta memperkuat pengakuan terhadap kearifan lokal.
Karya Sastra yang Ditampilkan
Sajak Lisan: Lagu Sungai Tak Jemu (Dikutip dari Sastra Lisan Pesisir Kapuas
Sungai ini, urat nadi peradaban, Bukan tempat sampah, bukan pembuangan. Dengarlah pesan, dari Sang Hutan Raksasa, Jika air keruh, ia akan marah. Sebab hidup kita terikat pada akar, Hutan adalah ibu, sungai adalah darah. Jaga, Rawat, Cintai, sebelum air mata menjadi air pasang.
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

