Sinopsis Hikayat Bayan Budiman

Sastra Angkatan Pujangga Lama.

Ringkasan Umum:

Hikayat Bayan Budiman adalah kumpulan dari cerita dan kisah yang mengajarkan kebaikan serta teladan.

Semua cerita dan kisah disampaikan secara menarik dan bisa membuat orang terpana.

Diceritakan oleh seekor Burung Bayan dengan maksud untuk membuat seorang perempuan terlena pada cerita, dan terlupa untuk bertemu dan berselingkuh dengan laki-laki lain yang bukan suaminya.

Bismillahirrohmaanirrohiim. Dikisahkan pada Kerajaan Ajam. Ada seorang saudagar yang bernama Khojan Mubarok.

Dia adalah seorang saudagar yang cukup sukses.

Karena tidak memiliki anak, Saudagar tersebut sering berdoa kepada Tuhan. Dia juga mempunyai nazar untuk memberi makan kepada kaum fakir miskin dan darwis.

Atas karunia Allah swt maka nazar sang saudagar itu terkabul. Istri saudagar Khojah Mubarok hamil dan melahirkan anak laki-laki yang tampan.

Betapa senang hati Khojah Mubarok, lalu dia memberi nama anaknya tersebut yaitu Khojah Maimun.

Sebagai bentuk rasa syukur, Khojan Mubarok memberi anaknya pelajaran mengaji dengan seorang guru bernama Mu’allim Sabian.

Khojan Maimun lalu menjadi anak yang yang baik dan memiliki akhlak yang mulia.

Setelah Khojan Maimun menginjak usia  lima belas tahun, Khojan Mubarok menikahkan anaknya dengan anak perempuan saudagar kaya yang sangat cantik bernama Bibi Zaenab.

Karena Khojan Maimun adalah seorang saudagar, ia ingin mengembangkan usahanya tersebut dengan pergi berdagang dengan cara berlayar.

Sebelum berangkat berlayar, Khojah Maimun membeli dua ekor burung sebagai penghibur dan teman untuk isterinya ketika dia pergi berlayar.

Burung pertama adalah Burung Bayan yang jantan, dan yang kedua adalah Burung Tiung yang betina.

Khoijah Maimum meninggalkan pesan pada istrinya supaya selalu berdiskusi dengan dua ekor burung tersebut sebelum melakukan segala sesuatu.

Karena kalau melakukan sesuatu yang salah, maka akan terjadi akibat yang sangat buruk pada rumah tangga mereka.

Khoijah Maimum lalu pergi berlayar. Bibi Zainab tinggal di rumah dan ditemani oleh kedua burung tadi.

Hati Bibi Zainab merasa sedih karena jauh dari suaminya, ia melewati hari dengan termenung.

Ketika duduk termenung, tiba-tiba lewatlah seorang pemuda di depan rumah Bibi Zainab.

Pemuda tersebut mengendarai kuda dan secara tidak sengaja terpesona oleh kecantikan wajah Bibi Zainab.

Pemuda itu lalu tersenyum, dan Bibi Zainab membalas dengan senyuman pula.

Ternyata dia adalah putra raja. Karena punya pengaruh, pemuda tersebut meminta bantuan pada seorang wanita tua supaya anak raja tersebut dapat berjumpa dengan Bibi Zainab.

Waktu pun berlalu, dengan perantara wanita tua tadi, akhirnya disusunlah suatu rencana pertemuan antara putra raja dengan Bibi Zainab.

Sebelum berangkat, pada suatu malam Bibi Zainab berbicara pada burung tiung bahwa dia akan bertemu dengan Putra Raja.

Dengan bijaksana Burung Tiung berkata pada Bibi Zaenab bahwa rencana pertemuan Bibi Zainab dengan Putra Raja adalah melanggar aturan Allah SWT.

Burung Tiung melarang Bibi Zainab untuk pergi.

Bibi Zaenab menjadi murka atas kata-kata burung tiung tadi. Kemudian dia melempar burung tersebut dengan keras, akhirnya sang burung pun mati.

Setelah itu Bibi Zaenab melanjutkan rencananya untuk pergi. Tidak jauh dari tempat burung tiung tadi, dia melihat Burung Bayan.

Selama peristiwa yang terjadi pada burung tiung, burung bayan berpura-pura tertidur.

Sebenarnya burung bayan terkejut mendengar rencana Bibi Zaenab yang akan pergi menemui anak Raja, dan sang burung tahu rencana tersebut dilarang oleh agama.

Tapi burung tersebut tidak hilang akal, dan tidak mau juga mati seperti burung tiung tadi.

Kemudian Burung Bayan menyapa dengan suara cukup lantang dan berkata,

“Wahai Bibi Zaenab yang cantik, silahkan  pergi menemui anak Raja itu secepatnya”

Kemudian Burung Bayan mengatakan bahwa Bibi Zainab boleh pergi menemui putra raja yang sedang menunggu Bibi Zainab yang cantik.

Burung Bayan bercerita bahwa manusia boleh hidup berbahagia dan bersenang-senang di dunia ini.

Dengan cara yang menarik, Burung bayan juga berkata bahwa setiap manusia menginginkan kesenangan, kedudukan tinggi, dan juga kekayaan.

Ini berbeda dengan dirinya yang hanya seekor burung yang tidak bisa kemana-mana dan hanya hidup dalam sangkar.

Bibi Zainab merasa senang mendengar kata-kata indah tadi. Sang burung bayan pun melanjutkan tentang indahnya hidup bagi seorang manusia dengan menikmati keindahan yang ada di dunia ini.

Hingga akhirnya Bibi Zainab menjadi terlena akan cerita Buyung Bayan tadi dan menjadi lupa bahwa dia akan pergi bertemu dengan Putra Raja.

Besok harinya Bibi Zainab juga punya rencana untuk bertemu Putra Raja.

Sebelum berangkat, Burung Bayan juga menceritakan kisah lain yang sangat menarik pada Bibi Zainab.

Karena indahnya dan serunya cerita Burung Bayan, lagi-lagi Bibi Zainab menjadi terlena dan juga lupa akan bertemu dengan Putra Raja.

Hal yang sama juga terjadi pada hari-hari berikutnya. Setiap Bibi Zainab mau berangkat untuk bertemu Putra Raja,

dan berpapasan dengan Burung Bayan, sang burung selalu menyajikan cerita yang menggugah hati,

bukan hanya alur cerita yang menarik tapi banyak juga tauladan dan kisah bermanfaat.

Hari-hari terus berlalu, sampai akhirnya ada 24 kisah yang diceritakan dengan baik oleh Burung Bayan.

Artinya sudah 24 hari Bibi Zainab menjadi terhanyut dan terhindar dari pertemuan dari pertemuan dengan Putra Raja.

Hingga akhirnya Khojan Maimun pulang dari berlayar dan berniaga. Bibi Zainab bisa menyambut suaminya tanpa ada sesuatu yang buruk terjadi selama dia di rumah.

Artinya Bibi Zainab sudah bisa terhindar dari penyelewangan yang dapat menodai rumah tangga mereka, dan terhindar dari melanggar aturan agama.

Demikianlah Hikayat Bayan Budiman, dengan cerita yang bernilai keindahan sastra tingkat tinggi, dapat menyadarkan Bibi Zainab, dan dapat menegakkan nilai kebaikan dalam agama.

Sinopsis Novel Katak Hendak Jadi Lembu – Nur Sutan Iskandar

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Karya: Nur Sutan Iskandar

Ringkasan umum:

Seorang laki-laki yang berasal dari keluarga kaya menjadi sangat sombong dan suka foya-foya. Sifatnya masih sama walau sudah menikah.

Setelah orang tuanya meninggal, sifatnya juga tidak berubah. Ketika harta warisan orang tuanya habis, dia menjalani hidup yang melebihi kemampuannya.

Seperti kata pepatah “besar pasak daripada tiang”. Sampai ketika anaknya menikah sikap beruknya tetap ada.

Hasilnya adalah istri, anak, dan menantunya jadi menderita. Pada akhirnya istrinya meninggal dunia karena sudah terlalu banyak beban dan malu yang ditanggung akibat perbuatan laki-laki tersebut.

Haji Hasbullah dan Haji Zakaria adalah sahabat dekat. Mereka sudah lama bergaul.

Haji Zakaria mempunyai anak laki-laki bernama Suria dan Haji Hasbullah mempunyai anak perempuan bernama Zubaedah.

Karena merasa dekat, Haji Zakaria datang melamar ke keluarga Haji Hasbullah dengan maksud menikahkan Suria dengan Zubaedah.

Awalnya Haji Hasbullah merasa keberatan karena dia sudah mempunyai calon bagi Puterinya yaitu seorang mantri polisi yang bernama Raden Prawira.

Alasan lain yang membuat Haji Hasbullah tidak setuju menerima lamaran itu karena dia mengetahui sifaf Suria yang angkuh, kasar, pongah, serta suka berfoya-foya.

Mengingat Haji Zakaria adalah sahabat dekat sejak lama, Akhirnya dengan berat hati, Haji Hasbullah menerima lamaran Haji Zakaria yang akan menikahkan anak lelakinya Suria dengan anak Haji Hasbullah yang bernama Zubaedah.

Apa yang diduga Haji Hasbullah selama ini benar-benar terjadi. Dia melihat sendiri bagaimana sifat dan tingkah laku Suria tidak berubah, walau pun sudah menikah.

Apalagi setelah ayahnya wafat, Suria hanya berfoya-foya menghabiskan harta warisan ayahnya.

Zubaedah istrinya tidak pernah diperhatikan. Terlebih lagi, selama tiga tahun, dia pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil.

Bahkan Suria tidak mengetahui ketika istrinya melahirkan anak pertamanya yang bernama Abdullah. Suria pulang ke rumahnya setelah harta warisan ayahnya habis.

Setelah tiba di rumah, Suria menyembah istrinya, memohon maaf atas perbuatannya selama ini, dan berjanji tidak akan mengulangi tindakan yang tidak baik.

Akhirnya permohonan itu dikabulkan Zubaedah, dengan harapan agar suaminya benar-benar telah menyesali perbuatannya dan tidak akan mengulanginya lagi.

Tingkah laku Suria memang berubah, tapi untuk sementara waktu saja. Dia bekerja sebagai juru tulis residen di kabupaten, tapi gajinya kecil, yang tidak dapat mencukupi biaya hidup sehari-hari keluarganya.

Tapi seiring waktu, sifat dan karakter buruknya muncul kembali. Perasaan bangga bahwa dirinya berasal dari keturunan bangsawan yang kaya-raya muncul lagi.

Suria tidak mau kalah dengan mertuanya yang telah menyekolahkan Abdulhalim ke HBS.

Dengan terlalu memaksakan diri, walaupun dengan gaji pas-pasan, Suria mengirim Saleh dan Aminah, kedua adik Abdulhalim bersekolah di HIS Bandung.

Karena keputusan Suria yang dipaksakan dan tanpa perhitungan itu, akhirnya membuat istrinya Zubaedah bingung dan pusing.

Mereka tidak mempunyai biaya yang cukup. Jangankan membiayai sekolah kedua anaknya di HIS, untuk makan sehari-hari mereka mengalami kesulitan.

Tapi Suria tenang-tenang saja yang tidak mau dianggap miskin. Dengan menyekolahkan anak-anaknya di kota, dia merasa bahwa masyarakat akan menganggapnya sebagai seorang bangsawan yang dihormati dan disegani.

Setelah sekian waktu, Zubaedah mengeluh kepada ayahnya Haji Hasbullah tentang tingkah laku Suria. Secara rahasia, dia meminta kiriman uang dari ayahnya.

Kiriman dari ayahnya itu dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, biaya sekolah anak-anaknya, juga dipakai membayar utang-utangnya.

Hampir tiap hari, penagih utang mendatangi rumah mereka. Anehnya, Suria tetap tenang.

Zubaedah yang paling kelabakan karena dialah yang selalu menghadapi para penagih utang yang datang tiap hari, sedangkan Suria hanya bersembunyi saja.

Ternyata Suria menyusun rencana untuk tidak mempedulikan semua itu. Dia yakin akan diangkat menjadi juru tulis.

Suria telah melamar untuk jabatan tersebut dan tinggal menunggu waktu saja.

Karena yakin lamaran kerjanya diterima, Suria berani membeli barang lelangan di kantornya.

Tidak semua barang dibelinya dengan uang kontan, tetapi banyak yang dibeli dengan cara berutang. Hasilnya, utang Suria semakin banyak.

Secara sembunyi-sembunyi Suria juga telah menggelapkan uang kas kantornya.

Tindakan tersebut kemudian diketahui oleh atasannya. Tapi sebelum ditegur oleh atasannya, dia telah mengajukan berhenti bekerja.

Seperti itulah rencana Suria. Setelah berhenti, dia pergi ke rumah anaknya, Abdulhalim.

Seperti yang ia rencanakan, Suria langsung pindah ke rumah Abdulhalim bersama istrinya.

Tingkah laku Suria selama di rumah anaknya tetap buruk, dia bertingkah seolah-olah dialah kepala rumah tangga tersebut.

Abdulhalim beserta istrinya menjadi pusing tujuh keliling dan kebingungan. Kalau menegur ayahnya, mereka tidak berani karena takut durhaka.

Tapi, bila dibiarkan begitu saja, dia merasa kasihan kepada istrinya.

Tapi ada yang merasa sangat malu terhadap tingkah laku Suria adalah istrinya Zubaedah.

Rumah tangga anaknya berantakan akibat ulah suaminya. Karena tidak tahan menahan tekanan batin, Zubaedah jatuh sakit.

Tidak ama kemudian, Zubaedah meninggal dunia dengan membawa hati yang penuh dengan duka nestapa.

Setelah istrinya meninggal, Suria baru sadar dan merasa menyesal atas segala kelakuan yang telah melampaui batas selama ini.

Dia menyesal telah merusak kedamaian kehidupan rumah tangga anaknya.

Suria baru tahu bahwa dialah penyebab kematian istrinya. Oleh karena perasaan malu dan perasaan berdosa yang sangat mendalam,

Akhirnya Suria memutuskan meninggalkan keluarga anaknya, lalu pergi tidak tahu kemana rimbanya.

Sinopsis Novel Maryamah Karpov (Mimpi-mimpi Lintang) – Andrea Hirata

Sastra angkatan 2000 – an

Karya: Andrea Hirata

Ringkasan umum:

Karya ini adalah kelanjutan dari Novel Edensor. Inilah Novel terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Bercerita tentang pencarian A Ling oleh Ikal. Novel ini juga menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pada tiga buah novel sebelumnya.

Pada suatu hari Ayah Ikal yang bernama Seman Said Harun, menerima surat dari Mandor Djuasin bahwa dia naik pangkat.

Pada awalnya kebahagiaan terpancar dari wajahnya, karena baginya hampir tidak mungkin akan naik pangkat.

Tapi sayang, ternyata surat itu salah alamat dan Ayah Ikal tidak jadi naik pangkat.

Lalu terbersit lagi kenangan Ikal ketika masih berada di Prancis. Dia harus belajar sekuat tenaga untuk sidang tesisnya.

Apalagi ketika itu sidang tesis juga bertepatan dengan bulan Ramadhan dan harus menahan haus lapar.

Makanya Ikal mengalami sakit kepala sebelum sidang tesisnya dimulai.

Hakim dari sidang tesis bernama Antonia LaPlagia. Sebelum Ikal masuk ruangan sidang thesis, ada mahasiswa dari negara Georgia yang bernama Ninochka Stronovsky yang dihardik habis-habisan.

Tapi untunglah ketika Ikal menjalani ujian sidang, dia mampu menjelaskan semua hasil risetnya dengan baik.

Kemudian dengan mudahnya dia dinyatakan lulus ujian sidang.

Ikal pun pulang jalan kaki dengan gembira ke apartemennya setelah ujian sidang tersebut.

Seminggu setelah itu, sebelum pulang lagi ke Indonesia, Ikal menyempatkan diri mengunjungi Edensor dan menghadiri Farewell Parties yang diadakan oleh teman-temannnya.

Kemudian Ikal meninggalkan Paris menuju bandara Schippol di Belanda untuk naik pesawat menuju ke Indonesia.

Setelah sampai di Jakarta dia melanjutkan perjalanan dengan naik kapal menuju kampung halamannya ke Belitong.

Akhirnya Ikal sampai di Belitong dan disambut oleh keluarga dan beberapa warga desa.

Ikal bergegas ke rumah dan langsung mencari Ayahnya yang sudah lama sangat ingin dijumpai Ikal dari perjalanannya yang jauh.

Kepala kampung yang bernama Ketua Karmun mendatangi Ikal dan memintanya untuk menjadi ketua panitia penyambutan dokter gigi yang bernama dr. Budi Ardiaz Tanuwijaya.

Setelah bertahun-tahun dia menjadi kepala kampung, akhirnya ada juga dokter yang akan praktik di kampung itu.

Atas bantuan dan kerja Ikal, akhirnya acara penyambutan itu berjalan dengan sukses. Semua warga kampung menjadi senang atas acara ini.

Setelah acara penyambutan itu telah usai, suasana kampung Ikal tetaplah ramai. Acara itu menyisakan kenangan yang indah.

Salah satu kenangan adalah banyak orang-orangnya yang dipanggil dengan sebutan yang lucu dan aneh.

Contohnya adalah panggilan pada Berahim Harap Tenang, dia dipanggil begitu karena dia adalah pemutar bioskop yang memasang slide “HARAP TENANG” pada setiap pergantian rol.

Lalu ada panggilan Kamsir si Buta dari Gua Hantu, karena dia sangat terobsesi pada film Si Buta dari Gua Hantu.

Disamping itu juga ada panggilan Semaun Barbara, San Thong Pompa, Zainul Helikopter.

Serta masih banyak lagi orang yang mendapat panggilan aneh dan lucu akibat kekonyolan yang mereka lakukan.

Pada suatu hari ada sesuatu yang berubah dari Arai. Dia tampil lebih rapi dan tampak lebih ganteng.

Setelah ditelusuri ternyata dia menerima sepucuk surat dari gadis pujaan hatinya yaitu Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum.

Melalui surat itu Zakiah mengabarkan bahwa dia akan pulang ke Belitong dan membolehkan Arai untuk menjemputnya.

Berhari-hari Arai tidak bisa tidur dan terus menyiapkan diri untuk menyambut Zakiah.

Pada hari kedatangan Zakiah. Arai terlihat sangat gugup dan kikuk. Dia hanya berdiri mematung di hadapan Zakiah, tidak bisa berbuat apa-apa.

Sementara itu Ketua Karmun sang kepala kampung terus mimintawarga kampung supaya datang ke Klinik Dokter Diaz untuk memeriksakan giginya.

Banyak upaya yang dia lakukan untuk membujuk warga.

Pada suatu hari Ketua Karmun dapat informasi bahwa Tancap bin Seliman sakit gigi.

Kepala kampung itu menjadi senang, tapi ternyata Tancap bin Seliman tidak mau berobat ke klinik dokter Diaz walaupun pipinya bengkak seperti timun suri.

Kemudian Ketua Karmun mengomel dan marah-marah.

Ternyata bukan hanya Tancap bin Seliman yang sakit gigi. Ikal juga sakit giginya.

Namun Ikal juga tidak mau berobat ke klinik itu karena trauma berurusan dengan dokter yang berpakaian serba putih dan jarum suntik.

Lalu ada kabar tentang Arai yang dihubungi oleh Liaison Officer mereka yang bernama Maurent LeBlanch.

Arai ditawari oleh Liaison Officer untuk melanjutkan studinya sampai tingkat Ph.D.

Ternyata tawaran itu membuat Arai gelisah dan berada dalam dilema.

Di satu sisi dia ingin melanjutkan studi, tapi di lain sisi dia harus meninggalkan Zakiah yang dicintainya.

Setelah beberapa waktu berada dalam pilihan yang sulit, Arai kemudian mengadakan perbincangan panjang dengan keluarganya dan keluarga Zakiah.

Hasilnya adalah Arai akan menikahi Zakiah pada tanggal 16 Mei.

Pada suatu malam Ketua Karmun mendatangi rumah Ikal. Bukan untuk membujuk Ikal lagi agar berobat ke Klinik Dokter Diaz.

Namun dia memberi tahu bahwa orang kampung tumpah ruah di dermaga karena si Maskur yang sering melaut, pulang membawa sesosok jenazah.

Seketika Ikal langsung datang ke dermaga. Ada sebuah tanda dari jenazah yang dikenali Ikal.

Ada rajah kupu-kupu di lengan jenazah itu menandakan dia adalah keluarga A Ling.

Sejak peristiwa ditemukan mayat tersebut, Ikal terus berfikir tentang A Ling dan ingin mencari pujaan hatinya itu.

Sudah lama dia mencari tanda-tanda keberadaan A Ling.

Kemudian Ikal berusaha untuk membuat perahu, dia akan berlayar ke pulau Batuan yang angker itu untuk mencari dan bertemu dengan A Ling.

Usaha Ikal dibantu oleh anggota Laskar Pelangi lainnya. Ikal merasa senang dan beruntung.

Tapi sayang, ternyata Ibu Ikal akhirnya mengetahui rencananya berlayar ke pulau Batuan.

Meskipun Ibu memarahinya, Ikal tetap bersikeras ingin berlayar ke pulau Batuan dengan kapal buatannya yang tentu saja pembuatannya dibantu oleh anggota Laskar Pelangi yaitu sahabatnya Lintang.

Setelah 7 bulan bekerja keras membuat perahu, akhirnya kapal tersebut selesai. Kemudian diberi nama Mimpi-Mimpi Lintang.

Kapal itu siap dipakai untuk berlayar mengarungi ganasnya samudera. Kapal itu akan dipakai oleh Ikal ditemani oleh Mahar, Kalimut, dan Chung Fa.

Dengan naik kapal itu, kemudian Ikal bersama dengan ketiga rekannya berangkat ke Batuan.

Sebelum sampai Batuan, mereka singgah ke rumah Puniai yaitu seorang nelayan karimata yang sangat tua.

Di rumah Puniai itu, dengan bantuan Mahar, untuk pertama kalinya Ikal dapat melihat hantu.

Setelah menempuh perjalanan panjang mengarungi samudera yang penuh akan marabahaya, usaha panjang Ikal membuahkan hasil jua.

Ikal akhirnya berhasil menemukan gadis pujaannya A Ling. Saat itu dia sedang dirawat di sebuah rumah kecil di sebuah pulau sepi seperti kuburan yang termasuk gugusan dari pulau Batuan.

Kemudian Ikal membawa A Ling pulang ke Belitong. Kepulangan A Ling dimanfaatkan Ketua Karmun supaya Ikal mau berobat gigi ke Klinik dokter Diaz.

Kepala kampung itu khawatir klinik akan ditutup karena tidak adanya pasien yang berkunjung.

Ternyata usaha Ketua Karmun berhasil. Sudah setahun lebih Ikal dibujuk untuk berobat gigi tetapi tidak berhasil.

Tapi ketika dibujuk A Ling selama kurang dari 10 menit, Ikal akhirnya berhasil dibujuk.

Gigi Ikal dicabut di Klinik Dokter Gigi Diaz. Pencabutan gigi Ikal digelar dengan sangat meriah dan dihadiri banyak orang.

Dokter Gigi Diaz butuh waktu tidak sampai satu jam untuk mencabut gigi geraham yang tumbuh berantakan di mulut Ikal.

Setelah proses pencabutan gigi tersebut, Ketua Karmun tertawa gembira.

Setelah pencabutan gigi yang meriah itu, waktu pun berganti. Akhirnya Ikal memberanikan diri untuk mohon izin kepada Ayahnya untuk menikahi A Ling.

Ikal sangat mengharapkan persetujuan dari Ayah yang sangat dihormatinya itu. Tapi kenyataan tidak seperti harapan Ikal.

Ternyata Ayahnya tidak mengizinkannya untuk menikahi A Ling yang merupakan gadis Hokian yang sebenarnya adalah gadis Ho Pho itu.

Dengan hati yang tidak menentu, Ikal kemudian menemui A Ling. Mereka lalu saling memandang. Banyak makna tersirat terpancar dari mata mereka.

A Ling pun tahu bahwa Ayah Ikal tidak menyetujui pernikahan mereka. Mereka terdiam di tempat mereka bertemu yaitu di Lapangan Padang Bulan.

Suasana sangat sepi di tempat itu. Seperti senyapnya hati kedua insan yang tidak disetujui untuk menikah.

Tapi Ikal tetaplah seorang anggota Laskar Pelangi yang gigih, juga seorang pemimpi yang teguh berjuang, tak kenal menyerah.

Ikal membulatkan tekad yang sudah ada sejak dulu. Kemudia dia berencana akan mencuri A Ling dari pamannya dan membawa gadis pujaannya untuk melintasi selat Singapura.

Sinopsis Novel Ranah 3 Warna – Ahmad Fuadi

Sastra angkatan 2000 – an

Karya: Ahmad Fuadi

Ringkasan umum:

Novel ini merupakan kelanjutan dari kisah Alif yang baru selesai menamatkan sekolah di Pondok Madani (PM) Ponorogo Jawa Timur.

Dia tetap bermimpi menjadi seperti Bapak B.J Habibie dan bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Alif akhirnya jadi sadar bahwa disamping ungkapan “Man Jadda Wajada”

yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil, ada juga ungkapan lain sebagai pelengkap yaitu “Man Shabara Zhafira” artinya siapa yang bersabar akan beruntung.

Tidak lama setelah tamat dari Pondok Madani, Arif Fikri pun segera pulang ke kampung halaman di Maninjau Sumatra Barat.

Sekarang dia punya sesuatu yang bisa dibanggakan pada orang tua dan masyarakat sekitar, yaitu bisa menguasai Bahasa Arab dan Inggris,

dan yang lebih penting dia bisa menamatkan pendidikan dengan sukses di Pesantren Pondok Madani.

Tapi impiannya masih gemilang seperti dulu, yaitu ingin kuliah Teknik Perbangan di Institut Teknologi Bandung (ITB), dan menjadi seperti mantan presiden Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie.

Satu yang berbeda adalah Alif Fikri ingin merantau ke Amerika Serikat.

Sebelum masuk ITB, dia harus mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).

Tapi sahabat dekatnya sejak kecil yaitu Randai, meragukan kemampuan Alif lulus UMPTN.

Sebelum mengikuti UMPTN, dia tahu ada syarat yang dibutuhkan yaitu ijazah SMA karena dia adalah lulusan Pondok Pesantren bukan SMA.

Oleh karenanya dia akan mengikuti ujian persamaan yang tinggal dua bulan lagi.

Kemudian Alif belajar dengan sungguh-sungguh dan membaca buku-buku SMA yang dia pinjam dari Dasrul, Zalman dan Elva.

Alif sadar bahwa dia tertinggal dalam belajar hitungan dan dan ilmu pasti.

Walau demikian dia masih yakin bisa lulus UMPTN dan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri.

Walau dengan berat hati, akhirnya dia bertindak secara realistis. Karena waktu yang terbatas dan kemampuan yang dia punya saat ini tidak cocok dengan impiannya,

lalu Alif memutuskan mengambil jurusan IPS, artinya dia harus rela tidak jadi kuliah di ITB.

Alif kemudian mengikuti ujian persamaan. Alhamdulillah dia lulus dengan nilai rata-rata 6,5.

Setelah lulus ujian persamaan, kemudian Alif mengikuti UMPTN. Ada beberapa soal yang sama sekali dia tidak tahu jawabannya.

Tapi Alif percaya diri pada dua mata ujian yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Kemudian setelah beberapa waktu, Alif membaca pengumuman hasil UMPTN melalui Surat Kabar Harian Haluan Padang.

Waktu itu koran tersebut dibawa oleh sopir Bis Harmonis.

Alif memeriksa secara hati-hati nomor ujian para peserta UMPTN yang lulus. Ketika melihat nomor ujian 01579, dia bernafas gembira.

Artinya Alif lulus dan diterima pada Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat.

Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, Alif pun berangkat ke Bandung dan akan menginap di tempat kos temannya Randai yang terletak di daerah Dago.

Pada hari pertama mengikuti kuliah, Alif bertemu dengan Profesor Dr. Mochtar Kusumaatmadja yaitu mantan menteri luar negeri Republik Indonesia

Kemudian dia berhasil berjabatan tangan dengan tokoh yang sangat dikenal oleh Alif tersebut.

Di Bandung Alif mengenal seorang perempuan bernama Raisa. Gadis itu juga kuliah di Unpad jurusan Komunikasi. Diam-diam Alif mulai jatuh cinta pada Raisa.

Banyak sekali cobaan, pengalaman, dan tantangan yang dihadapi Alif selama kuliah di UNPAD.

Baru beberapa bulan kuliah, Alif mendapat cobaan yang sangat berat yaitu meninggalnya Ayah Alif.

Kehilangan ayah yang menjadi tulang punggung keluarga membuatnya goyah.

Dia jadi ragu untuk melanjutkan kuliah karena kesulitan biaya, dan mempertimbangkan juga tentang biaya sekolah bagi adik-adiknya.

Alif hampir putus asa, tapi Amak (Ibu) nya terus memberi semangat secara tulus. Alif kemudian membulatkan tekad untuk melanjutkan lagi kuliahnya.

Kemudian Alif berkenalan dengan Bang Togar Perangin-angin, yaitu kakak tingkatnya di majalah kampus.

Lalu Alif pun tertarik pada dunia tulis menulis. Walau ditempa secara keras oleh Bang Togar, tapi Alif tidak kecil hati. Dia tetap menggeluti dunia tulis menulis.

Akhirnya dia berhasil membuat artikel, dan dimuat pada media lokal di Bandung.

Dengan keahlian ini Alif bisa mulai membiayai sendiri hidupnya di tanah perantauan.

Selama kuliah, Alif mencoba mengikuti tes pertukaran pelajar ke Amerika.

Karena memiliki niat dan tekad yang kuat, akhirnya Alif berhasil lolos seleksi dengan berbagai kriteria dan pertimbangan oleh pihak panitia.

Kemudian Alif bisa berangkat ke Benua Amerika yaitu ke Negara Kanada dalam program pertukaran pelajar.

Selain Alif, ada juga mahasiswa Unpad lain yang ikut proram ini yaitu Raisa, Rusdi, Dina, Topo, Sandi, dan Ketut.

Mereka lalu tinggal di sebuah kota kecil di Kanada. Mereka mendapat homestay parent atau Homologue yang bernama Francois Pepin di sebuah kota yang bernama Quebec.

Selama berada di Kanada banyak pengalaman yang Alif dapatkan. Selama dalam perukaran itu Alif dan kawan-kawan akan mempromosikan budaya Indonesia ke masyarakat Canada.

Demikian pula pengalaman yang didapatkan dengan sesama teman-teman kuliah yang sama-sama berada di Kanada.

Mulai canda, tawa, cinta, sedih campur menjadi satu hingga Alif mendengarkan pernyataan dari Raisa secara tidak sengaja yang menyatakan bahwa dia tidak ingin pacaran, tapi dia ingin langsung ke jenjang pernikahan.

Pernyataan Raisa ini yang membuat Alif mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaan cinta pada Raisa melalui sebuah surat.

Kemudian Alif menyimpan surat itu hingga suatu hari nanti.

Setelah satu tahun berlalu, Alif dan teman-temannya yang mengikuti proram pertukaran pelajar di Kanada kembali lagi ke Indonesia.

Mereka pun melanjutkan kuliah lagi di Unpad Bandung.

Beberapa tahun kemudian, Alif pun lulus dari Hubungan Internasional pada Universitas Padjajaran.

Dia mendapatkan nilai yang bagus dan berhasil menyandang gelar sarjana.

Pada hari kelulusan itu, Alif berniat menyerahkan sebuah surat sebagai ungkapan perasaan cinta pada Raisa.

Surat itu sudah disiapkan Raisa sejak lama mulai dari kebersamaan mereka di Kanada.

Tapi siapa menduga, ternyata saat dia ingin menyerahkan surat tersebut, Alif sangat terkejut, dia mengetahui Raisa telah bertunangan dengan Randai.

Walau dengan perasaan yang gundah gulana, akhirnya Alif dengan setengah ikhlas mengucapkan selamat pada mereka berdua.

Sampai beberapa hari setelah wisuda dan mengetahui Raisa akan menikah dengan Randai,

badan Alif menjadi lemas karena masih terkejut mengetahui informasi bahwa wanita yang selama ini dipuja,

akhirnya menikah dengan Randai yaitu teman karib sejak kecil yang selalu bersaing dengannya.

Pada akhirnya Alif bisa menarik kesimpulan selalu di ajarkan di Pondok Madani, yaitu mengikhlaskan.

Itulah satu-satunya cara agar dia bisa mendamaikan dan mententeramkan hatinya.

Sekarang dia sadar bahwa nasihat yang dia dapatkan dari gurunya Kiai Rais ketika belajar di Pondok Pesantren Madani menjadi terbukti.

Bahwa disamping ungkapan “Man Jadda Wajada” yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil, ada juga ungkapan lain sebagai pelengkap yaitu “Man Shabara Zhafira” artinya siapa yang bersabar akan beruntung.

Sinopsis Novel Jalan tak Ada Ujung – Mochtar Lubis

Sastra Angkatan 1950 – 1960 an

Karya: Mochtar Lubis

Ada sebuah keluarga. Kepala keluarga bernama Isa yang bekerja sebagai guru. Istrinya bernama Fatimah.

Kemudian ada seorang anak laki-laki yang bernama Salim yang merupakan anak angkat.

Karena berprofesi sebagai seorang pendidik, Isa sangat dihormati oleh tetangganya.

Tapi dia sangat takut pada perang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pergolakan.

Dalam perjalanan ke sekolah, guru Isa menjadi sangat takut ketika mendengar suara ubel-ubel dan teriakan para serdadu di dekat jalan jaksa.

Kemudian dia sembunyi di sebuah rumah, lalu mengintip dari balik jendela, sampai seorang mendobrak pintu rumah itu dan membuat tubuhnya bergetar.

Setelah itu tentara tadi pergi, Guru Isa bersama orang-orang lain keluar rumah untuk melihat keadaan.

Mereka menemukan seorang Tionghoa tergelatak karena tertembak oleh pasukan tadi.

Melihat darah yang merah mengental mengalir di hadapannya, guru Isa jadi sangat takut.

Walau sudah tiba di sekolah Guru Isa masih merasa takut, lalu dia memainkan biola untuk menenangkan hatinya.

Kemudian datang seorang teman bernama Saleh, mereka main biola cukup lama. Setelah itu mereka pulang, tapi sesampainya di rumah, Guru Isa masih merasa ketakutan.

Ketika menghadiri pertemuan rapat dalam rangka perjuangan revolusi, Guru Isa mengenal Hazil yaitu seorang pejuang muda pada masa revolusi yang pandai bermain biola dan seorang komponis.

Dari rapat tersebut Guru Isa mendapat tugas sebagai kurir (pengantar) senjata dan surat-surat di dalam kota Jakarta.

Dalam hati Guru Isa ingin menolaknya tetapi tidak mau dibilang pengecut. Karena terus didesak, akhirnya dengan sangat terpaksa ia menerimanya.

Setelah itu Guru Isa dan Hazil bertugas mengambil senjata dan bom tangan yang disimpan di daerah Asam Reges.

Karena butuh kendaraan untuk mengangkut, lalu mereka meminjam truk pada Tuan Hamidy dengan sopirnya bernama Abdullah.

Di Asam Reges mereka bertemu Rakhmat yaitu seorang pemuda yang berani dan bersemangat sama seperti Hazil.

Kemudian senjata dan bom mereka simpan di Manggarai, lalu di selundupkan ke Kerawang.

Walau berjalan dengan baik, tapi ketakutan yang melanda guru Isa sangat membuatnya tersiksa karena baru pertama kalinya ia ikut berjuang dalam kemerdekaan.

Pada suatu hari Guru Isa merasakan sakit ditubuhnya. Tubuhnya sangat panas hingga Guru Isa tidak dapat keluar dari kamarnya.

Lalu Hazil menjenguk ke rumahnya. Disana Hazil melihat Fatimah dia terlihat tertarik kepadanya.

Peristiwa itu menjadi awal dari perselingkuhan Hazil dan Fatimah. Karena setelah menikah selama enam bulan guru Isa tidak dapat memberikan kepuasan secara batin kepada isterinya.

Guru Isa tidak mengetahui hubungan mereka tadi, dia tidak curiga mengapa setiap hari Hazil pergi ke rumahnya.

Hingga pada suatu hari ketika Guru Isa pulang dari sekolah dia sangat lelah dan merebahkan tubuhnya di atas kasurnya,

tapi dia menemukan pipa di balik bantalnya, dan dia tahu pipa itu adalah milik hazil.

Walau Guru Isa amat marah, tapi ia lebih memilih untuk diam. Karena kalau dia bertanya,

dia akan tahu apa yang diduga akan terjadi, itu akan membuatnya jadi lebih menderita.

Setelah perjanjian Linggar Jati, tentara Inggris meninggalkan Indonesia  dan membuat masyarakat lega dan tenang karena tidak ada lagi perang.

Begitu juga dengan Guru Isa yang merasa senang, karena rasa takutnya selama ini menjadi berkurang.

Tapi suasana tenang ini tidak berlangsung lama, karena tentara Belanda kembali datang ke Indonesia menggantikan tentara Inggris.

Lalu Guru Isa, Hazil, dan Rakhmat merencanakan pemberontakan besar dan akan menyerang serdadu Belanda di sebuah bioskop yang bernama Rex.

Setelah film selesai diputar, Hazil dan Rakhmat  meledakkan dan melemparkan bom di depan pintu masuk bioskop tersebut.

Akibatnya beberapa serdadu Belanda terluka akibat ledakan bom. Lalu mereka bertiga pulang ke tempat masing-masing.

Setelah itu Guru isa mengamati keadaan di luar bioskop, tapi dia sangat takut ketika melihat polisi militer datang.

Pemberontakan itu membuat Guru Isa merasa sangat ketakutan setiap hari, seandainya Rakhmat atau Hazil tertangkap dan mengatakan bahwa Guru Isa ikut dalam pengeboman di Bioskop Rex.

Lalu ada berita bahwa salah seorang pelempar granat telah ditangkap, mendengar berita itu Guru Isa langsung pingsan dan jatuh sakit.

Setelah tiga hari berbaring di tempat tidur, akhirnya Guru Isa bisa bangun dari tempat tidurnya. Setelah itu juga dia ditangkap oleh polisi.

Bersama Hazil, Guru Isa dipaksa memberi informasi siapa saja yang terlibat dalam pengeboman di bioskop Rex.

Karena mereka tetap tidak mau memberi tahu di mana Rakhmat bersembunyi, akhirnya mereka berdua disiksa.

Mereka sadar bahwa mereka akan mati karena terus disiksa. Guru Isa terus berjuang menahan siksaan.

Dari peristiwa ini  Guru Isa baru merasakan sifat laki-lakinya dan menemukan arti kehidupan yang nyata.