Pentas Adaptasi Serat Centhini Kontemporer, Mempesona ! Rabu, 3 Desember 2025 di Yogyakarta, DIY

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Pentas teater musikal “Jejak Sastra: Centhini Masa Kini” di Yogyakarta hari ini sukses memukau penonton dan menjadi berita viral berkat interpretasi ulang naskah klasik Serat Centhini yang sangat segar.

Tiga sorotan utama adalah: pertama, penggunaan teknologi video mapping 3D untuk menggambarkan perjalanan Sastra Jendra Hayuningrat; kedua, kehadiran seniman senior Jawa yang berkolaborasi dengan musisi indie Jogja; dan ketiga, isu-isu kontemporer seperti kesetaraan gender dan ekologi disisipkan dalam narasi epik tersebut.

  • What (Apa): Pementasan Teater Adaptasi Serat Centhini Kontemporer.

  • Who (Siapa): Sanggar Teater Budaya Nusantara dan Sutradara ternama Aris Murti.

  • When (Kapan): Rabu, 3 Desember 2025 (Malam Hari).

  • Where (Di Mana): Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY), DIY.

  • Why (Mengapa): Untuk menjaga relevansi dan memperkenalkan kekayaan sastra Jawa klasik kepada generasi muda milenial.

  • How (Bagaimana): Menggunakan format teater musikal yang megah, didukung scoring gamelan modern dan visual futuristik, serta memadukan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan

Tujuan utama adalah melestarikan naskah-naskah klasik Nusantara dengan cara yang inovatif dan mudah diterima.

Manfaat yang dihasilkan adalah meningkatkan apresiasi terhadap budaya Jawa, membuka peluang baru bagi kolaborasi lintas disiplin seni (sastra, tari, musik, teknologi), serta memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat inkubasi seni dan sastra.

Karya Sastra yang Ditampilkan

Pementasan ini mengangkat dialog utama dari Pupuh Pucung yang dimodifikasi.

Dialog Utama (Dikutip dari Naskah Adaptasi):

Suluk: Dunia ini bagai buku yang terpisah-pisah, Centhini. Aku melangkah, kau mencatat. Di setiap labuhan, ada pelajaran. Bukan hanya tentang hasrat dan puji-pujian, tapi tentang bagaimana Sebuah jiwa bisa menemukan rumah, meskipun di tengah gempuran zaman. Carilah dirimu, sebagaimana Sang Wiratmoko mencari ilmu sejati.

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.