Sastra dalam Berita
MATARAM, Nusa Tenggara Barat – Aktivitas sastra hari ini di Nusa Tenggara menunjukkan semangat persatuan di tengah tantangan alam.
Rangkuman Jurnalistik (5W+1H & SEO Kuat)
-
Apa (What): Festival Baca Puisi Lintas Etnis yang menyajikan karya-karya dari suku Sasak, Bima, dan Sumbawa, mengangkat tema ‘Bertahan di Tanah Kering’.
-
Kapan (When): Minggu, 30 November 2025, menjadi puncak event literasi tahunan Festival Sastra NTB.
-
Di mana (Where): Taman Budaya Mataram, mempromosikan Puisi Lintas Etnis dan Sastra Sasak.
-
Bagaimana (How): Tiga penyair muda dari masing-masing etnis membacakan puisi dalam bahasa daerah mereka, diikuti sesi penerjemahan dan diskusi tentang perjuangan Literasi Daerah Kering.
-
Siapa (Who): Penyair, budayawan, dan komunitas sastra dari Lombok hingga Sumbawa.
-
Mengapa (Why): Kolaborasi unik yang menyatukan dialek Sasak, Bima, dan Sumbawa dalam satu panggung dinilai sebagai manifestasi indah dari keragaman budaya NTB.
Tujuan dan Manfaat Kegiatan Sastra
Karya Sastra yang Ditampilkan (Puisi dalam Dialek Sasak)
Puisi yang dibacakan (menggunakan dialek Sasak dan terjemahan Sastra Indonesia):
Lombokku, balé beleqku. Dendengku tetep lekat, pade daun. Meskipun hujan hanya janji langit yang tertunda. Aiq tetep ngalir, walau tebilin. Kami di sini, di tanah kering yang bersabar. (Lombokku, rumah besarku. Semangatku tetap melekat, seperti daun. Air tetap mengalir, meski hanya sedikit.)
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

