Sinopsis Novel Dian yang Tak Kunjung Padam – Sutan Takdir Alisjahbana

Sastra angkatan Pujangga Baru

Karya: Sutan Takdir Alisjahbana

Ringkasan umum:

Sepasang kekasih yang saling mencintai, akhirnya terpisahkan karena status sosial.

Cinta mereka abadi walaupun tubuh dimiliki oleh orang lain, tapi jiwa dan ruh mereka hanya dipersembahkan untuk sang kekasih.

Cinta mereka selalu menyala, dan tak kunjung padam. Jiwa dan ruh mereka menyatu selamanya

Pada suatu pagi di sebuah sungai, Yasin sedang duduk di perahunya untuk menjual barang yang berasal dari ladangnya.

Yasin adalah seorang pemuda miskin dan ayahnya sudah meninggal.

Tiba-tiba dia melihat seorang perempuan yang hendak turun mandi ke tepian sungai.

Perempuan itu adalah seorang anak bangsawan Palembang, dia bernama Molek.

Pertemuan pertama ini membuat hati Yasin berdebar, demikian juga yang dirasakan oleh Molek.

Sejak saat itu Molek teringat kegagahan Yasin, dan secara tidak sadar sudah mulai suka berdandan.

Yasin pun mulai merasa gelisah, dan selalu terbayang wajah Molek yang cantik.

Pada suatu hari Yasin dan ibunya diundang ke pesta pernikahan kerabatnya.

Selama berada di pesta itu, Yasin selalu memikirkan Molek

Pulang dari pesta perkawinan, Yasin memberanikan diri mohon ijin pada ibunya untuk menemui Molek.

Lalu Yasin menulis surat cinta dan menyelipkan surat tersebut di tempat pemandian Molek.

Molek terkejut ketika mendapatkan surat dari Yasin. Tapi dari wajahnya terpancar rona kebahagiaan.

Lalu dia dengan kesungguhan hati membalas surat tersebut, dan menerima cinta Yasin

Tapi mereka sadar, mengingat status sosial yang sangat berbeda, Yasin dan Molek tidak bisa menolak kenyataan tersebut.

Oleh sebab itu, Selama bertahun-tahun sepasang sejoli itu hanya berkasih mesra lewat surat-surat yang diselipkan di tepian tempat Molek mandi.

Hingga suatu hari Yasin bertekad untuk menghubah hubungan cinta yang selama dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Dia hendak melamar Molek secara terang-terangan.

Kemudian pemuda itu memberitahukan niatnya kepada ibunya dan seluruh kerabatnya.

Keluarga Yasin pun berembuk dan dengan segala kesederhanaannya, mereka melamar Molek.

Tapi sayang, maksud kedatangan mereka ditolak oleh keluarga Molek. Orang tua Molek yang bernama Raden Makhmud adalah seorang bangsawan dan mempunyai harta yang banyak.

Sementara Yasin  berasal dari keluarga dusun yang miskin. Keluarga Molek, baik itu Raden Mahmud dan ibu Molek bahkan menghina dan menyindir keluarga Yasin sehingga rombongan itu pulang dengan membawa segudang rasa malu dan kesal.

Tak lama kemudian keluarga Molek didatangi oleh Sayid yaitu seorang saudagar tua keturunan Arab yang kaya raya.

Lelaki tua itu bermaksud untuk melamar Molek. Orangtua Molek yang materialistis itu langsung memutuskan untuk menerima lamaran Sayid.

Sekalipun Molek menolak lamaran itu, perkawinan antara keduanya pun tetap berlangsung.

Kehidupan perkawinan mereka tidak membawa kebahagiaan bagi Molek karena ia tidak mencintai Sayid.

Molek juga tahu kalau tujuan Sayid menikahinya karena harta ayahnya saja. Selain itu, perlakuan Sayid terhadapnya pun sangat kasar.

Itulah sebabnya ia selalu menceritakan kegalauan, kesedihan, dan kerinduannya terhadap Yasin melalui surat-suratnya.

Ketika mengetahui pujaan hatinya hidup menderita dan juga karena kerinduannya yang semakin mendalam terhadap kekasihnya itu,

Yasin mencoba menemui Molek di Palembang dengan menyamar sebagai seorang pedagang nanas.

Walau akhirnya Molek bertemu jua dengan Yasin, namun ternyata ada sesuatu yang susah dipahami oleh Yasin dalam kata-kata yang disampaikan oleh Molek.

Bagi Molek, cintanya hanya untuk Yasin, namun karena tubuhnya telah ternoda oleh manusia lain,

maka dia memutuskan untuk menyelamatkan Ruhnya yang mencintai Yasin dunia akhirat, seperti yang dituliskannya pada setiap penghujung suratnya kepada Yasin.

“satu kita di dunia, satu kita di akhirat, kita sebenarnya satu selama-lamanya!”
 
Wassalam adindamu,
Molek

Pada akhir pertemuan tersebut, Molek kembali mengatakan bahwa hanya tubuhnya yang bisa dimiliki oleh suaminya, tapi jiwa dan ruh Molek adalah untuk Yasin semata.

Tidak lama setelah pertemuan yang mengharukan antara sepasang kekasih yang saling mencintai itu, akhirnya Molek sakit-sakitan karena sudah lama menderita bersama suaminya yang sekarang, ditambah lagi luka hati yang tak kunjung berhenti karena selalu merindukan kekasihnya Yasin.

Karena penderitaan bersama suaminya yang sekarang dan kerinduan yang mendalam pada Yasin, juga karena setelah sekian waktu sakit-sakitan, akhirnya Molek pun wafat.

Hati Yasin menjadi sangat terpukul. Sebagai penghormatan pada almarhumah kekasihnya, Yasin bekerja keras banting tulang.

Setiap hari dia mengunjungi pusara Molek. Yasin selalu berdoa untuk arwah Molek dan selalu berkirim salam   kepada kekasih abadinya itu.

Pada akhirnya Yasin memilih hidup menyepi di lereng gunung Semenung dan ia pun meninggal di gunung itu, karena derita panjang tidak bisa bersatu dengan Molek kekasihnya.

Dua ruh kekasih yang saling mencintai akhirnya meninggalkan dunia fana ini. Menuju alam yang kekal dan abadi.

Sinopsis Cerpen Styling Foam (serial Lupus) – Hilman Hariwijaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Ada yang berubah pada diri Lupus selama 4 hari ini. Adiknya Lulu sampai menceritakan perubahan Lupus tersebut kepada ibunya.

Perubahan yang terlihat adalah Lupus sering ngaca selama berjam-jam dan sering pulang senyum sendiri.

Pagi ini Lupus juga bertindak beda, subuh-subuh dia sudah bangun, biasanya bangun telat,  selalu terburu-buru mandi dan berpakaian seadanya untuk mengejar waktu agar tidak terlambat sekolah,

Dari bangun tadi Lupus sibuk memilih baju, dan menyetrikanya. Biasanya, boroboro disetrika, baju dari jemuran langsung main samber aja.

Lupus biasanya mandi sekali sehari, kini jadi tiga kali sehari sehabis makan. Di samping itu dia sekarang rajin sikat gigi, dan juga sering ngilik-ngilik kuping.

Perubahan yang ada pada Lupus membuat Ibu dan Lulu jadi menduga-duga, mungkin Lupus lagi jatuh cinta, demikian ujar Lulu pada Ibunya.

Lupus juga jadi rajin membersihkan muka pake face tonic. Yang jadi korban adalah Lulu.

Alat-alat pembersihnya jadi hampir semuanya pindah ke kamar Lupus.

Yang paling mencolok, Lupus sekarang nyolong styling foam adiknya, untuk membentuk rambutnya yang gondrong.

Lupus bolak-balik memandangi poster Duran Duran untuk ngikutin gaya rambutnya.

Hampir satu jam dia berkutet di depan cermin. Setelah merasa pas, dia keluar kamar dan mulai berjalan hilir-mudik di depan Lulu yang lagi asyik makan.

Setengah jam setelah itu, dia kembali Mengatur-atur rambutnya. Dengan membasahi sedikit pada bagian pinggir, biar memberi efek basah yang tahan lama.

Setelah selesai dia menemui ibunya yang asyik di dapur untuk minta doa restu. “Bu, saya pergi dulu.

…Mungkin sampai malam atau nginep, jadi nggak usah dicariin deh. Kan malam minggu …. “

Khusus untuk acara-acara bersejarah seperti malam minggu ini, Lupus memang mengistimewakannya dengan menumpang bis Patas, bukan bis biasa.

Alasannya, di samping lebih leluasa duduk, parfum dan rambutnya nggak berantakan berbaur oleh penumpang-penumpang lain.

Sementara bis Patas-nya masih melesat menembus udara malam yang kian dingin. Di luar memang berhembus angin kencang.

Lupus sempat memaki-maki ketika dia membuka jendela, dan diserang oleh angin yang mengacak-acak rambutnya.

Di luar turun hujan. Ketika bis itu melewati pasar Blok M, Lupus cemas total. Semua penumpang pada turun, kecuali Lupus.

Dan biasanya kondektur suka seenaknya menurunkan penumpang kalau tinggal sendirian.

Lupus sibuk komatkamit di pojokan. Baca mantera biar ngusir pikiran jahat sang kondektur.

Tapi, benar juga. Begitu lewat Blok A, kondektur itu mulai menghampiri Lupus dan mengatakan bisnya mau pulang, dan Lupus disuruh pindah ke bis yang ada di belakang.

Dengan dongkol yang meluap-luap dia melompat turun. Tapi, ya, Tuhan, di daerah situ sama sekali tak ada tempat berteduh.

Mana hujan masih deras. Walhasil, dengan keadaan basah kuyup, dia berlarian menelusuri malam.

Sampai menemukan pemberhentian bis. Dan ketika sebuah metro melintas, Lupus melompat ke dalamnya.

Kini keadaannya tidak lebih dari tikus yang baru kejebur got. Basah kuyup. Rambutnya yang tadinya keren, kini mlepek.

Sekarang Lupus dilanda dilema. Tetap datang atau balik ke rumah. Kalau balik ke rumah.

Tak bisa dibayangkan, betapa terpingkalpingkalnya Lulu melihat rambut Lupus yang kini benar-benar basah, bukan hanya efek basahnya saja.

Ah, itu tidak boleh terjadi. Lagi pula sudah kepalang tanggung, rumah Poppi sudah beberapa kilometer lagi.

Sesampainya di Cilandak, hujan masih turun. Lupus cuma berjalan lemas ke tempat pemberhentian bis, dan menyandar lemas pada tiang penyangga.

Kedinginan sekujur tubuh. Bibirnya pun mulai membiru. Setengah mati menahan air matanya yang hendak berbaur bersama air hujan, karena kesal.

Tidak, saya harus pulang! Harga diri saya bakalan jatuh di pasaran! batinnya.

Lalu Lupus melangkah pergi, ketika matanya tertumbuk pada seorang gadis yang
berpayung beberapa langkah dari situ. Lupus mencoba menghampiri.

“Poppi?” tanyanya ragu. Gadis itu terkejut dan menoleh. “Lagi ngapain, Pop?”

“Ya, Tuhan, Lupus. Kok basah kuyup begini?

Dan bibir kamu itu… birunya! Aduh, kamu kehujanan. ya?” berondong Poppi sambil mengguncang-guncangkan bahu Lupus.

“Ayo ke rumah. Saya udah cemas banget, lho. Saya pikir kamu nggak bakalan datang, hujan-hujan begini …. “ sahutnya lagi sambil menarik tangan Lupus.

“Tapi saya malu, Pop. Basah kuyup begini …. ”

“Kenapa malu? Saya malah bangga, karena kamu bela-belain dateng meski hujan deras, itu kan tandanya kamu bertanggung jawab.

Selalu menepati janji. Saya suka orang yang menghargai janji …. “ sahut Poppi ceria.

“Ayolah, nanti kamu kedinginan. Di rumah akan saya suruh sediakan air hangat, dan baju buat ganti. Biar nggak masuk angin …. “

Lupus jadi terharu.

Sinopsis Novel Edensor – Andrea Hirata

Sastra angkatan 2000 – an

Karya: Andrea Hirata

Ringkasan umum:

Ini adalah kelanjutan dari Novel Sang Pemimpi.  Berkisah tentang perjalanan hidup Ikal dan Arai di Eropa dan Afrika.

Menyusuri  perbedaan budaya, petualangan, cinta, dan impian lama yang masih terpendam.

Seorang bayi terlahir dengan nama Aqil Barraq Badruddin. Dia adalah anak kelima dari orang tuanya.

Sebenarnya saat mengandung ibunya mengharapkan anak ke limanya ini seorang wanita, karena ke empat anak sebelumnya adalah laki-laki.

Walau menyandang nama indah yaitu Aqil Barraq Badruddin, tapi sayang ternyata Ikal menjelma menjadi seorang anak yang sangat nakal dan sering membuat keonaran.

Hal ini acapkali membuat warga kampung dan orangtuanya menjadi pusing.

Karena kenakalannya tersebut, Ikal sempat beberapa kali berganti nama, mulai dari Aqil, Wadudh dan Andrea.

Tapi dari kesemua nama itu tidak mempengaruhi kenakalan Ikal. Maka akhirnya orang tua Ikal memutuskan untuk menjadikan Arai sebagai anak angkat.

Lalu tiba-tiba Ikal berubah total dengan hadirnya seorang gadis yang bernama A Ling.

Semua orang merasa terkejut dengan perubahan pada diri Ikal. Dia bertingkah laku seperti orang yang sedang dimabuk asmara setelah bertemu A Ling.

Sekarang Ikal sudah menjadi anak yang baik. Dia jadi rajin beribadah. Sikapya menjadi santun dan berakhlak mulia.

Guru mengaji di Masjid yang bernama Taikong Hamin juga merasa heran atas perubahan diri Ikal.

Setelah itu Ikal dan Arai menjalani masa bersama di Belitung sampai tingkat SMA.

Lalu Ikal kuliah di Bandung dan Arai kuliah di Kalimantan. Setelah itu mereka bersama lagi setelah sama-sama ikut tes beasiswa ke Eropa.

Tanpa disangka, mereka berdua ternyata sama-sama mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk melanjutkan S2 di Universitas Sorbonne, Paris, Perancis.

Sebelum mereka berangkat, Arai berusaha menghubungi Zakiah Nurmala, wanita pujaannya untuk pamitan.

Tapi sayang, ternyata Zakiah seperti waktu SMA, tak membalas surat Arai. Di lain pihak, Ikal sangat mendambakan sosok A Ling yang sekarang tidak tahu dimana keberadaannya.

Mereka berdua diantar oleh Ayah dengan berat hati di Tanjong Pandan. Waktu Ikal dan Arai berpamitan ayah menyerahkan bungkusan dan bungkusan itu harus dibuka jika telah sampai disana.

Ayah Ikal sangat bangga kepada Ikal dan Arai, karena mereka mampu mencapai apa yang diimpikan selama ini.

Mereka lalu sampai di bandara Schippol dan dijemput oleh Famke Somers. Di Belanda saat itu sedang turun salju.

Dari Belanda Ikal dan Arai pergi menuju Brugge di Belgia dengan kereta. Famke menyuruh Ikal menemui Simon Van der Wall yaitu seorang pemilik kos.

Semua bangunan di Brugge dalam kondisi tertutup, tak seorang pun keluar rumah untuk mengantisipasi situasi suhu yang akan drop secara ekstrem pada malam nanti.

Tapi Ikal dan Arai malah berkeliaran di alam terbuka.

Mereka lalu menemukan bangku kosong dan duduk dibawah naungan kanopi. Hujan salju makin lebat.

Malam makin larut, pukul dua pagi Arai mengeluarkan termometer dan menunjukan minus sembilan derajat celcius.

Arai dan Ikal duduk berpelukan, lengket, mengerut, dan menggigil hebat.

Lalu Ikal merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, ia tak merasakan kepalanya, kemudian lehernya terasa tercekik.

Lalu darah keluar dari rongga hidungnya. Arai membuka syalnya dan melilitkan ke leher Ikal.

Lalu membuka koper dan mengeluarkan semua pakaian dan membalutkannya berlapis-lapis ditubuh Ikal.

Kemudian Arai menggendong Ikal menuju pohon-pohon Roman. Ikal ditidurkan di tanah, di bawah rimbunan dedaunan roman.

Ternyata Arai meniru cara tentara Rusia bertahan di musim salju. Lalu kesadaran Ikal pun sedikit demi sedikit berangsur pulih. Ikal menatap Arai dengan kagum.

Beberapa waktu kemudian Ikal dan Arai pun berangkat ke Paris Prancis. Arai berjalan di depan dan seketika berujar “subhanallah”.

Mereka terpana melihat Menara Eiffel, lalu menyentuhnya. Mereka masih seolah tak percaya bahwa sebuah mimpi telah menjadi kenyataan.

Selama berada di Paris, pernah Ikal dan arai iseng pergi ke toko musik, mereka merasa senang sekali karena diantara deretan CD musisi dunia tampak album Anggun C. Sasmi dengan lagu yang dibawakan dalam bahasa Prancis.

Anggun membuat mereka bangga menjadi orang Indonesia. Semua orang mengenal Anggun.

Ikal dan Arai pun mulai kuliah di Universitas Sorbone Paris. Ada banyak mahasiswa dari beragam bangsa di dalamnya,

ada mahasiswa dari Inggris, Amerika Serikat, Jerman, India, keturuna Tiong Hoa, Meksiko, Georgia, dan tuan rumah Prancis.

Tingkah laku mengagumkan ditunjukkan orang-orang tuan rumah Prancis yaitu Charlotte, Laborde, Jean Minot, dan Sebastian.

Juga ada juga orang-orang Tionghoa, Eugene Wong, Heidy Ling, Deborah Oh dan Hawking Kong.

Sisanya orang yang selalu terlambat, berantakan dan tergopoh-gopoh adalah The Pathetic Four mereka adalah MVRC Manoj, Pablo A. Gonzales, Ninochka Stronovsky dan Ikal. Mereka selalu terbirit-birit mengejar ketinggalan.

Selama berada di Prancis Ikal masih saja mencari A Ling, tetapi setiap tempat dan orang yang bernama A Ling selalu salah.

Berbagai cara Ikal lakukan untuk menemukan A Ling tetapi selalu gagal.

Ada sebuah kenangan dari A Ling untuk Ikal yaitu Novel Seandainya Mereka Bisa Bicara karya Herriot.

Pada novel tersebut A Ling menandai cerita tentang keindahan desa Edensor. Desa Khayalan itu seolah membuka jalan rahasia dalam kepala Ikal,

yaitu jalan menuju penaklukan-penaklukan terbesar dalam hidup Ikal, untuk menemukan A Ling, dan untuk menemukan diri Ikal sendiri.

Pada waktu musim liburan, Ikal dan Arai menyusun rencana untuk keliling Eropa.

Mereka punya ide pada teman-teman dari negara lain untuk membiayai keliling eropa dengan cara mengadakan pertunjukan jalanan atau mengamen.

Pada awalnya teman mereka yaitu Virginia Sue Townseed dari Amerika Serikat terkejut mendengar ide Ikal dan Arai.

Tapi akhirnya teman-teman mereka dari negara lain menyetujui ide Ikal dan Arai tadi.

Pablo Arian Gonzales dari Meksiko mencoba penampilannya memain-mainkan bola.

MVRC Manoj dari India tampil dengan busana yang membuat nafas tertahan. Gonzales dan MVRC Manoj memadukan sepakbola dan tarian.

Naomi Stansfield dari Inggris mendemokan kebolehannnya meniup trombon dengan teknik tinggi.

Sementara Townsend tak mau kalah melentingkan nada akordeonnya.

Kemudian mereka semua siap berangkat, diiringi lambaian selamat jalan dari semua sahabat.

Ada berbagai arah yang mereka tempuh. Townsend menuju arah ke Inggris.

Stansfield memulai perjalanan melalui Swiss. Ninochka menyusuri Prancis selatan menuju Italia. MVRC Manoj dan Gonzales ke Belgia.

Sementara Ikal dan Arai harus menemui Famke menuju ke Belanda.

Di Belanda mereka bertemu dengan Famke yang menyarankan agar Ikal dan Arai tampil di pinggir jalan sebagai manusia patung.

Kemudian Ikal memakai baju ikan duyung yang beratnya hampir 10 kg, dan Arai pun memakai baju kostum yang sama sebagai ikan duyung.

Arai sebagai ibu ikan duyung dan Ikal sebagai anak ikan duyung.

Dari Amsterdam mereka menuju ke Groningen, setelah itu ke Jerman dan mereka tampil sukses di Frankfurt.

Ternyata Jerman masih menghargai kesenian dan turis yang datang.

Kemudian mereka menuju Di Denmark, Swedia, dan Norwegia. Tapi sayang, pertunjukan mereka kurang diapresiasi warga di sana.

Lalu mereka sampai di Kota Helsinky di Finlandia. Di kota ini persediaan uang mereka sangat tipis.

Melalui koneksi internet dapat diketahui perkembangan teman kuliah mereka lainnya.

MVRC Manoj dan Gonzales sedang bersenang-senang di Belanda.

Sementara Townsend sudah berada di Belfast, Irlandia. Uangnya sedang banyak, dan makin sering menyindir Stansfield yang berada di kota tua Zalsburgh di Austria.

Setelah membandingkan, ternyata Ikal dan arai menempuh jalur yang kurang beruntung.

Karena semakin Eropa Timur, pertunjukan kesenian jalanan yang mereka tampilkan semakin tak laku.

Kemudian Ikal dan Arai mulai menyusuri Rusia. Pertama memasuki Kota Belomorsk tanpa uang sama sekali.

Setelah tampil tiga jam, sampai kaki bengkak tapi tak seorangpun memberikan uang.

Dengan wajah lesu dan lelah mereka lalu menumpang bus sayur atau dengan melompat diam-diam ke gerbong kereta minyak.

Tapi akhirnya mereka sampai juga ke kota Moskow.

Mereka lalu menuju Syzran. Mereka ditangkap polisi dan diusir ke batas desa.

Mereka dicampakan dalam keadaan lapar, mulut bengkak dan hati yang terluka.

Lalu mereka sampai pada bagian ujung dari Rusia yaitu di Taiga Siberia, bagain dari Siberia.

Mereka menumpang gerbong yang mengangkut bahan bangunan, tapi tengah malam mereka diturunkan begitu saja karena ada inspeksi.

Setelah itu Ikal dan Arai berjalan dan bingung menghadapi perempatan tanpa kompas dan peta.

Tiba-tiba Ikal teringat akan navigator alam; Weh! Ikal mengeja bintang satu persatu. Weh dulu mengajari Ikal membaca langit.

Setelah itu Ikal dan Arai berbalik kebarat, menuju Olovyannaya di atas tapal Mongolia.

Setiap melewati perkebunan Zaitun mereka melamar kerja membantu petani memetik buahnya demi upah beberapa butir kentang.

Mereka melewati kampung demi kampung.

Kebanyakan kampung yang dilewati adalah tambang yang telah diabaikan.

Ketika berada di pedalaman, mereka menemui hal-hal yang aneh seperti orang muslim beribadat seperti Nasrani dan orang Nasrani fasih membaca al-quran.

Kemudian juga ada masyarakat yang memuja kambing, memandikan bayi yang baru lahir dengan darah lembu, dan melemparkan ari-ari keatas atap.

Mereka juga menemui komunitas yang patriakis, para istri harus tidur di lantai dua gedung jerami dan hanya dikunjungi para suami jika diperlukan.

Berangkat dari Olovyannaya, lalu Ikal dan Arai berangkat ke Persia atau Iran yang tidak jauh dari Mongolia.

Setelah itu mereka pergi ke Yunani. Untungnya di negara ini mereka mendapatkan uang yang banyak ketika mempertunjukkan kesenian jalanan mereka.

Tapi sayang, nasib buruk mereka alami ketika berada di negara Balkan seperti Bosnia, Serbia, dan sekitarnya.

Di negara-negara ini mereka sangat takut akrena suasana perang masih terasa. Sehingga mereka tidak bisa menghasilkan uang, lalu persediaan finansial mereka terkuras.

Setelah itu mereka menuju Rumania, mereka mengalami nasib yang lebih buruk.

Suatu malam Ikal dan Arai tidur di sebuah halaman TK, tiba-tiba Ikal terbangun karena backpak yang digunakan sebagai bantal ditarik oleh tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan dengan seringai mengancam mereka.

Lalu seketika ada bapak tua yang dari tadi mengamati mereka, dan datang menolong dari kegelapan.

Lelaki tua itu mengambil kepala slang tabungnya dan menyemprot para penjahat dengan gas pestisida. Lalu para perampok lari tunggang langgang

Setelah itu bapak tua tersebut menemui Ikal dan Arai lalu tersenyum bersahabat, ia mengulurkan tangan menyalami dan berkata dengan logat jawa: “Nhama sayha Toha, ashli Purbhalingga.”

Ikal dan Arai sangat terkejut. Ternyata di kota kecil terpencil di pelosok Rumania ada orang Indonesia.

Akhirnya mereka sampai di Austria dan bertemu dengan seorang tukang kebab bernama Mashood untuk menanyakan dimana ada Masjid.

Ketika Sholat, Arai menuai karma masa kecilnya ketika sedang shalat berjamaah.

Ketika imam sampai pada ujung surat al-fatihah, kekhusyuan jamaah jadi buyar dan terkejut mendengar jeringan panjang “aaamiieeenn….” oleh Arai.

Ternyata dia melolong seperti dulu yang sering dilakukan di masjid ketika di kampung.

Suara Arai bukan hanya mengangetkan dapi juga mencengangkan, karena mazhab yang mereka anut hanya mengucapkan amin dalam hati.

Setelah itu mereka sampai di Venesia Italia. Ikal dan Arai melihat berbagai pertunjukan di negara ini.

Perjalanan hampir berakhir. Mahasiswa teman-teman Ikal dan Arai yaitu MVRC Manoj, Gonzales, Ninonh, Stansfield, dan Townsend, membuat rencana untuk bertemu di Spanyol. Kemudian mereka pulang ke Paris naik kereta malam.

Setelah berada di Paris mereka kembali seperti biasa yaitu mengikuti perkuliahan.

Tapi setelah beberapa lama kuliah, ada kejadian yang mengejutkan yaitu ketika Katya menelpon memberi kabar tentang Arai.

Ikal lalu datang dan melihat Arai digotong, hidungnya berdarah dan masuk ICU.

Ternyata Arai terserang Asthma Bronchiale yaitu penyakit yang dulu menyebabkan meninggalnya ayah Arai waktu masih muda.

Oleh karena itu akhirnya Arai harus dipulangkan ke Indonesia. Tinggallah Ikal yang merasa sedih karena berpisah dengan Arai.

Waktu pun berlalu, Ikal pun melanjutkan kegiatan kuliah. Lalu Maurent memanggil Ikal dan memberi tahu bahwa Prof Turnbull akan pensiun dan pulang kampung ke Sheffield Inggris.

Supaya Ikal tidak kehilangan waktu, Maurent menyarankan Ikal harus mengikuti exchange program dan pindah ke Sheffield Hallam University.

Setelah itu Ikal pergi ke Inggris tapatnya di Terminal Victoria, London. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus antar kota ke Sheffield.

Selang beberapa bulan Ikal pun selesai mengerjakan risetnya. Dia diundang minum teh oleh keluarga Turnbull ke rumahnya dan untuk menandatangani riset Ikal.

Rumah Profesor Turnbull berada jauh di pinggir Kota Sheffield. Ketika sampai di rumah profesor tersebut, ternyata beliau tidak berada di rumah.

Karena lama menunggu, akhirnya Ikal memutuskan untuk berkeliling desa dengan menaiki bus desa yang sudah tua.

Ketika berada di bus Ikal menikmati pemandangan melalui jendela selama satu jam lebih. Kemudian bus menaiki bukit yang landai.

Ketika bus melewati sebuah tikungan, dedaunan cemara tersibak dan seketika itu pula tersaji pemandangan yang mengingatkan Ikal pada sesuatu.

Perjalanan bus makin dekat dengan desa yang dipagari tumpukan batu bulat berwarna hitam.

Ikal terpesona melihat rumah-rumah penduduk berselang seling. Ikal merasa menembus lorong waktu dan terlempar dalam negeri khayalan yang telah lama hidup dalam hatinya.

Masih terperanjat, Ikal meminta sopir bis untuk berhenti. Ikal kembali mengenang dan mengingat keindahan tempat ini selama belasan tahun yang selama ini menjadi impian.

Dia masih terkesima bahwa impian tersebut sudah dapat dia lihat dengan mata kepala sendiri.

Seolah tak percaya, Ikal lalu bertanya pada seorang ibu untuk memberi tahu nama tempat ini. Seketika sang ibu pun menjawab: “ sure lof, it’s Edensor…”

Inilah Edensor, sebuah tempat yang dulu hanya dilukiskan keindahannya oleh A Ling, seseorang yang telah memberi kekuatan dalam perjalanan hidup Ikal.

Sekarang Ikal sudah berada di Edensor, bukan mimpi tapi kenyataan.

Sinopsis Novel Hulubalang Raja

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Novel Hulubalang Raja: kejadian di pesisir Minangkabau tahun 1662-1667

Karya: Nur Sutan Iskandar

Ringkasan Umum:

Pada zaman ketika masih banyak kerajaan, sering terjadi perjodohan dan pernikahan antar kerajaan.

Tak jarang juga sering terjadi peperangan di antara mereka yang diakibatkan oleh pernikahan tersebut.

Tapi ada juga kerajaan yang berperang justru menjadi damai karena adanya pernikahan

Seorang Putri Raji Dihulu bernama Ambun Suri.  Dia adalah seorang wanita yang cantik, sopan tutur bahasa, dan akhlaknya mulia.

Setelah Ambun Suri dewasa, sang Raja mengadakan sebuah kontest, dan mengundang para bangsawan di sekitar Kampung Hulu Inderapura untuk diseleksi dan dipilih sebagai menantu dan suami bagi putrinya.

Proses seleksi hampir selesai, tapi tidak ada yang lolos dan memenuhi kriteria Raja Dihulu.

Namun ada seorang bangsawan yang berasal dari Kota Hilir Inderapura, namanya Sultan Muhammad Syah

Karena Sultan Muhammad Syah merupakan raja yang lebih berkuasa daripada Raja Di Hulu, dengan berat hati Ambun Suri mau menerima calon suami tersebut dan dia ingin berbakti kepada orang tuanya, walau dia tidak tertarik sedikit pun pada Sultan tersebut.

Peristiwa ini menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Mereka tahu Sultan Muhammad Syah adalah sultan yang tamak yang menurut mereka tidak patut menikah dengan putri cantik yang berbudi tersebut.

Istri pertama Sultan Muhammad Syah yaitu Putri Kemala Sari juga merasa iri dan tidak merelakan suaminya memperistri Ambun Suri, yang dulu menjadi teman sepermainannya.

Putri Kemala Sari juga ingin menggagalkan perkawinan tersebut. Dia mengajak Ambun Suri mandi di sungai.

Di tempat itu dia mencelakakannya sehingga Ambun Suri yang baik hati tersebut hanyut tenggelam.

Masyarakat dan petugas kerajaan dikerahkan untuk menjadi Putri Ambun Suri. Namun semua usaha pencarian mayatnya gagal.

Kakak Ambun Suri yang bernama Sutan Ali Akbar dengan gelar Raja Adil, menjadi marah ketika dia mengetahui kematian adiknya adalah perbuatan istri pertama Sultan Muhammad Syah.

Akhirnya dia menyerukan perang. Dua kerajaan tersebut memulai pertikaian dan konfrontasi langsung.

Dengan kelicikannya, Sultan Muhammad Syah lalu meminta bantuan kompeni, yang menambah rasa marah Raja Adil.

Tapi akhirnya Raja Adil kalah, dan daerahnya dibumihanguskan. Penduduknya dibinasakan, beserta kedua orang tua Raja Adil.

Dia sendiri mundur beserta pasukannya untuk menyusun kekuatan kembali.

Di lain waktu dan tempat, tersebutlah seorang pemuda bernama Sutan Malakewi.

Dia merantau mengadu peruntungan. Dia meninggalkan kampungnya karena kegemarannya menyabung ayam telah menghabiskan kekayaan orang tuanya, yang kemudian tidak mau lagi memberinya uang.

Pemuda ini lalu bertemu dan bergabung dengan sekelompok saudagar. Mereka kemudian diserang penyamun.

Sutan Malakewi berhasil meloloskan diri, dan ditolong oleh Putri Rubiah yang memiliki putri cantik yang bernama Sarawaya.

Kemudian Sutan Malakewi diantar menghadap Orang Kaya Kecil, dia punya sering bekerja sama dengan kompeni Belanda.

Orang Kaya Kecil menganggap Sutan Malakewi sebagai anaknya sendiri. Terlebih karena setelah dia tahu bahwa Sutan Malakewi sering menumpas orang-orang Pauh yang sering melakukan penyerangan terhadap Padang, yaitu pusat kekuasaan kompeni di pesisir Minangkabau.

Sutan Malakewi meneruskan kerjasama yang makin erat dengan kompeni.

Pada saat itu kompeni tidak hanya bermusuhan dengan raja-raja setempat, tetapi juga dengan Aceh yang masih berkuasa di daerah utara pesisir Minangkabau.

Gelar “Hulubalang Raja” kemudian diberikan pada Sutan Malakewi, di selalu mau untuk menumpas musuh-musuh kompeni.

Dia berhasil menghancurkan musuh-musuhnya, kecuali Raja Adil yang gigih bertahan.

Hulubalang Raja kemudian mencari adiknya yang dikabarkan diculik oleh Raja Adil.

Dia meninggalkan Orang Kaya Kecil dan Putri Sarawaya, yang kini sangat mencintainya. Hulubalang Raja masuk ke daerah Raja Adil dengan menyamar.

Tapi penyamarannya terbongkar. Dia kemudian di bawa ke hadapan Raja Adil.

Hulubalang Raja kemudian terkejut karena ternyata adiknya Adnan Dewi telah menjadi istri Raja Adil.

Raji yang menjadi musuhnya selama ini ternyata iparnya sendiri.

Raja Adil dan Hulubalang Raja kemudian melupakan permusuhan mereka dan berdamai.

Sinopsis Novel Negeri 5 Menara – Ahmad Fuadi

Sastra angkatan 2000 – an

Karya: Ahmad Fuadi

Ringkasan umum:

Berkisah tentang 6 orang sahabat yang bersekolah di  Pondok Madani (PM) Ponorogo Jawa Timur.

Mereka dengan kerja keras dan sungguh-sunggu akhirnya berhasil meraih mimpi yang pada awalnya dinilai terlalu tinggi.

Mereka adalah Alif Fikri Chaniago dari Maninjau – Sumatra Barat, Raja Lubis dari Medan, Said Jufri dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso Salahuddin dari Gowa

Ada seorang anak di sebuah kampung yaitu Desa Bayur terletak di Maninjau, Sumatera Barat. Nama anak tersebut adalah Alif, dia baru lulus SMP.

Alif ingin melanjutkan pendidikan di SMA Negeri dan kemudian ke ITB Bandung untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang pakar dan ahli iptek.

Ia tak ingin seumur hidupnya tinggal di kampung, dan mempunyai cita-citauntuk merantau.

Ia ingin melihat dunia luar dan ingin sukses seperti sejumlah tokoh yang ia baca di buku atau mendengar cerita temannya di desa.

Tapi orangtuanya menginginkan Alif mendalami ilmu agama dan menjadi seseorang yang sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Melalui Amak (ibu) nya, Alif diminta untuk meneruskan pendidikan ke pesantren yaitu Pondok Madani di sudut kota Ponorogo, Jawa Timur.

Kenginan itu juga merupakan keinginan ayahnya, yang diperkuat oleh pernyataan dari  dari ”Mak Etek” atau paman yang sedang kuliah di Kairo.

Keluarga menginginkan Alif bisa bermanfaat bagi masyarakat seperti Bung Hatta dan Buya Hamka.

Tapi dalam diri Alif, ingin menjadi seorang dengan teknologi tinggi seperti B.J Habibie.

Dengan setengah hati, akhirnya Alif berangkat juga ke Pondok Pesantren saran dari keluarganya,

dia lalu pergi bersama ayahnya naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah pesantren yaitu Pondok Madani di sudut kota Ponorogo, Jawa Timur.

Ketika sampai, kesan pertama yang Alif dapatkan yaitu tempat yang kampungan dan banyak aturan yang ketat dan mirip penjara.

Apalagi ada keharusan mundur setahun untuk kelas adaptasi. Alif menguatkan hati untuk mencoba menjalankan setidaknya tahun pertama di Pondok Madani ini.

Tapi seiring berjalannya waktu, Alif mulai bersahabat dengan teman sekamarnya, Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, dan Dulmajid dari Madura.

Keenam bocah yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Madani ini setiap sore mempunyai kebiasaan unik.

Yaitu menjelang Azan Maghrib berkumpul di bawah menara masjid sambil melihat ke awan.

Ketika membayangkan awan itulah mereka melambungkan impiannya. Misalnya Alif mengaku jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, sebuah negara yang ingin ia kunjungi kelak lulus nanti.

Begitu pula lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir dan Benua Eropa.

Berawal dari kebiasaan berkumpul di bawah menara masjid tadi, mereka berenam pun menamakan diri Sahibul Menara, artinya pemilik menara.

Di Pondok Madani, ada ungkapan luar biasa yang selalu diingat oleh Alif.

Ungkapan itu disampaikan salah seorang guru bernama Ustad Salman yaitu  “Man Jadda Wa Jada”  artinya siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.

Ungkapan tersebut sangat bermakna bagi enam sahabat ini. Kemudian mereka memiliki impian masing-masing dan bertekad meraihnya.

Di Pondok Pesantren mereka dididik sangat ketat. Mulai dari keharusan bicara dalam Bahasa Inggris atau Arab, dan akan dihukum kalau bicara Bahasa Indonesia.

Mereka juga dilatih dengan disiplin yang sangat tinggi. Semua siswa harus tepat waktu dalam segala aktivitas.

Kalau terlambat beberapa menit saja, maka akan langsung mendapatkan hukuman.

Dari proses pembelajaran dan ungkapan luar biasa tadi di Pondok Madani, enam sahabat pemilik menara tersebut selalu berpikir visioner dan bercita-cita besar.

Mereka masing-masing memiliki ambisi untuk menaklukan dunia. Mulai dari tanah Indonesia, lalu ke Amerika, Eropa, Asia, atau hingga Afrika.

Dibawah menara Madani, mereka berjanji dan bertekad untuk bisa menaklukan dunia dan mencapai cita-cita;

Dan menjadi orang besar yang bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Tapi sayang, salah satu dari keenam bersahabat tersebut yaitu Baso terpaksa harus keluar dari pesantren.

Ia meninggalkan Pondok Madani saat kelas lima untuk menjaga neneknya dan berusaha menghafal Al-Qur`an di kampung halamannya.

Waktu terus berjalan, Sahibul Menara yang lain terus menikmati pendidikan di Pondok Madani.

Hari ke hari terasa makin indah bagi mereka. Makin banyak manfaat yang mereka peroleh, baik dari persahabatan mereka, maupun dari sistem pendidikan yang sangat baik.

Hingga akhirnya mereka bisa meraih semua mimpi yang selama ini hanya bayangan.

Mereka bisa membuktikan bahwa mereka bisa menaklukkan seluruh benua, ada Amerika, Eropa, Asia, Afrika

Mereka kemudian bernostalgia dan saling membuktikan impian mereka ketika melihat awan di bawah menara masjid Pondok Pesantren Madani, Jawa Timur.

Ternyata bagi mereka menempuh pendidikan di pesantren mempunyai makna indah yang tak ternilai.

Alif yang tadinya beranggapan bahwa pesantren adalah konservatif, kuno dan kampungan,  ternyata adalah salah besar.

Pendidikan pesantren sangat menjujung disiplin yang tinggi, sehingga mencetak para santri yang bertanggung jawab dan komitmen.

Apalagi di pesantren jiwa dan gelora muda para santri disulut dan di bakar oleh para ustadz agar tidak gampang menyerah.

Secara rutin setiap pagi sebelum masuk kelas, selalu didengungkan kata-kata sakti ”Manjadda Wajadda” jika bersungguh-sungguh akan berhasil.

Di samping itu semua ada juga yang lebih penting yaitu selalu mengingat niat tulus orang tua, yaitu:

“Mempunyai anak yang sholeh dan berbakti adalah sebuah warisan yang tak ternilai, karena bisa mendoakan kedua orangtuanya mana kala sudah tiada,”

Itulah kalimat yang sering dikenang oleh Alif ketika mengingat keinginan Amak nya di kampung dulu.