Sastra dalam Berita
Dunia sastra pertunjukan di Kota Solo kembali memantik perhatian publik hari ini dengan gelaran Festival Monolog Jalanan yang memanfaatkan situs-situs bersejarah sebagai panggung.
📰 Rangkuman Jurnalistik (5W+1H)
| Aspek | Keterangan |
| Apa (What) | “Festival Monolog Bhumi Solo,” sebuah seri pertunjukan monolog yang mengangkat tokoh dan peristiwa sejarah lokal Surakarta. |
| Kapan (When) | Berlangsung sepanjang hari ini, Jumat, 5 Desember 2025, dan berlanjut selama akhir pekan. |
| Di Mana (Where) | Di sekitar kawasan Keraton Surakarta dan Benteng Vastenburg. |
| Mengapa (Why) | Kegiatan ini viral karena berhasil mengubah situs sejarah yang statis menjadi panggung seni pertunjukan yang hidup dan interaktif. |
| Bagaimana (How) | Seniman bekerja sama dengan sejarawan lokal untuk menulis dan mementaskan naskah sejarah yang akurat secara naratif. |
| Siapa (Who) | Penyelenggara adalah Dewan Kesenian Kota Solo bekerja sama dengan ratusan seniman teater Jawa Tengah. |
🎯 Tujuan dan Manfaat
Tujuan utama adalah merevitalisasi naskah monolog bertema sejarah lokal dan menghidupkan kembali minat publik terhadap seni teater, khususnya di ruang terbuka.
Manfaatnya termasuk edukasi sejarah yang mendalam bagi penonton, pembukaan lapangan apresiasi bagi seniman monolog, dan penguatan identitas Kota Solo sebagai pusat budaya dan seni pertunjukan Jawa.
📜 Karya Sastra yang Ditampilkan
Karya utama yang mendapat sorotan adalah Naskah Monolog tentang perjuangan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) serta monolog-monolog adaptasi dari serat-serat Jawa kuno yang menceritakan kehidupan abdi dalem Keraton.
Semoga peristiwa sastra diatas dapat melepaskan dahaga akan bahasa nan indah menawan, dan menceriakan hidup yang lebih kaya makna.

