Pentas Sastra Sufi dan Zapin, Asyiknya! Selasa, 28 Oktober 2025 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan

Diposting pada

Sastra dalam Berita

Aspek Penjelasan Jurnalistik
WHAT (Apa) Pentas Sastra Sufi dan Zapin Kontemporer: Hikayat di Tanah Daeng.
WHO (Siapa) Digagas oleh Lembaga Kajian Sastra Islam (LKSI) dan ulama sastrawan lokal.
WHERE (Di mana) Fort Rotterdam, Kota Makassar, lokasi bersejarah yang dramatis.
WHEN (Kapan) Selasa, 28 Oktober 2025, malam hari.
WHY (Mengapa) Merayakan khazanah sastra Islam di Sulawesi, dan revitalisasi seni Zapin dan musik gambus.
HOW (Bagaimana) Menggabungkan pembacaan puisi sufi berbahasa Makassar dengan tarian Zapin, menciptakan nuansa teatrikal yang kental.

Analisis Peristiwa & Berita Utama

Analisis Viralitas: Pementasan sastra spiritual di setting bersejarah (Fort Rotterdam) adalah daya tarik utama. Penggunaan Bahasa Makassar dan keterlibatan tokoh agama memberikan nilai otentik dan edukatif.

Peristiwa/Berita Kata Kunci SEO Terkuat
Pentas Zapin dan Puisi Sufi di Benteng Rotterdam Viral Sastra Sufi Makassar, Pentas Zapin Kontemporer, Fort Rotterdam Sastra.
Puisi Berbahasa Makassar Disertai Musik Gambus Modern Puisi Bahasa Makassar, Sastra Islam Sulawesi, Sastrawan Ulama Viral.
Diskusi Mengangkat Sastra dan Sejarah Sureq Galigo Hikayat Tanah Daeng, Sureq Galigo Sastra, Sastra Sejarah Makassar.

Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra

  1. Aksentuasi Kearifan Lokal: Menghubungkan tradisi sastra Islam Sulawesi (Sureq Galigo) dengan ekspresi kontemporer.
  2. Media Dakwah Kultural: Menggunakan keindahan kata dan seni pertunjukan untuk menyampaikan pesan spiritual.
  3. Revitalisasi Seni: Memperkenalkan kembali tarian Zapin dan musik gambus dalam kemasan yang segar.

Karya Sastra yang Ditampilkan

Judul: Cahaya yang Menari dalam Zapin

(Kutipan Sastra Pilihan dalam Bahasa Makassar dan Terjemahan)

Tallasa’ku erang ri lino, (Hidupku di dunia ini)

Baji’na sanging pappaseng, (Hanya pesan yang baik)

Zapin erang ri battala, (Zapin yang bergerak perlahan)

Ri Butta Daeng, rima’na takkaeng. (Di Tanah Daeng, rimanya tak pernah usai.)

Cahaya sufi yang menembus benteng tua,

Makassar, kau adalah kitab suci yang terus kami baca.

Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.