Simposium Internasional Sastra Lingkungan “Hutan Kata”, Indah Banget! 21 November 2025 di Pontianak, Kalimantan Barat

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Apa: Simposium Internasional Sastra Lingkungan berjudul “Hutan Kata: Merawat Bumi dalam Sajak dan Prosa,” yang menampilkan diskusi, pembacaan puisi, dan pameran manuskrip bertema lingkungan.

Siapa: Forum Sastrawan Hijau Kalimantan, bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kapan: Hari ini, 21 November 2025, sesi keynote speech dan peluncuran manifesto.

Di Mana: Auditorium Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat.

Mengapa: Kegiatan ini diadakan sebagai respons sastrawan terhadap isu deforestasi dan perubahan iklim yang krusial di Kalimantan, menggunakan sastra sebagai alat advokasi.

Bagaimana: Simposium menjadi viral karena adanya “Manifesto Sastra Hijau Kalimantan” yang dibacakan serentak. Manifesto ini menuntut peran lebih besar sastra dalam kebijakan lingkungan dan mendapatkan dukungan dari tokoh publik secara daring.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra

  1. Tujuan: Mengadvokasi perlindungan lingkungan dan budaya Dayak melalui tulisan, serta mendorong sastrawan menjadi agen perubahan iklim.

  2. Manfaat:

    • Menarik perhatian dunia internasional terhadap sastra lingkungan di Indonesia.

    • Meningkatkan literasi ekologi di kalangan masyarakat.

Karya Sastra yang Ditampilkan

Judul Puisi: Di Mana Sungai Kapuas Bercerita

Di sini, hati kami terbuat dari gambut yang basah. Napas kami adalah kabut yang perlahan punah. Sungai Kapuas tak lagi berbisik, ia meraung, Karena cerita hulu telah berganti, menjadi raungan.

Sastra ini bukan hiasan, ia adalah parang yang terasah. Untuk membelah kebisuan, yang merusak hutan kami. Tanamlah sajak, rawatlah prosa, Sebelum Kalimantan tinggal nama, tanpa rimba.

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.