Sastra dalam Berita
MAKASSAR, Sulawesi Selatan – Sastra kontemporer di Sulawesi hari ini mencapai puncaknya melalui acara Malam Pembacaan Sastra Kontemporer ‘Angin Timur dari Makassar’. Acara ini menggabungkan pembacaan puisi, esai, dan monolog yang berani mengangkat isu-isu sosial dan politik terkini.
| Aspek Jurnalistik | Detail |
| What (Apa) | Malam Pembacaan Sastra Kontemporer (Puisi, Monolog, Esai). |
| Who (Siapa) | Kolektif Sastra Pelabuhan, menampilkan penyair dan esais dari Makassar dan Palu. |
| When (Kapan) | Kamis, 11 Desember 2025, malam. |
| Where (Di Mana) | Kafe Literasi Tepi Pantai Losari, Makassar. |
| Why (Mengapa Viral) | Viral karena mengangkat tema-tema yang sangat kritis dan berani (misalnya, isu agraria dan korupsi lokal), menarik perhatian aktivis dan intelektual muda. |
| How (Bagaimana) | Acara diselenggarakan dengan konsep spoken word poetry yang interaktif dan energik, ditayangkan live dan mendapat reaksi tinggi di media sosial. |
Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra
Tujuan utama kegiatan ini adalah menciptakan ruang aman bagi ekspresi sastra yang kritis dan mendorong fungsi sastra sebagai penggerak perubahan sosial di Sulawesi. Manfaatnya, acara ini menegaskan peran Makassar sebagai pusat intelektual dan seni di Timur Indonesia, dan memperkenalkan wajah baru sastra Sulawesi yang tidak hanya fokus pada tradisi, tetapi juga isu kekinian.
Karya Sastra yang Ditampilkan (Puisi Kontemporer)
Judul Puisi: Losari Bukan Cuma Senja
Karya: (Anonim, Terinspirasi dari Pembacaan)
Senja di Losari, katanya, adalah klise.
Tapi hari ini, ia adalah pisau.
Menusuk ke jantung kota yang berdarah beton,
dan lupa cara menyebut nama nenek moyangnya: Daeng.
Angin Timur membawa bau tambang dan janji hampa.
Kami berteriak dengan monolog,
Sebab kata-kata di koran sudah dibeli,
dan puisi, kini satu-satunya kebenaran yang tersisa.
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

