Sastra dalam Berita
Apa: Pementasan epos kontemporer berjudul “Jejak Naga di Selat Lombok,” yang menggabungkan elemen tari tradisi Bali dan Lombok dengan dialog sastra modern.
Siapa: Sanggar Seni Gema Samudra (dari Lombok) berkolaborasi dengan Komunitas Seni Wija Aksara (dari Denpasar).
Kapan: Hari ini, 21 November 2025, malam puncak pementasan.
Di Mana: Gedung Teater Taman Budaya Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Mengapa: Kegiatan ini dilakukan untuk merayakan keunikan budaya dan sejarah maritim yang menghubungkan Bali, Lombok, dan Flores, disajikan dalam bentuk drama sastra yang monumental.
Bagaimana: Pementasan menggunakan bahasa Indonesia, Sasak, dan Bali, dengan skrip tebal yang viral karena kutipan-kutipan filosofisnya. Momen krusial adalah adegan pertarungan naga (sebagai simbol konflik) yang diakhiri dengan tarian perdamaian.
Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra
-
Tujuan: Mengangkat nilai-nilai kearifan lokal (Tri Hita Karana di Bali dan persaudaraan Bedadung di NTB) melalui medium sastra dramatik.
-
Manfaat:
-
Memperkuat persatuan budaya antar pulau di Nusa Tenggara dan Bali.
-
Menciptakan karya sastra pementasan yang layak diekspor dan menarik wisatawan budaya.
-
Karya Sastra yang Ditampilkan
Judul Kutipan Drama: Dialog Senja di Pelabuhan Lembar
TOKOH RAHARJA (Bali): Ombak bukan pemisah, Adinda. Ombak adalah bahasa. Ia bicara tentang jarak yang harus kita tempuh. Puisiku, terukir di kayu jukung yang menyeberanginya.
TOKOH LALU (Lombok): Jika laut adalah kata, maka daratan adalah maknanya. Tanpa batu karang, tanpa Gunung Rinjani yang diam, puisi itu hampa. Kita adalah naga, yang jejaknya menyatukan dua pulau dalam satu cermin air.
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

