Sastra dalam Berita
Perhelatan sastra di Medan hari ini berhasil menarik perhatian publik nasional setelah Komunitas Pena Emas Sumatera Utara meluncurkan Antologi Puisi Digital bertajuk “Aksara di Ujung Senja Deli”. Peluncuran ini menjadi viral karena dilakukan secara hibrida: live streaming dari salah satu kafe legendaris di Medan sekaligus meluncurkan e-book yang bisa diakses gratis dalam 24 jam.
Tiga berita utama yang mendominasi adalah: pertama, tren baru sastra digital yang direspons positif oleh generasi muda; kedua, penampilan kolaboratif musik etnik Batak dengan deklamasi puisi; dan ketiga, partisipasi 50 penyair lokal dan diaspora Sumatera.
-
What (Apa): Peluncuran Antologi Puisi Digital “Aksara di Ujung Senja Deli”.
-
Who (Siapa): Komunitas Pena Emas Sumatera Utara dan 50 penyair lokal.
-
When (Kapan): Rabu, 3 Desember 2025 (Pukul 19.00 WIB).
-
Where (Di Mana): Kafe Literary Corner, Medan, Sumatera Utara.
-
Why (Mengapa): Untuk menjembatani sastra tradisional dan digital, serta mempromosikan kearifan lokal Sumatera Utara kepada pembaca global.
-
How (Bagaimana): Menggabungkan acara fisik (pembacaan dan diskusi) dengan distribusi e-book secara free access untuk memicu viralitas.
Tujuan dan Manfaat Kegiatan
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mendorong literasi digital di kalangan pegiat sastra serta memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan pembaca puisi.
Manfaat yang diperoleh adalah revitalisasi komunitas sastra di Sumatera Utara, terciptanya wadah baru bagi penulis muda untuk menerbitkan karya tanpa kendala biaya cetak, dan memperkuat citra Medan sebagai kota yang ramah terhadap inovasi budaya.
Karya Sastra yang Ditampilkan
Salah satu puisi yang paling banyak dibagikan adalah karya penyair muda, Sinta Br. Tarigan, yang menggambarkan suasana Kota Medan.
Judul: Bait di Ujung Senja Deli
Ribuan aksara terbang dari Tjong A Fie Mansion, Mendarat pelan di aroma kari yang pekat. Deli membentang, bukan lagi kebun tembakau, Tuan, Tapi sungai digital yang mengalirkan kata dan rindu. Kita menulis di layar, membaca di layar, Namun senja yang jatuh di Merdeka Walk tetap sama.
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

