Pembacaan Puisi Tri Hita Karana, Indah Banget ! Rabu, 3 Desember 2025 di Denpasar, Bali

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Sebuah acara pembacaan puisi yang bertajuk “Puisi di Pura: Harmoni Bali Dwipa” menjadi viral karena keindahan dan kesakralannya. Acara ini diselenggarakan di halaman Pura Agung Jagatnatha.

Tiga poin penting yang menjadi sorotan: pertama, pembacaan puisi dilakukan oleh tokoh-tokoh adat dan budayawan senior Bali; kedua, penggunaan tata panggung minimalis yang fokus pada elemen alam (api, air, dan tanah); dan ketiga, karya-karya yang dibacakan seluruhnya bertema Tri Hita Karana (hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan).

  • What (Apa): Malam Pembacaan Puisi Bertema Tri Hita Karana (Harmoni Kehidupan).

  • Who (Siapa): Komunitas Sastra Awan Bali, Budayawan Prof. Dr. I Wayan Suta, dan Seniman lokal.

  • When (Kapan): Rabu, 3 Desember 2025 (Purnama sasih Kalima).

  • Where (Di Mana): Halaman Pura Agung Jagatnatha, Denpasar, Bali.

  • Why (Mengapa): Untuk menyuarakan pesan konservasi budaya dan lingkungan melalui medium sastra, serta merespons isu modernisasi yang mengancam kearifan lokal.

  • How (Bagaimana): Dilakukan dengan format ritualistik, diiringi musik Rindik dan Gong Kebyar, menciptakan suasana yang khidmat dan mempesona.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan

Tujuan utama adalah menjaga nilai filosofis Tri Hita Karana agar tetap relevan dalam kehidupan modern masyarakat Bali.

Manfaatnya meliputi promosi pariwisata berbasis budaya otentik, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan Bali, serta mendokumentasikan karya-karya sastra yang mengangkat tema spiritual dan adat.

Karya Sastra yang Ditampilkan

Salah satu puisi yang dibacakan, ditulis dalam Dwibahasa (Indonesia dan Bali).

Judul: Puja untuk Bhatara Alam

Niskala menyentuh kita di sini, Saat sawah basah dan laut memberi ikan. Jangan nodai bhuana agung ini, Duwe, Sebab di setiap akar pohon, bersemayam Doa Leluhur. Raga menyatu, Alam tersenyum, Bhatara merestui. (Bali: Rahayu, Rahayu, Rahayu)

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.